salah satu alasan kenapa EXO jarang muncul di variety show, takut ke spill semua kelakuan si ica 😭🔥
MC : Suho, kamu bilang EXO sangat sukses tapi kalian diabaikan oleh SM?
Kai : apa ini?
Suho : aku agak kecewa.
Kai : kecewa ke agensi?
Suho : betul, contohnya saat EXO sukses dengan Growl, kami syuting MV di luar negeri dan sepertinya mereka menginvestasikan banyak uang untuk kami, tapi akhir-akhir ini semuanya sangat sederhana, itu agak mengecewakan tapi agensi mengatakan kepada kami bahwa kami akan bergaya minimalis.
MC : itu yang mereka katakan saat kamu tidak setuju?
trus Suho bilang biasanya leader dapet suite room, tapi pas konser di indo dapet kamar biasa 😭🥹
fatimah🥺🥺😭😭😭😭😭😭 doa baik dari seluruh rakyat indonesia buat kamu😭😭😭😭 Allah kasih penjagaan aamiin😭😭 semoga gak kapok menyuarakan suara kami😭😭😭
serem bgt njir, beginilah wujud komunikasi negara ke rakyat 😐
ada tulisan cantik bgt, kira-kira isinya begini:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yg dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu ga perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..”
di tele ternyata ada channel yg disitu isinya konten exo lengkap dari exo ladder, gbrb, konser exhorizon, kaion, reverie baekhyun, exoverse, smtown, lengkap bgt pokonya yg ada member exonyaa mana sub indo jugaa
tau gak lu kenapa lu kesepian? KARENA LU KLASIS DAN ELITIS. ruang dan interaksi lu kurasi, lu gatekeep, lu itung untung rugi. trus lu heran kenapa lu gapunya real friends dan cuma punya circle buat boosting social status?
anjg gw lg makan di resto trs deket gw ada anak sma lagi pacaran, cowonya bilang “sebenernya aku mau ajak ke tempat yang lebih jauh, tapi bensin sekarang mahal” YA ALLAH ADEKK KASIAN BGT PACARANNYA DI INDONESIA 😭
Guys, ada fenomena di dunia kerja sekarang yang paling membingungkan generasi tua tapi paling masuk akal kalau dipahami dengan benar.
Gen Z tidak mau jadi bos.
Tidak mau naik jabatan.
Tidak mau tanggung jawab struktural.
Fenomenanya disebut Conscious Unbossing.
Dan Coach Rene Suhardono punya penjelasan yang menurut gue paling jujur dan paling tidak biasa tentang kenapa ini terjadi.
Mulai dari data yang paling mengejutkan:
Survei Bank of America memproyeksikan bahwa pada tahun 2035 Gen Z akan menjadi generasi paling kaya.
Bukan karena warisan semata.
Tapi karena mereka yang paling menguasai teknologi.
Dan karena mereka lahir di era digital yang memberikan mereka akses ke peluang yang tidak pernah ada sebelumnya.
Tapi di saat yang sama mereka adalah generasi yang paling banyak bilang "gua gak mau jadi bos."
Kenapa?
Dan ini penjelasan Rene yang paling menohok:
Bukan karena mereka malas.
Bukan karena mereka lemah seperti strawberry yang terlalu mudah hancur.
Tapi karena mereka melihat dengan sangat jelas apa yang didapat orang yang naik jabatan di Indonesia.
Kerja lebih keras.
Gaji tidak selalu naik proporsional.
Diperiksa kejaksaan.
Disalahkan ketika ada masalah.
Kena beban politik kantor yang tidak ada habisnya.
Sementara mereka punya pilihan lain:
fungsional tanpa struktural. Kerja bagus.
Dapat bayaran. Pulang.
Tidak ada yang bisa memeriksa mereka ke pengadilan.
Dan secara logika murni itu bukan bodoh.
Itu rasional.
Dan ini tentang toxic workplace yang paling sering disalahpahami:
Gen Z banyak bilang tempat kerja mereka toxic.
Dan generasi tua sering menganggap mereka lebay.
Terlalu sensitif.
Tidak tahan banting.
Tapi Rene bilang satu hal yang sangat penting:
"Kalau anak buah lu datang ke ruangan lu dan sudah ngerasa takut ngomong something wrong with you.
Bukan dengan mereka."
Bukan Gen Z yang bermasalah.
Tapi pemimpinnya yang tidak pernah belajar membuat orang merasa aman untuk berkata jujur.
Dan ini bukan soal Gen Z saja.
Ini soal power distance sebuah konsep yang menggambarkan seberapa jauh jarak antara yang berkuasa dengan yang dipimpin.
Indonesia punya power distance index yang sangat tinggi.
Buktinya:
kita adalah salah satu negara di dunia yang memanggil atasan dengan sebutan "Pak Dirut, Bu GM, Pak Komut."
Di negara lain dengan power distance rendah
tidak ada itu.
Semua orang dipanggil nama.
Dan informasi mengalir lebih bebas.
Dan keputusan lebih cepat dan lebih tepat.
Di sini bawahan takut menyampaikan kabar buruk.
Atasan baru tahu masalah tiga bulan kemudian.
Setelah sudah terlambat.
Dan ini tentang komunikasi yang paling sering salah dimengerti:
Rene menyebut riset longitudinal Harvard yang berlangsung lebih dari 90 tahun Harvard Study of Adult Development. Melibatkan 600 orang yang kemudian diperluas ke 3.000 orang.
Pertanyaannya sangat sederhana:
apa yang membuat orang sehat, bahagia, dan sukses?
Jawabannya bukan pendidikan.
Bukan kekayaan.
Bukan dari keluarga mana.
Jawabannya:
kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat.
Dan kualitas hubungan itu ditentukan oleh satu hal: kualitas komunikasi.
Tapi bukan komunikasi yang sekadar menyampaikan pesan.
Komunikasi yang to connect yang benar-benar terhubung dengan pemahaman orang di depanmu.
"Lu boleh mulut lu bergerak terus tapi kalau lu tidak mempedulikan apakah orang di depan lu benar-benar paham itu bukan komunikasi.
Itu monolog."
Dan ini yang paling relevan untuk para pemimpin di Indonesia sekarang:
Rene menyebut fenomena yang sangat umum di seminar-seminar yang dia hadiri:
pemimpin yang selesai briefing, tanya "ada pertanyaan?
tidak ada yang angkat tangan lalu merasa bahwa dia sudah berkomunikasi dengan sangat jelas.
Padahal yang terjadi adalah sebaliknya:
bawahan takut bertanya.
Takut terlihat bodoh.
Takut dianggap tidak kompeten.
Takut menyinggung atasan.
Dan di budaya kita diam bukan berarti paham.
Diam bisa berarti "aku sabar sampai akhirnya meledak."
Kata amok dalam bahasa Inggris diadopsi dari bahasa Indonesia.
Dan itu bukan kebetulan.
Dan ini tentang Gen Z yang paling sering diributkan tapi paling jarang dipahami:
Rene tidak membela Gen Z secara buta.
Tapi dia menawarkan perspektif yang jauh lebih jujur:
Gen Z bukan strawberry yang lembek.
Mereka adalah generasi yang lahir di dunia yang sudah berbeda.
Yang digital native dari lahir.
Yang tidak menganggap jabatan sebagai tujuan hidup.
Yang menilai pekerjaan dari misi bukan sekadar gaji dan posisi.
Dan itu bukan kelemahan.
Itu adalah sinyal bahwa cara lama merekrut, memimpin, dan mengkomunikasikan visi sudah tidak bekerja lagi.
Dan pertanyaan yang paling penting:
apakah kita sedang menyiapkan Gen Z untuk dunia yang sudah berubah ini atau masih menyiapkan mereka untuk dunia yang sudah tidak ada?
Gen Z tidak mau jadi bos bukan karena mereka lemah. Mereka tidak mau jadi bos karena mereka melihat bahwa menjadi bos di lingkungan yang salah lebih banyak risikonya daripada manfaatnya.
Solusinya bukan menyalahkan mereka. Solusinya adalah membangun lingkungan kerja di mana naik jabatan benar-benar bermakna di mana pemimpin membuat bawahan merasa aman, di mana komunikasi mengalir dua arah, di mana misi lebih besar dari sekadar transaksi gaji.
Dan itu dimulai dari satu hal yang paling sederhana tapi paling jarang dilakukan: berhenti ngomong dan mulai mendengar.
i was moved to tears after seeing this video while scrolling through tiktok. because look at them. look at our exo. i'm so happy to see them having a great time despite the fact that they're sweating a lot.
happiness really looks good to them. we must protect it at all cost. 🥹
Kalau udah kerja kantoran, lo bakal sadar kalau pinter doang tuh nggak cukup. Cara lo ngomong, cara lo ngehandle situasi, sama cara lo ngehargain orang lain juga ngaruh banget.
Hidup di kantor itu bukan cuma dateng, kerja, terus pulang. Tapi juga soal attitude, cara komunikasi, sama gimana lo bawa diri di lingkungan profesional.
Ada juga hal-hal yang kantor ajarin tanpa aba-aba kayak sabar, tau batasan, sama tetep kalem walaupun ada aja orang yang ngetes profesionalitas lo.