SUKA BGT SAMA GAYA BICARA IBUNYA, KAYAK NETIZEN YG LAGI CURHAT
beberapa point yg disampaikan ibunya:
𖥔 ga percaya RUU perampasan aset kalau ga ada hukuman mati. nanti bisa diboong-boongin asetnya
𖥔 pengedar narkoba bisa dihukum mati, kok koruptor ga dihukum mati?
𖥔 ga percaya DPR
𖥔 koruptor bikin rakyat Indonesia sengsara. hukum mati para koruptor kalau pingin lihat rakyat sejahtera
𖥔 kalau hukum mati gamau disahkan, gimana kalau koruptor digebukin aja sama seluruh rakyat Indonesia?
𖥔 marahin wakil rakyat yg enak-enak ngadem di ruangan ber AC tapi rakyat di luar sana sengsara
pelajaran yang bisa di petik selama rezim prabowo:
- judol katanya susah dibasmi
- tapi blokir rekening pendemo pati bisa secepat itu
- bangunan sekolah katanya susah direnov
- tapi kopdes bisa berdiri sampe pelosok
- gaji nakes/guru/dosen katanya susah dinaikin
- tapi gaji karyawan sppg mbg malah di atas mereka
- kriminal katanya susah diberantas
- tapi aparat pas demo bisa dikerahin sebanyak itu
- semua itu sebenarnya bisa dilakuin cepet
- cuma emang mereka aja yang gak mau
- kebobrokan dinilai sengaja dipelihara
- tujuannya buat raup suara pas pemilu
Prabowo, Presiden Indonesia yang Semakin Bodoh
Di tengah ancaman tarif dagang baru dari Amerika Serikat yang mencapai 32% terhadap ekspor Indonesia, Prabowo Subianto, tampil dengan penuh percaya diri mengumbar strategi yang katanya, akan menyelamatkan ekonomi bangsa dengan memaksimalkan Makan Bergizi Gratis, Hilirisasi, dan memanfaatkan keanggotaan di dalam BRICS.
Bagi pemujanya yang (maaf) tolol, strategi Prabowo tadi akan mereka sambut dengan tepuk tangan, atau bahkan tangisan. Namun, benarkah strategi ‘jenius’ itu datang dari seorang Prabowo yang (dulunya) intelek, atau, hanya sekedar omong kosong dari Presiden yang semakin terlihat bodoh di mata saya?
Apakah dengan mengandalkan MBG, hilirisasi, dan keanggotaan BRICS bisa menjadi penopang ekonomi negara yang sedang tidak baik-baik saja ini? Bisa, tapi saya bohong, hehehe. Faktanya, kurs IDR yang terus saja merosot hingga Rp16.950 per USD, tidak akan mampu menolong kita dari kenaikan harga-harga kebutuhan dari primer, tersier, hingga sekunder yang masih mengandalkan impor.
Esai kali ini sengaja saya buat dengan provokatif, karena saya pribadi sudah gelisah dengan semakin tumpulnya intelektualitas Presiden Prabowo.
Sebuah Esai