TETAPLAH BODOH
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,
kebetulan saja sebagian diberi nomor
agar tak tersesat pulang.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengharuskan kita sepakat
bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau,
cukup untuk mengganti nama hutan,
meski akarnya tak lagi sudi menahan air.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti curiga pada suara kritis,
dianggap menggiring opini,
menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna,
dan empati harus menunggu siaran media.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing
yang tak seberapa itu berbahaya,
bisa meruntuhkan martabat bangsa
yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mensyaratkan
bantuan bencana dari diaspora
perlu dipajaki dulu,
agar duka ikut menyumbang penerimaan negara.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti setuju
cukup menteri memanggul karung bantuan,
sementara empati dianggap bonus,
tak wajib, apalagi tulus.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa ribuan korban hanyalah angka,
terlalu kecil untuk disebut bencana nasional,
hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menganggap alih hutan ke sawit
adalah keniscayaan,
dan banjir selalu bisa kita titipkan
pada takdir—
agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda.
Mari, tetap bodoh, kawan
Sebab di negeri ini,
terlalu sering, yang disebut pintar
justru adalah kelihaian
melawan akal sehat,
menyembunyikan fakta,
dan memperdayai sesama.
Kawan, mari, tetap bodoh.
Fathul Wahid
Sleman, 22 Desember 2025
Rektor Universitas Islam Indonesia
membacakan puisi ini pada Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik di Bundaran UGM
The people of Aceh have the right to own and fly their own flag as a symbol of regional privilege and specificity, as guaranteed in the Helsinki MoU (point 1.1.5) and Article 246 of the Aceh Government Law (UUPA).
If the people of Aceh are still being detained, intimidated or dispersed just for flying the Crescent Star Flag, then what is the use of the Helsinki MoU and UUPA which have been signed and ratified?
Shouldn't the peace built over more than 20 years be realized with full respect for the agreement?"
To the international community, please monitor the situation in Aceh with repressive treatment by the Indonesian government and inform the whole world
@BBCWorld@CNN@AlJazeera@Reuters@AP@dwnews@guardian@grok@xAI
Second phase of aid on the 20th day after the flash floods. Indirectly rejecting foreign aid is slowly killing them.
And with arrogance, the President of Indonesia said, "We are still capable and we do not need foreign aid."
@AJEnglish@AJENews@UNDP@UN@UNICEF@501Awani
Ungkapan rasa lelah seorang penyintas banjir di Aceh. "Diam ternyata membuat penderitaan dianggap biasa..."
"Dengan cangkul dan tangan kosong, kami mencari mobil dan motor kami yang telah terkubur lumpur," pesan Mahmudi Ishak, dari Meureudu, Pidie Jaya.
Even journalists couldn’t hold back their tears.
CNN Indonesia reporter Irine Wardani broke down while covering the Sumatra disaster, which has claimed at least 1,030 lives. Reporting live from Aceh with cameraman Urip Handoyo. 📍 Aceh Tamiang, Indonesia 🇮🇩
Sholat Jum'atnya ndak di masjid-masjid Muhammadiyah? No problem.
Kita tetap bisa berinfaq shalat Jum'at untuk korban bencana. Langsung transfer ke kencleng digital sesuai bank kesayangan anda. Jangan lupa kode 013.
Gass Lur...
Cara Soeharto menangani bencana Tsunami Flores (NTT) 1992: Presiden Soeharto 🇮🇩 menetapkan status bencana nasional, mengerahkan ABRI secara penuh untuk evakuasi, distribusi logistik, dan pengamanan wilayah. Pemerintah pusat mengambil alih komando penanganan, menyalurkan bantuan cepat, membangun hunian sementara dan permanen, serta memulihkan infrastruktur dasar. Penanganan dilakukan terpusat, cepat, dan berbasis komando negara.