Nadiem Makarim akhirnya dituntut hukuman total 27, tahun penjara (18 tahun penjara, denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan)
Sampai azan magrib saya nonton persidangan itu. Dan sehabis magrib, nonton Nadiem diwawancarai pers.
Kalian tahu kasus Nadiem? Dia dituduh melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan keuangan negara. Tapi apa fakta yang ditemukan?
- Tidak ditemukan PPATK yang masuk ke rekeningnya,
- Tidak ditemukan aliran dana dari vendor ke Nadiem,
- Tidak ditemukan aliran dana dari Google ke Nadiem,
- Tidak ditemukan aliran dana dari PT Akab ke Nadiem, dan
- Tidak ditemukan aliran dana dari PT GI ke Nadiem.
Ada pernyataan menarik dari Pak OC Kaligis:
“Kalau bicara soal Pasal 2 & 3 Undang-Undang Korupsi, maka cantolannya adalah BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). BPK mengatakan bahwa tidak ada kerugian negara. Namun, oleh jaksa penuntut, BPK dibilang tidak independen.”
Karena gagal membuktikan semua aliran dana ini, maka ada nuansa menciptakan fakta, seolah-olah ada pemufakatan jahat atau penyamaran penipuan uang yang dilakukan Nadiem.
Itulah berita hukum terkini, Gais. Dan hal yang sama juga saya temukan di kasus Gus Yaqut (baru sampai pra-persidangan, namun sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka).
- Tidak ditemukan bukti korupsi ketika rumah Gus Yaqut digeledah,
- Tidak ditemukan aliran dana ke Gus Yaqut,
- Tidak ditemukan suap ke Gus Yaqut,
- Tidak ditemukan gratifikasi ke Gus Yaqut,
- Tidak ditemukan intervensi apapun dari Gus Yaqut terkait pembiaan jamaah haji khusus, dan
- Tidak ditemukan mens-rea (iktikad jahat).
Bahkan untuk sangkaan $1 Juta, ternyata hal itu dikerjakan oleh bawahannya ketika Gus Yaqut di Eropa. Sekembalinya Gus Yaqut ke Indonesia, ia memerintahkan bawahannya untuk menarik uang itu kembali.
Saya tidak sedang bilang Nadiem bersih. Saya juga tidak sedang bilang Gus Yaqut tidak bersalah. Saya cuma mau bilang, mengutip Fiersa Besari:
“Negara sedang dirusak secara sistematis, dan sepertinya kita cuma bisa menonton saja.”
Saya mengenal seseorang yang hidupnya masih ngontrak, penghasilan pas-pasan, sudah punya anak. Suatu waktu, dia mendapat uang dari FB Pro total sekitar 200jt, di masa FB Pro masih sangat mudah monetisasi dengan modal views dari konten reupload.
Lalu uangnya untuk apa?
Bukan untuk saham, bukan untuk emas, bukan deposito atau mobil second. Yang dibeli justru motor keluaran terbaru, acara syukuran ngundang keluarga besar, nongkrong ke cafe mahal, tas + sepatu mahal, join member padel, billiard.
Sampai dia resign dari pekerjaannya yang bergaji UMR itu.
Semua itu hanya bertahan sekitar 3 bulan.
Sampai akhirnya Meta mengeluarkan kebijakan baru, hanya konten original yang bisa dimonetisasi. Penghasilan berhenti, uang habis begitu saja.
Anaknya masih tinggal di rumah kontrakan, anaknya masih kehujanan naik motor, tabungan tetap nol, bahkan masih punya cicilan iPhone.
Dari situ saya bisa menarik kesimpulan, “kaya secara instan” memang tidak direkomendasikan. Terkadang orang miskin yang tidak terbiasa pegang uang lebih, sering melihat kehidupan orang lain yang bisa punya ini itu dan timbul keinginan juga.
Jadi ketika tiba-tiba diberi uang, yang dibeli hanyalah validasi. Ada yang lebih penting dari sekedar uang, yaitu mental dan manajemen.
Kemudian saya hanya mendengarkan keluh kesahnya sambil ngebatin “Ahh andaikan dia buat buka bisnis kecil2 an, lalu sisa nya tabung di reksadana, sebagian saham, sebagian lagi LM”.
cc:harumsari
Kalau udah kerja kantoran, lo bakal sadar kalau pinter doang tuh nggak cukup. Cara lo ngomong, cara lo ngehandle situasi, sama cara lo ngehargain orang lain juga ngaruh banget.
Hidup di kantor itu bukan cuma dateng, kerja, terus pulang. Tapi juga soal attitude, cara komunikasi, sama gimana lo bawa diri di lingkungan profesional.
Ada juga hal-hal yang kantor ajarin tanpa aba-aba kayak sabar, tau batasan, sama tetep kalem walaupun ada aja orang yang ngetes profesionalitas lo.
Guys update terbaru nih..
Bank Negara Indonesia $BBNI
buka suara perihal kasus dugaan penggelapan dana jemaat Gereja Katolik Paroki Aek Nabara
BNI menyampaikan bahwa pengembalian dana dilakukan dalam minggu ini (Senin–Jumat hari kerja)
target pengembalian keseluruhan = selesai dalam minggu berjalan (hari kerja Senin–Jumat)
dengan mekanisme bertahap dan perjanjian resmi.
Tetap kita kawal......
Gk viral gk di gubris
“nyari kerja jaman sekarang susah banget ya, udah ratusan bahkan ribuan kali apply kerjaan tapi belom ada panggilan”
meanwhile:
it’s me, hi, i’m the problem, it’s me
Klo yg datang nawarin adalah penipu ngaku kepala cabang BNI, mungkin yg ceroboh adalah korban.
Klo yg datang adalah BENERAN kepala cabang BNI dan dia NIPU, berarti Bank BNI yg bangsat !!
Yang dicuri 28 Miliar, ditawarin balik cuma 7 miliar.
Btw yang dicuri ini bukan uang gereja, tapi uang tabungan 1.900 umat yang backgroundnya macam2, ada yang buruh, petani, dll.
Suster Natalia cerita kalau dia sampai utang kesana sini buat nalangin umat yang butuh dana mendesak karena berobat atau sekolah anak.
Kita bantu viralin biar BNI ga ngeles mulu.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Di dunia kerja, career growth itu bukan cuma hasil performance… tapi juga hasil office politics & exposure.
Banyak orang capable tapi karirnya jalan di tempat karena gak punya visibility ke management.
Kadang bukan soal siapa yang paling bagus, tapi siapa yang paling terlihat.
me first: Punya SPV terlibat aktif dalam training karyawan baru dan welcome dijelasin to detail prosesnya dan ada handbook sekelas entry level. Punya Manager yang proaktif dan tidak melimpahkan kesalahan ke bawahannya malahan supporting buat handdling issue dan ga diem". MNC FMCG
Banyak pasangan ga cerai dengan alasan 'demi kepentingan anak', padahal dampak dari orang tua yang 'seharusnya cerai' jauh lebih ngerusak mental anak dibanding orang tua yang memutuskan cerai sejak awal.
Tiap ada bayi lahir, doanya selalu "Semoga jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama."
Jarang banget dengar orang tua yang doanya begini: "Semoga aku bisa jadi rumah yang nyaman buat dia, bisa menjamin pendidikannya, dan memastikan dia tumbuh di lingkungan yang sehat."
Harusnya kita dulu yang berjanji ke dia, bukan dia yang dituntut buat dunia.
setuju!
gue nganggur 1 tahun gue bikin enjoy karena gue percaya sekalinya dapet kerjaan langsung matep😅
ga pernah nyalahin kenapa gue nganggur tapi gue berterima kasih karena proses yg gue laluin banyak ceritanya…