Episode pertama :
Tetap berbuat baiklah meskipun semua org berlomba lomba buat nyakitin kamu :)
Mereka begitu karena mereka merasa lebih dari kamu, tapi mereka tetap kalah :)
kepada cewek-cewek umur 20-35 tahun,
Kalo tiap keramas rambutnya rontok sampe bikin ngeri liat lantai kamar mandi…
Terus tiap nyisir, rambut yang nyangkut di sisir udah ga kehitung jumlahnya…
Tolong luangin waktunya buat baca ini…
@happenfed Bismillahirrahmanirrahim urusan kita semua WNI dipermudah, badan sehat, dilancarkan rezekinya, diberikan hati yg tenang, dan makin banyak kabar bahagia yang akan datang. Aamiin Allahuma Aamiin🤍
ASTAGA.. SUNGKEM KE MBA INI DULU PLEASEEEE 😭🙏🏻🍜
gimana ceritanya kepikiran mix mie beginian dahhh??? fix ini bukan sekadar mie instant… ini racun terenak minggu ini 😭👍🏻
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?
EH INI BENERAN GASIH???
akhir-akhir ini aku juga suka kesel sendiri perihal gampang bgt lupaan😩 padahal masi muda tpi udah pikun😭
nemu utas ini, ada pengalaman konsumsi jg ga?
Banyak banget cewek masuk umur 30 curhat hal yang mirip-mirip.
Badan berasa berat, otak nge-lag terus, ngantukan mulu padahal udah minum segala macem suplemen. Multivitamin sama omega-3 emang oke, tapi kadang nggak nyentuh akar masalahnya.
Yuk kita bahas santai dikit disini...
Orang indo kalo disuruh asbun jago banget njir😭😭
“sewajarnya manusia aja kak”
“make nih orang”
“sus dia bangun sus”
“aku juga terapin diet if kak, if i’m hungry i’m eating”
“dibilang juga apa nguburnya kurang dalem, keluar lagi kan jadinya”
“yaudah biarin aja selagi gak makan ternak warga”
“ke dokter sendiri aja kak aku malu nganternya”
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.