Jujur, yang bikin kami penasaran bukan isi videonya sendiri, melainkan fakta bahwa video Maudy yang baru 100k views di YouTube bisa sampai dihujat jutaan orang di berbagai medsos…
Setelah nonton, isinya memang menurut kami cukup divisive.
1. Kemasannya salah alamat:
Format video cozy vlog. Sarapan santai pakai cottage cheese sambil ngukur takaran protein harian, tapi disajikan buat audiens yang lagi kalang kabut buat jaga dapurnya tetap ngebul.
2. Bias yang “bias”:
Negativity bias itu nyata. Tapi ia berguna buat ngoreksi persepsi yang melenceng dari keadaan. Kalau situasinya memang sedang buruk, label negativity bias mengubah persepsi yang akurat jadi kekeliruan kognitif.
3. Nasihat subjektif dipaksakan untuk semua:
Garis batas stoik soal “yang dalam kendaliku” itu relatif. Orang dengan 1 juta subscriber punya kendali berbeda dibanding orang yang terpaksa hirup asap karhutla.
—
Tapi di sisi lain, setengah akhir video sebenarnya memuat beberapa tips yang valid.
1. Kurasi sumbernya, bukan kurasi isunya:
Maksudnya bukan nutup mata, tapi milih beberapa kanal yang ngasih konteks utuh. Cukup baca dari situ. Bukan nyerap potongan-potongan yang lewat di feed, yang justru paling gampang simpang siur pas satu isu lagi rame.
2. Tahu kapan harus berhenti:
Begitu kamu udah paham duduk perkaranya, kamu gak wajib baca konten ke-15 soal isu yang sama. Berhenti di situ bukan berarti gak peduli. Kamu udah dapat isinya. Sisanya cuma ngulang, dan yang keulang itu efeknya jadi bising di kepalamu.
3. Imbangi asupannya:
Algoritma bakal terus nyodorin yang serupa. Sekali kamu banyak buka satu jenis kabar, feed kamu bakal ngunci di situ. Imbangi dengan aktivitas lain.
—
Kritik netizen memang sah.
Tujuannya Maudy memang baik (menyikapi kabar buruk).
Tapi jalur yang dia sajikan valid buat orang yang kabar buruknya terpampang di layar.
Sedangkan buat rakyat jelata yang kabar buruknya di depan mata, kesannya tone deaf.
Kebanyakan dari kita berdiri di tengah dua kutub tersebut.
Jadi walau tujuannya sama, tapi jalurnya tetap kamu yang harus tentukan sendiri.
true. bersiap-siaplah sebelum lo butuh.
kalo lagi di comfort zone, perbanyak option. nambah skill, tabungan, dan koneksi selagi lo belum kepepet.
when you’re desperate, tawaran jelek pun bakal kelihatan "lumayan". terms yang nggak masuk akal lo iyain. mungkin prinsip sendiri pelan2 lo tawar juga.
Eh serius 2 tahun kedepan gue mulai yg mana ya... pengen upgrade diri memugar diri to the way more better version of myself... mumpung laki laki gue pada wamil
Biar nanti ketemu ot13 gue juga udh banyak explore hal yg bener-bener gue pengenin, nemuin aktualisasi diri lagi, berdamai dgn kepala sendiri, dan jauh jauuuuh lebih bugar
Indonesia’s current situation:
- Karhutla Kalimantan, Riau, Jambi, Bromo, Boyolali, Klaten, area Kawah Ijen, Papua Barat, Sulawesi, Sumatera, NTB, Jawa, Bali, Maluku
- Dampak asap lintas negara (Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina)
- Siaga III Gunung Anak krakatau
- Siaga III Gunung Sinabung
- Siaga III Gunung Semeru
- Siaga III Gunung Lewotobi, Lewotolok, NTT
- Erupsi Gunung Ibu, Maluku
- Keracunan MBG
PRAY FOR INDONESIA AND STAY SAFE EVERYONE
Jujur gak tau boleh ngomong gini atau enggak, tapi di situasi yang kanan kiri depan belakang isinya bad news gini, tolong, kalau merasa overwhelmed, lakuin hal lain juga ya buat pengalihan pikiran sejenak. Let's keep ourselves safe inside and out, even though it's difficult.
The forest fires arent even over, NTT is still recovering from the earthquake, hundreds if not thousands of kids have been poisoned by the free meal, worsening drought n now Anak Krakatau is erupting…
May God protect us all.
dapet info abu erupsi krakatau udah sampe bogor, depok, hingga jaksel.. ini ada saran dari kakak yg berpengalaman handle abu vulkanik, bisa diterapkan ya temen2, stay safe! semoga kita semua selalu dilindungi.. si ndut terserah