Sumatra isn’t even done grieving, and now there’s NTT. How many more disasters do we have to watch before this gov treats the climate crisis, environmental damage, and disaster preparedness like the national emergency they actually are?
"gapapa kok gak usah merasa telat, pelan-pelan aja." gua mah emang gak papa jir? tapi ekspektasi orang tua gue, keluarga gue, sodara gue, buyut gue, pahlawan yang udah memerdekakan indonesia (meski dijajah lgi), belum lagi perasaan guilty karena masih "numpang" sama orang tua? 🌳
Pernah kerasa enggak.
Kadang, saat kita berhenti terlalu memikirkan apakah sesuatu akan berhasil atau tidak,
Eehh semuanya malah mulai berjalan.
Usaha tiba-tiba mulai bergerak ketika kita tidak lagi terlalu memaksa.
Hubungan dengan orang-orang baik berdatangan justru setelah kita benar-benar berhenti mengejar.
Kesempatan bermunculan ketika kita sudah sampai di titik, “Kalau datang, Alhamdulillah. Kalau belum, ya kita tetap baik-baik saja.”
Beda sama aura menyerah.
Ini hanya berhenti menjadikan satu hasil sebagai syarat untuk bahagia.
Karena saat kita terlalu ingin sesuatu berhasil, biasanya kita jadi terus mengecek, terus menunggu tanda, terus khawatir berlebih.
Dalam hati kita trus menerus berkata, “Tolong berhasil. Please. Kita butuh ini.”
Tanpa sadar, yang paling kuat terasa justru aura rasa kurangnya.
Seolah-olah hidup kita belum lengkap sebelum hal itu datang.
Tapi ketika kita mulai IKHLAS dengan apa pun hasilnya, tiba-tiba ada sesuatu dalam diri kita yang berubah.
Kita jadi lebih tenang.
Enggak terlalu takut kehilangan.
Enggak lagi merasa hidup kita kurang.
Kita mulai merasa, “Kita sudah cukup. Kita tetap berharga. Kita tetap kuat, apa pun hasil yang terjadi.”
Senyum pun terasa sangat mudah.
Dan mungkin, ENERGI seperti itulah yang ditunggu oleh Alam Semesta.
Energi dari versi diri yang paling siap untuk menerimanya berkah dan karuniaNya.
Karena kita tidak lagi mencari sesuatu untuk melengkapi diri.
Kita sudah utuh.
Jadi daripada terlalu sibuk memikirkan kapan semua keinginan itu datang, mungkin kita bisa mulai bertanya:
Kita perlu menjadi pribadi seperti apa agar siap menjalani hidup yang kita inginkan?
Kita fokus bertumbuh menjadi pribadi itu.
Lalu biarkan Alam Semesta membuka jalannya.
Ini sepi banget cuy yang bahas wkwkwk. Tapi, asli ini benar banget sih. Kalaupun ngga punya childhood trauma. When major life event happens tuh beneran bisa ngasih luka juga. Jadi, ga semua hal akarnya harus dari masa kecil. Keluarga cemara ≠ ga punya luka.
dengan kerusakan sebesar ini gw gak bisa bayangin orang jenis apa yang bisa dan menyanggupi jadi presiden di periode berikutnya... kayak sehancur itu, how to fix something so rotten anjir i cant even imagine. even it's not improvement anymore its full on repairement kontol