Hanya sumpah serapah seperti inilah yg bisa kita lakukan melihat kekacauan yg bener² tidak bisa diatasi pemerintah. Bener² ga bisa ngapa²in ya jadi wni.
@kumparan Dosa jariyah untuk siapapun yang membuat mereka dari jaman dulu sampe sekarang tersiksa seperti ini.
Semoga di neraka disiksa dicelupin minyak sawit di titik didih maksimal, disumpelin asap karhutla, dibakar di api paling panas, dan diulang ulang.
@AlfianBahri47 Believable itu relatif tergantung pembacanya
Kalau pembacanya percaya dan hits, ya bagus, kalau ada pembaca yg ga percaya ya risiko
Kalau teksnya logis tapi ga ada yg percaya dan flop bukunya, ya jelek, meski ada segelintir pembaca yg percaya
Ini bener, Manteman.
Fiksi se fiksi apapun, harus believable.
Artinya, dia tetap butuh kelogisan teks, baik segi ruang dan waktu.
Gak bisa berlindung di balik kata fiksi, lalu cerita bisa sebebas mungkin.
Hal seperti inilah yang dibedah dalam kajian telaah sastra.
Fiksi adalah fiksi, tapi ada satu unsur yang tidak bisa dihilangkan: fiksi harus believable, kecuali kalau kita menulis parodi.
Misal, kita buat fiksi dengan latar G30S, dan ceritanya adalah yang melakukan operasi penumpasan adalah marinir. Apakah itu believable? Tentu tidak, karena sudah menjadi pengetahuan umum bahwa penumpas gerakan G30S adalah RPKAD. Dengan demikian, cerita tersebut akan berkurang nilainya.
Adaptasi novel TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK menjadi film komersial, adalah satu contoh jelas kalau bangsa Indonesia abad ke-21 memang maha-pelupa dan maha-pemaaf.
Bayangkan saja, pada Oktober 1962 novel itu pernah menjadi "skandal sastra" terbesar dan menempatkan Hamka sebagai penulis yang banyak dicemooh sejak terbitnya resensi berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” oleh Abdullah S.P. dalam lembar budaya Bintang Timur di bawah asuhan Pramoedya Ananta Toer.
Begini komentar Pram pada saat itu:
“Saya sebagai pengagum Hamka sangat kecewa sekali dengan terbongkarnya kepalsuan "Tenggelamnya Kapal v.d. Wijck" ... ide dan gaya bahasa jelas menandakan karya tersebut adalah jiplakan dan ini memberikan contoh yang tidak baik pada generasi muda. Ini bukan masalah sastra saja, tapi merupakan masalah sosial, cermin sosial, yaitu barometer sampai di mana kejujuran seorang tokoh masyarakat mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya... soalnya mudah saja, yatu minta maaf. Sebab karya Hamka ini kira-kira dibaca 5 juta.”
Bagaimana tanggapan Hamka setelah dituduh plagiat? Tidak ada klarifikasi, apalagi permintaan minta maaf. Yang membela beliau justru H.B. Jassin bersama lingkarannya. Kemudian tiba-tiba saja polemik itu dihentikan. Bukan oleh kalangan sastra, tapi oleh TENTARA, karena dianggap menggangu kestabilan dalam masyarakat.
Novel karya Manfaluthi "Magdalena" yang dituduh menjadi sumber plagiat Hamka pada akhirnya diterjemahkan oleh dua kubu yang berseteru.
Lantas, sejak dirilisnya karya adaptasi Tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada 2013 sampai sekarang, dengan entengnya kita mengelu-elukan film itu sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat di Indonesia, tanpa ada perasaan risi sama sekali.
Bacaan bagus tentang tipo sebagai sebuah identitas sosial. Apalagi di zaman represif yg banyak sensor. Mari kita perbanyak tipo, tifo, typo, typos. 👇 😁
“Selain sebagai strategi mitigasi, tipo yang disengaja juga berfungsi sebagai penanda identitas sosial. Dalam sosiolinguistika, bentuk bahasa tertentu dapat berfungsi sebagai semacam penanda indeksikal yang mengindikasikan keanggotaan kita dalam…” — Ringgo
https://t.co/0WvWb3utEl
Asal kalian tahu, antrian mesin cuci darah ini sudah gk karuan saat ini. Jd jgn asal bilang, gk apa2 punya BPJS kok. Kamu punya uang 74 triliun pun, kalo antriannya masih penuh, ya gk akan terlayani.
Terus kalian, sesak, jantung berdebar, gk sadar..
Keluargamu nangis di selasar