Persebaya ingin hidup dari industrinya, bukan dari bos-bosnya ~yahya alkatiri
Cepat atau lambat semuanya bakal ngerti tentang apa yg sedang dibangun oleh persebaya. Beberapa pengamat jg mengapresiasi langkah yg diambil persebaya.
Jika tiap kali orang mengkritik dibilang membenci, masalahnya bukan pada orang yang mengkritik atau yang sedang dikritik, masalahnya pada kemampuanmu mencerna sesuatu.
Setiap ada momen peryaan tentang Rasulullah SAW, salah satu tulisan Cak Nun yg selalu saya baca adalah: Surat Kepada Kanjeng Nabi.
Tulisan ini dirilis tahun 1992, agak panjang, isinya sangat reflektif, diakhiri dg hook yg mantap.
Kita ini memang tidak punya kesediaan, keberanian dan kerelaan yg sungguh-sungguh untuk mengikuti Rasulullah SAW.
Pun, Rasulullah SAW tetap saja di akhir usianya berlirih: Ummati... Ummatii... Ummatii...
Rakyat tolol memilih presiden tolol. Presiden tolol memilih mentri tolol. Mentri tolol melestarikan rakyat tolol.
A golden triangle of a failed nation.
Apa iya, gk ada satupun doa untuk kebaikan Bangsa ini yg dipanjatkan lalu dikabulkan? Dari sekian juta orang yg berdoa.
1 saja ya Allah.. 1 saja yg sampai dan dikabulkan.
Ini udh keterlaluan ya Allah.
🚨 NEW : Momen Pep Guardiola mengumumkan perceraiannya kepada skuad Man City, saat itu City sedang dalam periode terburuk dengan hanya meraih 1 kemenangan dari 10 laga.
Pep Guardiola berdiri di ruang ganti tim tamu di Stadion Allianz milik Juventus, City kalah 2-0 dan mencurahkan isi hatinya kepada para pemainnya.
🗣️"Teman-teman, aku ingin mengakui sesuatu. Aku sudah bercerai dengan wanita tercantik di planet ini, istriku, mantan istriku. Aku sangat mencintainya, luar biasa besar, tetapi kami kehilangan gairah itu. Apakah aku mencintainya? Ya, tentu saja. Apakah dia mencintaiku? Ya. Tetapi kami kehilangan gairah itu."
"Dalam hidup kalian, apa pun yang akan kalian lakukan, lakukanlah dengan penuh gairah. Aku tidak menginginkan pemain yang sekadar bagus. Aku menginginkan pemain yang punya gairah."
"Ini kekalahanku, jika aku adalah masalahnya, kalian harus memberitahuku. Aku tidak akan bertahan di sini demi uang atau hanya sekadar untuk tetap berada di sini. Aku tidak ingin merasa bahwa aku harus lari dari kalian.
"Jika aku adalah masalahnya, katakan. Itu tidak akan sedikit pun mengubah rasa cinta yang aku miliki untuk kalian, bahkan sedetik pun."
📝 A Beautiful Obsession
Kenapa ga maksimalin puskesmas yang udah ada ya? Kenapa harus proyek bikin baru lagi.. bikin baru lagi. Sementara di mana-mana teriak efisiensi.. efisiensi. Bener-bener ga paham sama jalan pikirannya. Kaya orang linglung 🤦♂️
Bayangkan seorang anak brilian, lulusan terbaik dari Sleman.
Ia ditawari mengajar di kampung halamannya. Gajinya tiga juta. Di saat yang sama, ada tawaran di tempat lain dgn gaji lima puluh juta.
Kita semua tahu ke mana ia akan pergi.
Dan di situlah letak persoalannya. Panggilan jiwanya mungkin masih ada, tapi ekosistem dan sistem tidak memungkinkannya.
-
Median gaji guru di Indonesia belum bisa mencukupi keberlangsungan hidup.
Di Singapura, angkanya menyentuh Rp70 juta.
Korea Selatan merekrut gurunya dari 5% lulusan terbaik. Singapura, dari 20% teratas.
-
Sebab kualitas pendidikan sebuah bangsa tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya.
Dan tugas seorang guru bukan sekadar mengajar rumus. Ia harus bisa menyuntikkan tiga hal: imajinasi, ambisi, dan keberuntungan yang dijemput.
Mengingat evolusi yg semakin exponential, baik geopolitik, ekonomi, teknologi, maupun iklim.
Semakin produk pendidikan kita, terutama mereka yang berkecimpung di hubungan internasional, harus punya deksteritas geopolitik: kemampuan berayun ke kekuatan-kekuatan besar, termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, dan Rusia.
-
Lalu salah satu pertanyaan dari murid SMP yang menunjukkan bahwa, masalahnya bukan hanya pada guru-nya.
Ia bertanya: bagaimana mental anak yang tertekan bisa menjadi jernih?
Pertanyaan itu membawa kita pada satu paradoks zaman ini.
Teknologi memang telah mendemokratisasi banyak hal, tapi yang terdemokratisasi baru informasi, belum ide.
Daron Acemoglu, dalam Power and Progress, mengingatkan: kemajuan teknologi tidak otomatis berkorelasi dengan distribusi peningkatan kesejahteraan manusia.
-
Media sosial menyebarkan informasi, tapi bukan selalu gagasan.
Yang tumbuh justru polarisasi, dan pada anak-anak muda, amnesia historis. Terlalu lekat dengan kekinian, dan terlepas dari sejarah.
Jonathan Haidt mengaitkan ini langsung dengan meningkatnya anxiety dan depresi pada generasi muda.
-
Maka jawabannya tidak berhenti pada membatasi layar.
Bahwa penting utk membudayakan kembali diskursus ide. Di meja makan, di tempat tongkrongan, di ruang-ruang tempat kita berkumpul.
Karena selama internet hanya mendemokratisasi informasi dan bukan ide, percakapan kita hanya akan semakin keruh.
Kalau jalan keluar itu kita temukan, barangkali di situlah kita mulai bisa membayangkan sebuah bangsa, sebuah kawasan, yang jauh lebih keren ke depannya.
Tanpa itu, nihil.
KDMP itu proyek pembodohan sama kayak MBG.
Polanya ya sama.
Pemerintah kasih tujuan yang susah ditolak, lalu tujuan itu dipakai buat membenarkan proyek yang desainnya amburadul dan biayanya nggak ngotak yang bikin APBN boncos.
MBG dijual dengan “anak harus makan bergizi”.
KDMP juga sama, dijual dengan “koperasi rakyat”, “melawan tengkulak”, dan “lawan kapitalisme”.
Siapa yang mau kelihatan menolak gizi anak?
Siapa yang mau kelihatan membela tengkulak dan kapitalisme?
Nah, di situ jebakannya.
Orang sibuk membela tujuannya, padahal yang harus dibongkar itu program dan niat busuknya.
1. KDMP dibentuk dulu, kebutuhan desa belakangan.
Puluhan ribu koperasi dipaksakan dari atas.
Desa butuh atau nggak, bisnisnya layak atau nggak, tetap dibangun. Pokoknya harus ada.
2. Dana desa dipotong buat proyek ini.
Total Rp34,57 triliun atau 58% Dana Desa 2026 diarahkan ke KDMP.
Pelatihan calon manajernya saja Rp1,064 triliun.
Belum gerai, gudang, kendaraan, IT, perlengkapan, sampai 1,8 juta kipas Rp1,8 triliun.
Coba u pikir?
Itu duit dari mana?
Dari langit?
3. Bangun puluhan ribu titik itu artinya bikin celah korupsi baru.
Bangunan, pengadaan, vendor, supplier, logistik, pengurus. Mark-up, vendor titipan, nepotisme, konflik kepentingan, permainan supplier.
Pemerintah bukan nabi, boy!
Lhat aja MBG, sudah banyak tersangka korupsi.
KDMP tinggal tunggu waktu.
Dan koplaknya semua ini terjadi saat utang pemerintah sudah sekitar Rp10.293 triliun!
10 ribu triliun itu banyak woy!
Harta Prabowo dikali 5000 aja masih kurang itu.
4. Kapitalisme mana yang dilawan?
Konglomerat mah tetap produksi.
Perusahaan besar ya tetap jadi supplier KDMP.
Vendor besar ya tetap dapat proyek.
Yang mati justru warung kecil, agen LPG, toko pupuk, pengepul, pedagang lokal, usaha kecil desa karena dipaksa bersaing dengan jaringan yang dibekingi negara.
Kapitalisme itu yang dimaksud?
Jadi jangan ketipu kata “koperasi”.
Karena nggak ada koperasi di dunia ini yang bikin dana desa dipotong, proyek yang dibagi-bagi. dan kegahalannya tetap ditanggung oleh uang pajak rakyat.
Erroooooo JEMBOT. Kasus kriminal nang bekasi sejak awap agustus meningkat COK. Nang cedek polsek kejadian wes ping 3. Polisi koyok figae guyonan ambek maleng. ASUUU
Kenapa banyak umat Islam yang marah ketika Surah Ad-Dhuha dijadikan challenge tukar dengan miras?
Karena Surah ini turun sebagai penghibur, penenang dan pengobat luka hati Nabi Muhammad SAW.
Ada beberapa kajian yg membahas tafsir surah Ad Dhuha, yang menurut gue paling detail dan mudah dipahami adalah penjelasan UAH di channel youtube nya.
Gue coba rangkum sedikit ya biar yg ga paham jadi tau kenapa orang Islam harus semarah itu ketika Ad Dhuha dipermainkan.
Persebaya itu bukan kurcaci pembunuh raksasa
Tapi raksasa yang membunuh raksasa
Opo maneh nti lawan Bhayangkara FC
Hemmm hemmm @HoofdbureauID
Selamat minggu ceria
Archive.
1933 vs PSBY -
Rest In Love buat cak andie peci dan salah satu teman bahkan keluarga kami yaitu M. Fauzi. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya.