Move on itu beneran ada.
Dari yang nangis terus, setiap mau tidur dan bangun tidur selalu kepikiran, setiap liat sesuatu jadi deja vu… pelan-pelan pasti bisa move on. Dan di situ kamu akan belajar apa sebenarnya arti ikhlas.
Move on itu nggak usah buru-buru. Nikmati aja rasa sakitnya, rasa nahan rindunya, dipuasin aja nangis-nangisnya. Semua cuma butuh waktu. Jangan libatin orang baru buat nyembuhin luka itu. Sembuhin sendiri aja. Bener-bener nikmatin segala prosesnya, sampai di suatu titik kamu berhenti menangis.
Dan di situ, pelan-pelan, kamu bakal nemuin lagi versi dirimu yang sempat hilang.
And find your sparks again.
In this generation, sebenernya lu cuma butuh satu jenis pasangan: yang bikin nervous system lu akhirnya bisa bilang, "You’re safe".
Bukan yang bikin jantung berdebar karena takut ditinggal.
Bukan yang bikin pikiran selalu overthinking.
Bukan yang bikin lu harus terus menebak-nebak posisi lu di hidupnya.
Kalau keberadaan seseorang cuma bisa bikin chaos, cemas, dan merusak kedamaian pikiran lu…
mending nggak usah punya pasangan.
Karena di generasi ini, ketenangan batin jauh lebih mahal daripada sekadar "punya pasangan".
This time, it’s making it hard for me to continue this relationship. The same mistakes keep happening, and it feels like I’m falling into the same hole again.
pada akhirnya hidup bukan lagi tentang "if they want to, they would." tapi lebih ke "if god has written something for you, it will find its way to you." at the right time, in the right way. karena apa yang memang tuhan takdirkan untukmu tidak akan pernah benar-benar melewatimu, dan yang bukan untukmu mau sekuat apapun kamu menggenggamnya, it will never truly stay.
Love after 25 itu beda.
Kamu sudah nggak lagi cari “spark” atau rasa yang meledak-ledak di awal.
Yang kamu cari sekarang lebih ke stability, kindness, dan shared goals.
Kamu sudah melewati fase yang penuh permainan, drama, dan butterfly yang cepat datang lalu hilang.
Sekarang yang kamu butuhkan lebih sederhana tapi lebih dalam:
peace, emotional safety, dan seseorang yang arah masa depannya sejalan dengan kamu.
Semalem gue baru belajar istilah baru
Kalian pernah denger “duck syndrome” gak?
Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri.
Kenapa dianalogiin sama bebek?
You don’t need a perfect partner. You need someone who can regulate their emotions, admit when they fuck up, & actually sit with uncomfortable conversations without shutting down, flipping it on you, or throwing low blows every time shit gets real.
gue aja sampe sekarang gak ngerti sebenernya gue lagi kehilangan apa.
yang gue tau, ada sesuatu di dalam diri gue yang pernah retak… dan gak pernah bener-bener pulih lagi.
rasanya... gak maksa minta diperhatiin. cuma diem, numpuk di dada, dan ikut gue ke mana-mana...
Udah bukan lagi masanya main tarik ulur.
Umur yang hampir nginjek kepala orang ini, cari yang sama-sama butuh, sama-sama ngerti, ga muluk-muluk cari yang sempurna, cukup yang satu frekuensi, punya arah tujuan, ga ribet dan ga drama aja udah cukup.
Hidup udah capek, masa hubungan juga harus dibikin pusing?
Cuma mau yang tenang, yang nyata, yang sepakat buat saling jaga, dan saling support, karena udah tua juga, pengennya damai☺️
date, in private.
love, in private.
live, in private.
be happy, in private.
dengan begitu kamu ga perlu sibuk mengikuti standar pasangan menurut sosmed, kalo ada masalah cukup kalian berdua yg tau dan selesaikan berdua, cause your relationship is not for public consumption.