Setelah menghabiskan waktu lebih dari satu tahun, akhirnya buku terbaru saya selesai dan siap beredar untuk publik.
Buku ini adalah terjemah dan penjelasan berbahasa Indonesia untuk kitab Lubb al-Ushul, salah satu kitab penting dalam kajian ushul fikih dan ushuluddin. (Utas)
@picoez@senncoin Menambahkan Mprop @picoez “Aku sesuai dengan persangkaan hamba kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka baginya kebaikan. Dan jika ia berprasangka buruk kepada-Ku, maka keburukan akan kembali padanya." (HR. Ahmad dan Muslim)
@AfifFuadS@dwioktariyadi Dulu sesama saudara kita sering denger “tego larane ora tego patine” sekarang demi kekuasaan dan kepentingan sudah berubah “tego larane tego patine.”
Gitu kira2 Kang @hhsahal@savicali
@BangBib4 Mbok jgn su’udzon gitu Masbib. Kl melihat video diatas, sepertinya bukan mengarah buat dipanen buahnya tapi daunnya. Kelapa kan semua bisa dimanfaatkan 😁
@Beritasatu Alasan apapun juri tetap salah. Jika ada keberatan bisa langsung diperdengarkan rekaman, diputar ulang.
Setelah ketahuan salah, simple “MINTA MAAF”
Guys, ada satu kalimat dari Dr. Bagus Muljadi — dosen di University of Nottingham, PhD dari National Taiwan University, peneliti di Imperial College London yang menurut gue adalah salah satu kalimat paling jujur tentang kondisi Indonesia yang pernah gue dengar.
"Inkompetensi itu membunuh lebih banyak daripada kejahatan."
Dan dia bukan bicara tentang kebodohan.
Dia spesifik banget membedakannya.
Kebodohan bisa datang dari lahir, dari keterbatasan akses, dari kondisi yang tidak dipilih.
Tapi inkompetensi adalah kemalasan yang dijadikan kultur secara sengaja dan kebodohan yang dari lahir yang tidak dicerdaskan, padahal bisa.
Itu dua hal yang sangat berbeda. Dan Indonesia sedang hidup dengan yang kedua.
Tentang pendidikan dan ini yang paling bikin gue panas dingin:
Ada data dari Kemdikbud sendiri yang menyebut bahwa kemampuan matematika guru SD di daerah-daerah bahkan bisa di bawah kemampuan siswa SMP di Jakarta.
Bukan guru antar guru dibandingkan.
Tapi guru dibandingkan dengan muridnya sendiri yang lebih muda.
Soal pecahan konsep yang harusnya dikuasai 100% oleh seorang guru SD masih ada yang salah.
Dan orang-orang inilah yang kita harapkan bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk jadi raksasa semikonduktor, untuk menguasai hilirisasi, untuk bersaing di dunia.
Bagus bilang dengan sangat lugas:
kalau guru SD-nya tidak punya kapasitas itu, dan kita fokus pada hal lain selain kualitas gurunya no hope.
Soal anggaran dan ini yang paling sering salah dipahami publik:
Banyak orang berpikir masalah pendidikan Indonesia selesai kalau anggarannya dinaikkan.
Naikkan gaji guru, bangun gedung baru, kasih smartboard, kasih Chromebook beres.
Bagus punya perhitungan sederhana yang membantah logika itu.
Kalau Indonesia punya 3 juta guru dan mau menggaji rata-rata Rp10 juta per bulan itu 30 triliun per bulan, atau 360 triliun per tahun.
Sementara anggaran pendidikan dari 20% APBN sekitar 400 triliun.
Hampir semua tersedot hanya untuk gaji, belum infrastruktur, belum pelatihan, belum yang lain-lain.
Artinya: anggarannya memang tidak cukup kalau hanya dilihat dari sisi angka.
Tapi yang lebih penting bahkan kalau anggarannya cukup pun, masalahnya tidak selesai.
Karena guru yang berkualitas rendah dikasih gaji tinggi tidak otomatis menjadi guru yang berkualitas tinggi.
Institusi yang mendidik guru juga harus dibenahi. Sistem rekrutmen guru harus berubah.
Kultur mengajarnya harus revolusi.
"You cannot buy yourself out of a problem."
Tentang cara mengajar yang salah dan kisah paling indah dari Taiwan:
Bagus punya pandangan yang sangat berbeda dari kebanyakan orang tentang apa itu pendidikan.
Mayoritas orang termasuk kebanyakan dosen berpikir tugas mereka adalah memindahkan pengetahuan dari mulut guru ke kepala murid.
Dicekokin.
Dihafalkan.
Dirumuskan.
Dikerjakan.
Tapi Bagus bilang pendidikan yang benar adalah memfasilitasi formasi pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di kepala murid.
Tugas guru bukan memberi tahu tugas guru adalah melatih cara mengeluarkan pemahaman itu sendiri.
Dan dia punya cerita yang menurut gue paling memorable dari seluruh podcast ini.
Di Taiwan, ada seorang profesor yang mengajar persamaan Navier-Stokes salah satu persamaan paling kompleks dalam fisika fluida.
Di tengah menulis di papan tulis tanpa slide, tanpa PowerPoint, cuma spidol dia lupa. Dia diam. Tiga sampai lima menit diam di depan kelas.
Dan seluruh kelas ikut diam bersama dia. Ikut mikir. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menertawakan.
"That was the most beautiful moment.
The whole class stood silent with him."
Itulah pendidikan yang benar. Ketika guru dan murid sama-sama sedang dalam proses menemukan sesuatu. Bukan murid menunggu guru mentransfer jawaban yang sudah jadi.
Kalau dosen cuma baca slide yang sama setiap tahun apa bedanya dengan AI? Kenapa harus ke kelas?
Tentang masalah yang lebih dalam identitas dan postkolonial mindset:
Ini yang paling jarang dibahas tapi menurut Bagus paling fundamental.
Orang Inggris kalau ditanya leluhurnya siapa, akan menyebut Isaac Newton, John Stuart Mill, Adam Smith orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.
Ada rasa malu kalau tidak menghargai pendidikan.
Orang Taiwan dan Cina membawa beban bahwa mereka adalah custodian kehormatan keluarga. Mereka harus berprestasi di dunia pendidikan.
Kalau orang Sunda atau orang Bugis ditanya leluhurnya siapa apakah ada jawaban yang sama kuatnya?
Bukan karena tidak ada.
Tapi karena narasinya tidak pernah dibangun.
Bagus sudah membuktikan bahwa tradisi jurisprudensi masyarakat Sunda kuno ada dan kompleks tujuh lapisan pemecahan masalah hukum yang jauh lebih kaya dari sekadar hukum tertulis yang kita adopsi buta-buta dari Napoleon via Belanda.
Bukti longsor tanah di Bogor 2019 ternyata pola sebarannya persis seperti yang sudah diprediksi dalam manuskrip Sunda kuno warugan lemah.
Dan ilmu bumi yang Bagus nikmati di Imperial College London batu gamping yang ada di lorong gedung itu berasal dari Sumatera. Objeknya dari Nusantara, tapi pengetahuannya dihasilkan oleh Barat.
Lagaligo kitab sastra Bugis yang panjangnya 1,5 kali lipat Mahabharata baru diterjemahkan empat dari dua belas jilid.
Seorang profesor di Unhas yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan sisanya minta dana hanya 400-500 juta untuk tiga bulan kerja tiga orang di Leiden. Tidak dapat.
Karena dianggap bukan STEM, tidak ada hilirisasinya.
Itu adalah ironi yang sangat menyakitkan.
Kita sedang membangun hilirisasi nikel sambil membiarkan hilirisasi pengetahuan leluhur kita membusuk di arsip Belanda.
Tentang berpikir cross-disipliner dan kenapa Indonesia tidak bisa:
Bagus punya cara pandang yang unik.
Dia menggunakan konsep Reynolds Number dari mekanika fluida untuk memahami perdebatan nasionalisme vs liberalisme.
Dia melihat pertarungan antara kolektivisme dan individualisme seperti pertarungan antara inertial forces dan viscous forces dalam aliran fluida.
Terlalu banyak nasionalisme kaku tanpa ruang individu turbulen, kacau.
Terlalu banyak liberalisme tanpa kohesi sosial juga tidak stabil.
Seorang engineer tidak bertanya mana yang benar. Dia bertanya mana yang optimal.
Tapi di Indonesia, orang yang berpikir lintas disiplin seperti itu justru dianggap aneh atau tidak kompeten karena keluar dari "domain"-nya.
Padahal di luar negeri, justru itulah yang membuat seseorang bisa jadi permanent academic karena dia bisa menjawab masalah dari berbagai arah.
Kalimat terakhir yang paling gue ingat:
"Berpikir itu kodratnya the Dutch colonizers, bukan kita. Kita makannya kerja."
Itu bukan kalimat yang dibuat-buat. Itu adalah warisan mental tiga ratus tahun yang masih mengalir dalam cara kita mendidik anak, cara kita merekrut guru, cara kita menghargai intelektualitas.
Sampai kita berani bilang ke dunia bahwa ilmu pengetahuan itu bukan monopoli Barat bahwa Nusantara adalah sumber,
bukan hanya objek penelitian kita tidak akan keluar dari feodalisme yang mengungkung kemampuan berpikir kritis itu.
Menanam mangrove sampai seperti ini itu tidak mudah.
Membawa bibit di lumpur, membuat rumpon utk perlindungan mangrove dari gelombang, belum lagi risiko hewan.
Kalo udah besar, dari tangkapan kepiting saja rata-rata bisa menambah pendapatan masyarakat 300 ribu per orang per malam.
Gitu kok malah dirusak.
jingan!!! 😡😡😡😡
Selamat merayakan Idul Fitri 1447 H sukacita serta berbehagia bersama keluarga. Mohon maaf lahir batin. TaqabbalalLahu minna waminkum taqabbal ya kariiim, ja’alanalLahu waiyyakum minal ‘aidin walfaiziiin…