Kekayaan alam dikasih asing
Jabatan di kasih timses
Gaji tinggi dikasih pejabat
Proyek dikasih jajaran
Dikritik dianggap benci pemerintah
Hutang Rp 10.000 triliun di kasih ke rakyat
DI JAJAH SAMA BANGSA SENDIRI
Elu dipajakin dari A sampai Z.
A) Gaji tiap bulan dipotong pajak,
B) THR juga kena pajak,
C) Dapet bonus kena pajak juga,
D) Beli barang mahal kena pajak barang mewah,
E) Rumah kena pajak bumi dan bangunan,
F) Motor harus bayar pajak tiap tahun,
G) Mobil juga bayar pajak tiap tahun,
H) Belanja di supermarket tiap itemnya kena pajak,
I) Makan di restoran kena pajak,
J) Beli barang di luar negeri juga bayar bea cukai,
K) Bunga tabungan kena pajak juga dari negara,
L) Apply kerjaan pakai meterai, bayar ke negara,
M) Resign kerjaan juga bikin surat pernyataan pakai meterai,
N) Harga meterainya dinaikin dari 6000 ke 10000, naik 67%.
O) Ditilang juga bayarnya ke negara,
P) Bikin SKCK juga bayar ke aparat negara,
Q) Beli tanah kena pajak,
R) Beli rumah kena pajak,
S) KPR kena pajak,
T) Bayar listrik kena pajak,
U) Beli pulsa kena pajak,
V) Bayar internet kena pajak,
Yang elu dapet:
1) MBG
2) Kopdes Merah Putih
3) Sekolah Garuda
4) UKT masih tetep mahal
5) Presiden keliling dunia, pidato, keliling dunia, pidato ...
6) Wapres keliling Indonesia bagi-bagi bansos
7) Pemadaman bergilir
8) Pertamax naik
9) Korupsi BGN
10) Dubes negara lain dibiarin nunggu berbulan-bulan
11) Hakim gajinya naik, ada yang sampai 300%, tapi guru enggak
12) Kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Uangnya gak adaaaa
13) Rupiah terendah sepanjang sejarah terhadap dolar
14) Cari kerja masih susah
15) Lima orang meninggal dunia pas training jaga toko kelontong
16) Mahasiswa BEM demo terima duit dari polisi.
17) Demo dukung MBG dapet panci, goodie bag, sama duit 100 ribu
Udah coba rekap semaleman. Dari 57 Wamen yang ada di Kabinet, 37 diantaranya merangkap jabatan sebagai Komisaris BUMN.
Persentase nya nyentuh angka 64.9%. Ini bukan lagi pencilan atau anomali, ini angka yang besar, bahkan bisa dikatakan MAYORITAS. Dan ini baru Wamen, belum petinggi dan pejabat lembaga atau badan setingkat menteri.
Awalnya mau bedah nama satu-satu, tapi dari angka itu seharusnya sudah menjelaskan, tidak perlu dibedah, kalian coba cari contoh 10 Wamen, seharusnya 6-7 diantaranya merangkap Komisaris BUMN.
Maaf ya teman-teman, jujur panik bahas hal ini, apalagi ada riwayat akun kena suspend, followers belum besar, tiba-tiba dapet impresi tinggi, jadi masih belum berani. Mungkin pertimbangannya bakal tulis artikel aja nanti untuk detail lengkapnya.
Btw ada nama "lucu" lagi di jajaran Komisaris BUMN, bukan akademisi, bahkan riwayat pendidikannya pun saya tidak nemu, mungkin bakal spill tipis kayak sebelumnya.
Yg bikin gedeg dari kasus komisaris BUMN ini tuh bukan cuma soal siapa yg diangkat, tapi pesan sosial yg dikirim ke publik.
Di saat (((RATUSAN RIBU))) fresh graduate berjuang cari kerja, ikut seleksi berlapis, ditolak berkali-kali, ada orang2 yg kariernya melesat bukan karena kapasitas, tapi karena kedekatan, loyalitas politik, dan kemampuan menjilat.
Akhirnya yg rusak bukan cuma tata kelola BUMN, tapi juga kepercayaan anak muda bahwa kerja keras punya tempat yg adil di negeri ini.
Ada sepupuku, laki-laki. Menikah di usia 21 tahun. Demi menghidupi keluarga, dia rela mengerjakan apa saja. Pernah jadi kuli, narik ojek, sampai kerja serabutan di Bogor. Sementara itu, salah satu om di keluarga punya toko bangunan besar dan hidup berkecukupan.
Setiap ada kumpul keluarga atau arisan, sepupuku hampir selalu jadi bahan perbandingan. Dia sering dianggap sebagai cucu yang paling gagal. Pertanyaan dan komentar yang diterimanya juga nggak enak didengar.
"Kerja kamu kok gitu-gitu aja?"
"Anakmu sekolah di tempat gratis aja, biar nggak nambah beban."
"Nikah muda, kasihan nanti istrimu."
Semua itu diucapkan di depan banyak orang. Tapi dia nggak pernah membalas. Dia cuma diam, menunduk, lalu lanjut bantu angkat galon atau beres-beres seolah nggak terjadi apa-apa.
Yang nggak banyak orang tahu, setiap pulang dari acara keluarga dia memilih jalan kaki beberapa kilometer karena ongkos angkotnya lebih baik dipakai beli susu buat anaknya. Cerita itu bahkan baru aku tahu bertahun-tahun kemudian.
Suatu hari ayahnya harus operasi dan butuh biaya sekitar Rp1,2 juta. Dia sempat mencoba meminjam uang ke omnya, tapi ditolak dengan alasan kondisi usaha juga sedang pas-pasan. Malam itu juga dia menjual satu-satunya motor yang dimiliki dengan harga jauh di bawah pasaran karena butuh uang secepatnya. Sejak saat itu dia bertekad untuk berhenti bergantung pada siapa pun.
Dia nggak marah, nggak ribut di grup keluarga, juga nggak bikin status menyindir. Dia memilih fokus memperbaiki hidupnya. Bermodal laptop bekas hasil utang ke teman dan belajar dari video di internet, dia mulai mendalami desain grafis dari kamar kontrakan yang sederhana.
Awalnya nggak mudah. Puluhan pelaku UMKM menolak hasil desainnya. Ada yang bilang hasilnya masih jelek. Dia tetap belajar sambil hidup sangat sederhana. Makan seadanya, tidur beberapa jam saja, yang penting tetap bisa berkembang.
Sampai akhirnya ada satu warung kecil yang mau mencoba jasanya. Dari proyek kecil itu, dia terus belajar pemasaran dan membangun portofolio. Klien mulai bertambah sedikit demi sedikit karena rekomendasi dari mulut ke mulut.
Beberapa tahun kemudian, sebuah kontraktor besar tertarik dengan hasil kerjanya dan memberikan proyek branding bernilai puluhan juta rupiah.
Dari sana usahanya berkembang pesat hingga mampu membuka percetakan sendiri dan mempekerjakan belasan karyawan. Bahkan kini, usahanya menjadi salah satu pemasok kebutuhan percetakan untuk banyak toko bangunan di daerahnya, termasuk toko milik om yang dulu sering meremehkannya.
Yang paling membuatku kagum terjadi saat omnya sedang mengadakan hajatan dan kekurangan dana beberapa hari sebelum acara. Sepupuku datang tanpa membawa rasa dendam. Dia membantu kebutuhan percetakan acara, membawa beberapa karyawannya, bahkan menggratiskan semua sebagai hadiah pernikahan untuk anak omnya.
Dia nggak pernah mengungkit semua perlakuan yang dulu pernah diterimanya. Menurutnya, balasan terbaik bukanlah membuat orang yang pernah meremehkan kita merasakan penderitaan yang sama, melainkan membuktikan bahwa kita bisa berhasil tanpa kehilangan sikap baik kepada orang lain.
Ada sepupuku, laki-laki. Menikah di usia 21 tahun. Demi menghidupi keluarga, dia rela mengerjakan apa saja. Pernah jadi kuli, narik ojek, sampai kerja serabutan di Bogor. Sementara itu, salah satu om di keluarga punya toko bangunan besar dan hidup berkecukupan.
Setiap ada kumpul keluarga atau arisan, sepupuku hampir selalu jadi bahan perbandingan. Dia sering dianggap sebagai cucu yang paling gagal. Pertanyaan dan komentar yang diterimanya juga nggak enak didengar.
"Kerja kamu kok gitu-gitu aja?"
"Anakmu sekolah di tempat gratis aja, biar nggak nambah beban."
"Nikah muda, kasihan nanti istrimu."
Semua itu diucapkan di depan banyak orang. Tapi dia nggak pernah membalas. Dia cuma diam, menunduk, lalu lanjut bantu angkat galon atau beres-beres seolah nggak terjadi apa-apa.
Yang nggak banyak orang tahu, setiap pulang dari acara keluarga dia memilih jalan kaki beberapa kilometer karena ongkos angkotnya lebih baik dipakai beli susu buat anaknya. Cerita itu bahkan baru aku tahu bertahun-tahun kemudian.
Suatu hari ayahnya harus operasi dan butuh biaya sekitar Rp1,2 juta. Dia sempat mencoba meminjam uang ke omnya, tapi ditolak dengan alasan kondisi usaha juga sedang pas-pasan. Malam itu juga dia menjual satu-satunya motor yang dimiliki dengan harga jauh di bawah pasaran karena butuh uang secepatnya. Sejak saat itu dia bertekad untuk berhenti bergantung pada siapa pun.
Dia nggak marah, nggak ribut di grup keluarga, juga nggak bikin status menyindir. Dia memilih fokus memperbaiki hidupnya. Bermodal laptop bekas hasil utang ke teman dan belajar dari video di internet, dia mulai mendalami desain grafis dari kamar kontrakan yang sederhana.
Awalnya nggak mudah. Puluhan pelaku UMKM menolak hasil desainnya. Ada yang bilang hasilnya masih jelek. Dia tetap belajar sambil hidup sangat sederhana. Makan seadanya, tidur beberapa jam saja, yang penting tetap bisa berkembang.
Sampai akhirnya ada satu warung kecil yang mau mencoba jasanya. Dari proyek kecil itu, dia terus belajar pemasaran dan membangun portofolio. Klien mulai bertambah sedikit demi sedikit karena rekomendasi dari mulut ke mulut.
Beberapa tahun kemudian, sebuah kontraktor besar tertarik dengan hasil kerjanya dan memberikan proyek branding bernilai puluhan juta rupiah.
Dari sana usahanya berkembang pesat hingga mampu membuka percetakan sendiri dan mempekerjakan belasan karyawan. Bahkan kini, usahanya menjadi salah satu pemasok kebutuhan percetakan untuk banyak toko bangunan di daerahnya, termasuk toko milik om yang dulu sering meremehkannya.
Yang paling membuatku kagum terjadi saat omnya sedang mengadakan hajatan dan kekurangan dana beberapa hari sebelum acara. Sepupuku datang tanpa membawa rasa dendam. Dia membantu kebutuhan percetakan acara, membawa beberapa karyawannya, bahkan menggratiskan semua sebagai hadiah pernikahan untuk anak omnya.
Dia nggak pernah mengungkit semua perlakuan yang dulu pernah diterimanya. Menurutnya, balasan terbaik bukanlah membuat orang yang pernah meremehkan kita merasakan penderitaan yang sama, melainkan membuktikan bahwa kita bisa berhasil tanpa kehilangan sikap baik kepada orang lain.
Berita di TV Thailand: 400 siswa keracunan MBG di Bengkulu
***
Terjadi kasus anak-anak keracunan MBG, dan kali ini jumlahnya mencapai 400 anak.
Mereka adalah para pelajar, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, dengan rentang usia sekitar 4–12 tahun, di Provinsi Bengkulu.
Mereka semua dibawa ke rumah sakit setempat karena mengalami sakit perut pada hari Kamis lalu setelah menyantap makanan dari program tersebut.
Berita di ABC News, TV Australia 🇦🇺
- Kepala BGN Dadan Hindayana dipecat Selasa malam
- Rabu siang, Kepala BGN dan 2 wakilnya ditangkap
- MBG memakan anggaran sekitar 2 juta dolar Australia
- Tapi kasus keracunan makanan sampai puluhan ribu
- Korupsinya manipulasi pengadaan motor listrik, pengadaan TV, penunjukan vendor, dan kongkalikong yayasan SPPG
Sebenarnya banyak yg gini. Kalian tau Taufik Hidayat? Dia juga komisaris PLN, apa hubungannya? Gaada, dia politisi Gerindra. Btw dia juga rangkap jadi Wamen Olahraga.
Fun fact nya, ada 30-an Wamen yang juga rangkap jabatan jadi Komisaris BUMN, kue yang sangat enak. Ulik ga nih?
"bu, saya lihat profil ibu, saya kepengen lanjut kuliah ke ln bu, saya mau tanya-tanya soal studi lanjut dan beasiswa..."
😭😭😭 COME!!! HERE!!! 😭😭😭
seneng bgt tiap ada yg mau lanjut studi, apalagi ke luar negeri. ayo belajar setinggi-tingginya! yg bodoh biar si pragib aja.