Marcus Rashford thought his time at Manchester United was over.
United probably thought the same.
And yet, 20 months later, he was back at Old Trafford in a No. 9 shirt. And weirdly enough, it just felt right.
Bukan berarti Rashford tiba-tiba sudah balik ke versi terbaiknya. Belum sejauh itu. Tapi lawan Ipswich kemarin, ada beberapa hal yang bikin optimistis.
• Masih punya pace dan ball-carrying yang bisa mengubah situasi.
• Partnership dengan Luke Shaw masih punya chemistry yang kuat.
• 7 chances created musim ini, hanya Morgan Rogers yang punya lebih banyak di Premier League.
• Kontribusi tanpa bolanya juga jauh lebih terlihat, sesuatu yang dulu sering jadi bahan kritik.
Dan mungkin ini yang paling penting: Rashford sekarang nggak perlu menjadi pusat dari semuanya. Ada Bruno. Ada Cunha. Ada Mbeumo. Ada Sesko.
Beban yang dulu ada di pundaknya sekarang terbagi. Mungkin justru itu yang dibutuhkan Rashford. Dia pergi untuk mencari restart. Barcelona memilih untuk tidak mengaktifkan €30m buy option. United kemudian melihat bahwa mempertahankan dia mungkin jauh lebih masuk akal daripada mencari pengganti baru.
Sekarang tinggal satu hal: konsistensi.
Satu pertandingan jelas belum cukup buat bilang Rashford sudah kembali. Tapi kalau effort, hunger, dan level permainan seperti ini terus muncul setiap minggu, United mungkin baru saja mendapatkan “new signing” tanpa mengeluarkan satu pound pun.
Dan Rashford masih punya beberapa angka yang bisa dikejar.
11 gol lagi untuk 100 gol di Premier League.
12 gol lagi untuk 150 gol bersama Manchester United.
Maybe the comeback story isn’t over just yet.
Berbagai lapisan masyarakat dan sejumlah elemen mahasiswa dari sejumlah universitas masih menggelar demonstrasi di depan gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/08) sore.
Massa tak hanya menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset. Kritik terhadap MBG, KDMP, hingga penanganan bencana gempabumi di NTT dan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. https://t.co/1GzRX3JzhY
Kata-kata motivasi dari David De Gea, beberapa saat setelah MU kalah dari Hull City. "Bukan bagaimana awalnya, tetapi bagaimana akhirnya."
Yang paling penting bukan bagaimana sesuatu dimulai, tetapi bagaimana akhirnya nanti. 😹
Ex kiper MU yang kini main di Fiorentina itu, nampaknya masih mengikuti perkembangan MU