Waktu sama PDIP nggak ada yg bisa ganggu Jokowi.
Kalau ada, PDIP di DPR langsung bela.
Tapi setelah berkhianat dari PDIP.
Masalah terus datang ke Jokowi.
Yang terbaru ijazah Gibran.
Yang bela cuma PSI, di DPR nggak ada.
Betul kata ibu Mega, Jokowi tanpa PDIP, aduh kasian dah.😁
Saya gak terikat dengan individu atau kepentingan politik tertentu. Saya cuma posting soal kampus saya dan pengalaman saya kuliah di sana.
Saya seorang alumni, jadi tentu aja saya tersinggung ketika kampus saya dihina sebegitunya di media sosial, apalagi oleh orang yang cuma modal Google, ChatGPT, gambar AI, atau sekadar ikut termakan isu.
Adalah sangat wajar jika saya membela kampus tempat saya pernah belajar, bertumbuh, dan memiliki pengalaman langsung di sana.
Sini saya jelasin Kak, kebetulan saya juga lulusan MDIS. Saya jelasin berdasarkan pengalaman saya ya, bukan dari Google atau ChatGPT. Tolong dibaca sampai habis, karena penjelasan saya panjang.
Banyak orang ngeledek dan menghina berdasarkan peringkat yang dikeluarkan di tahun 2025. Perlu digaris bawahi, MDIS itu kampus swasta tertua di Singapore, di tahun saya masuk, atau bahkan di tahun Gibran masuk, MDIS masih jadi kampus yang layak diperhitungkan.
Bahkan sampai tahun 2020 sendiri, MDIS masih menang kompetisi International melawan kampus-kampus lain di Singapore, saya lampirkan foto di bawah, bisa dilihat dengan jelas. Kebetulan saat itu saya dan tim berhasil membawa kemenangan untuk MDIS di ajang kompetisi Internasional.
Dan perlu diingat, tiap kampus itu punya jurusan unggulan, dan untuk saat itu, MDIS termasuk unggulan untuk jurusan komunikasi, marketing, pariwisata, jurusan tersebut sering menang kompetisi.
Komparasinya di tahun itu belum banyak kampus swasta yang lebih baik dari MDIS. MDIS punya gedung sendiri, punya asrama mahasiswa, lapangan, gym, studio, kantin, ruang praktek, dll, the whole building layaknya kampus besar. Dibanding kampus swasta lain yang pada saat itu bahkan gak punya gedung perkuliahan sendiri.
Tapi memang, MDIS gak bisa dibandingkan dengan NUS atau NTU, karena mereka itu kampus negri. Seleksinya jauh lebih ketat dan saingannya juga warga lokal yang dari awal memang sudah prepare buat bersaing untuk masuk kampus negri.
Dan gak cuma MDIS kok, kampus swasta di Singapore memang gak ngeluarin gelar Bachelor, Master, atau PhD atas nama institusinya sendiri. Mereka cuma bisa ngeluarin certificate sampai program Diploma/Higher Diploma/Advanced Diploma (istilah bisa berbeda tiap kampus).
Untuk program degree, kampus swasta di Singapore WAJIB bekerja sama dengan universitas luar negeri. Sebut aja: MDIS, Kaplan, PSB, SIM, Curtin, dll.
Kuliah degree di kampus swasta, ijazahnya dikeluarkan oleh PARTNER University-nya. Misal:
• MDIS punya partner universitas di UK
• Kaplan kerjasama dengan universitas dari UK, Australia, Ireland
• PSB sama universitas Australia dan UK
• SIM salah satu partnernya itu MIT dari US
• Curtin Singapore sendiri adalah kampus dari Curtin University Australia.
Intinya, sistem kerjasama antara kampus swasta di SG berpartner dengan kampus lain di luar negri itu memang dibuat supaya penyelenggara pendidikan swasta gak asal buka program lalu cetak gelar sendiri.
Kalau di Indonesia mungkin orang terbiasa liat kampus swasta ngeluarin ijazah atas nama kampusnya sendiri, walaupun kampusnya antah berantah, akreditasi C, bahkan gak punya gedung, dll, di Singapore gak bisa begitu.
Dan range harga untuk masuk di kampus-kampus tersebut itu bervariasi banget, dari ratusan juta sampai MILYARAN. Dan tentulah setiap orang yang mau masuk kampus swasta, pasti bakal membandingkan berbagai hal: fasilitas, modul pembelajaran, biaya, dll, mana yang paling worth buat tiap orang pasti berbeda.
Terus ada juga yang bilang, “Lulusan MDIS gak diterima jadi PNS Singapore.” Maaf banget Kak, tapi gak semua orang di Singapore punya cita-cita jadi civil servant.
MDIS sendiri punya jalur internship untuk program tertentu. Pekerjaan pertama saya justru saya dapat dari internship yang difasilitasi melalui MDIS.
Teman-teman seangkatan saya pun sampai sekarang fine-fine aja bekerja di berbagai perusahaan, baik di Singapore maupun negara lain. Alumni MDIS juga datang dari berbagai negara, dan di angkatan saya sendiri ada banyak warga lokal Singapore yang kuliah di sana.
Jadi kalau mau kritik ranking atau kualitas suatu kampus, silakan. Tapi jangan pakai ranking tahun 2025 untuk menghakimi keputusan orang yang kuliah bertahun-tahun sebelumnya. Sebelum menghina, minimal pahami dulu cara sistemnya bekerja. Terima kasih 🙏🏻
@GunRomli Singapore salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia,di bidang Stem no 1 dunia.
MDIS UNIVERSITY OF SINGAPORE& ORCHID COLLEGE SECONDARY SCHOOL ada di websitenya: GIBRAN LULUS.
Pak Guntur berbohong menipu rakyat Indonesia dgn argumen sesat menjelek2an Gibran.
Menyelesaikan S1 di luar negeri selama 3 tahun, pas penyetaraan di Indonesia hanya diakui setara Diploma 3
Banyak yang seperti ini, bagaimana caranya supaya bisa diakui setara S1?
Ayo yang punya pengalaman coba share, kalau pengalaman sahabat saya: ambil 1 unit credit magang.
Ada yang lain?
Gue jelasin pakai bahasa bayi yaa 😭
Gibran memang nggak punya ijazah yang setara SMA.
Walaupun dia sempat mengambil pathway, dia disebut nggak menyelesaikan sekolahnya sampai akhir. Jadi dokumen yang dilampirkan ke KPU itu sertifikat kehadiran, semacam bukti absensi selama sekolah, bukan ijazah kelulusan.
Konyol banget kan? 😂😂😂