@kring_pajak Kak, jika ada invoice dari Shopee, di keterangannya tertulis include PPN, Apakah atas PPN tersebut boleh diinput di dokumen lain sebagai Pajak Masukan? Kalau tidak bisa, adakah caranya agar bisa dimasukkan sebagai Pajak Masukkan?
Thankz
Di korporat, ada satu yang terjadi ampir setiap hari:
Tim Data bikin dashboard super kompleks di Tableau/Looker Studio. Grafiknya estetik, rumusnya njulimet, metriknya lengkap.
Tapi pas disajiin ke Tim Bisnis/Ops? Jawaban mereka cuma: "Oke makasih ya..."
Lalu balik lagi pake naluri dan spreadsheet manual mereka yang lama.
Yuk kita bahas:
10 bab, 65 halaman sebuah pengantar mengenal dan memahami apa itu Liquidity Pools dan Implikasi realnya dalam setiap perdagangan.
bisa dishare, diprint dan di download:
https://t.co/vd8Rw33Wou
izin tag especially @MeteoraIDN@met_lparmy pak @bengsharksol, pak @0xyunss, pak @arip13741167, pak @Voidgoesbrr, dan my bubub @eisbedog
hehe maaf jika masih terlalu basic, dan semoga ke depan ada materi yang lebih mendalam dengan contoh lebih real & rigid.
Gaes jadi gw punya satu catetan dokumen pribadi buat nego gaji.
Ini tuh kayak template buat nego gaji dan benefit dengan berbagai situasi
Buat yang butuh, bisa langsung cek aja yaa
Kalau dirasa ini bermanfaat, bisa tolong like dan repost yaa
Silakaan
https://t.co/43Yo58AfB0
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
"Itu tandanya kamu belum profesional, Mas!"
Saya pernah cerita ke dosen, kalo pernah di posisi hidup berantakan. Organisasi gak maksimal dan akademik turun nilainya. Rasanya kayak pengen nyerah.
Dan saya pun diberi nasihat kurang lebih begini:
"Kamu belum profesional, saat menyalahkan mata kuliah atau waktu yg sedikit. Yg salah itu bukan tugas kuliahnya atau organisasinya, tapi kamu mas, yg gagal memenej itu semuanya.
"Jangan jadikan gak suka atau sulit sebagai alasan. Itu adalah menu yg harus kamu habiskan. Kegagalan itu karena kamu sendiri belum bulat tekadnya untuk menyelesaikan tanggung jawab. Itu belum profesional namanya."
"Mas, tau tidak, saat memutuskan untuk kuliah atau ikut organisasi. Itu artinya sudah membuat kontrak. Coba itu yg perlu dipikirkan dulu. Cari masalahnya apa, cari solusi sampai ketemu. Harus punya alasan untuk tetap berusaha."
Ada masalah? Cari jalan keluar. Lagi demot? Istirahat bentar. Dan segera cari alesan buat tetep melakukan. Kadang banyak orang yg males/demot/capek, tapi mereka gak ada opsi lain selain tetep kerja.
Ada yang udah liat kasus ini ?
Awal baca berita ini, saya pikir cuma kasus kriminal rumah tangga biasa.
Suami bunuh mertua.
Istri dianiaya.
Selesai.
Tapi setelah baca lebih banyak tentang hidup pelakunya, saya jadi sadar… kadang hidup bisa menghancurkan orang pelan-pelan sampai akhirnya dia meledak di titik terburuknya.
Yanto kerja serabutan.
Kadang jadi badut, kadang jual balon.
Sering cari nafkah sambil bawa anak kecilnya keliling panas-hujan.
Katanya istrinya selingkuh.
Tekanan ekonomi terus.
Sering dianggap gagal jadi kepala keluarga.
Dan di hari itu, semuanya pecah.
Yang dia lakukan tetap salah dan hukum juga tetap harus jalan.
Tapi saya juga nggak bisa bohong, ada sisi tragis dari cerita ini.
Karena kadang orang nggak hancur karena satu masalah besar…
tapi karena luka kecil yang dikumpulkan bertahun-tahun.
Jadi keinget quote Joker:
“Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.”
Bukan pembenaran buat kriminal.
Tapi memang ada orang yang terlalu lama bertahan, sampai akhirnya muak jadi “baik”.
Dan yang paling sedih mungkin anaknya.
Karena sebelum semua ini terjadi, di mata anak itu… ayahnya cuma seorang pejuang keluarga.. 🥲
Cr 📽 https://t.co/bxVWuOq2dL
Kalau kamu sering ga fokus, wajib baca ini:
Pernah ga ngerasa pikiran kebagi2 pas lagi ngerjain banyak hal sekaligus?
Lagi ngerjain skripsi, tp pikiran ke tugas yg lain. Lagi meeting pekerjaan, tp hati mikirin deliverable projects.
Padahal otak itu ga bisa multitasking.
Meski rasanya capek bgt, kebanyakan dari kita malah "nyaman" dgn itu. Meskipun otak terlihat multitasking, yg sebenarnya terjadi cuma task-switching atau pindah perhatian dgn cepat.
Tiap kali pindah perhatian:
- Ada "biaya" mental yang harus dibayar
- Energi jd lebih cepat habis
- Kesalahan jd lebih banyak
- Kepuasan kerja pun hilang.
Menurutku, multitasking itu cuma ilusi produktivitas, malah bikin lebih banyak gangguan daripada bantuan.
Apa pendapatmu?
10 GitHub repos to spend 60-90% less tokens in Claude Code:
1. RTK (Rust Token Killer)
CLI proxy that filters terminal output before it hits your context
- 60-90% reduction on common dev commands
- one binary, zero dependencies
- works with Claude Code, Cursor, Copilot
Repo: https://t.co/WayvpBtyBH
2. Context Mode
Sandboxes raw tool output into SQLite instead of dumping it into context
- 98% context reduction on Playwright, GitHub, logs
- only clean summaries enter your conversation
- works as Claude Code plugin
Repo: https://t.co/YNbFIGQz7X
3. code-review-graph
Local knowledge graph that maps your codebase with Tree-sitter
- Claude reads only what matters, not the entire repo
- 49x token reduction on large monorepos
- 6.8x on average reviews
Repo: https://t.co/9gIzmAWN12
4. Token Savior
MCP server that navigates code by symbols, not full files
- 97% reduction on code navigation
- persistent memory across sessions
- 69 tools, zero external deps
Repo: https://t.co/OtvhrMgGWh
5. Caveman Claude
makes Claude talk like a caveman to cut output tokens
- 65-75% output reduction
- one-line install
- keeps full technical accuracy
Repo: https://t.co/onBeghTyfH
6. claude-token-efficient
one CLAUDE.md file that keeps responses terse
- drop-in, no code changes
- reduces output verbosity on heavy workflows
- best for output-heavy sessions
Repo: https://t.co/j6MKo9klQe
7. token-optimizer-mcp
MCP server with caching, compression, and smart tool intelligence
- 95%+ token reduction through intelligent caching
- compresses repeated tool outputs
Repo: https://t.co/0jIVQ4ANls
8. claude-token-optimizer
reusable setup prompts for optimizing any project
- 90% token savings in 5 minutes
- reduces doc token usage from 11K to 1.3K
Repo: https://t.co/puil9WwFGB
9. token-optimizer
finds ghost tokens that silently eat your context
- survives compaction without losing quality
- fixes context quality decay
Repo: https://t.co/92G8e4yeGq
10. claude-context (by Zilliz)
code search MCP that makes your entire codebase the context
- ~40% reduction with equivalent retrieval quality
- hybrid BM25 + dense vector search
Repo: https://t.co/yjfiQOSy15
[ how to stack them ]:
you don't need all 10. pick 2-3 based on your workflow:
> heavy terminal output? RTK
> big codebase? code-review-graph + Token Savior
> lots of MCP servers? Context Mode
> quick fix? Caveman + claude-token-efficient
most people are burning tokens without knowing it
run /context in a fresh session and see how much is gone before you even type a word
your pocket will thank me later :<)