Alih-alih meminta warga untuk memahami presiden, kenapa tidak mengajak presiden supaya memikirkan 2-5 kali pernyataannya sebelum benar-benar diucapkan?
Saya kira tugas warga cukup berat, yaitu: bertahan hidup, dan membayar pajak.
Jangan ditambahi.
Ini efek samping yang buruk dari civil disobedience, ketika ketidakpercayaan terhadap oenegakan hukum sudah memuncak, rakyat akan mulai main hakim sendiri
Kalau tidak ada mitigasi dan pengorganisiran diri di level akar rumput, hal seperti ini akan terjadi karena arahnya jadi mob mentality, dan ini sepenuhnya adalah salah pemerintah lokal maupun pusat karena akar permasalahannya adalah ketidakpercayaan pada penegakkan hukum
...Masih jadi misteri sejak dulu:
Kenapa kita bisa sebuas itu kepada penjahat kelas teri?
Tapi kok melempem pada penjahat kelas kakap?
Harusnya penjahat² seperti Mulyono dsj yang layak dapat amuk massa... (``,)
Hukum Formal memang tidak mengenal sebab akibat. Yg diproses adl 'sedang melakukan apa'. Hukum tdk mau tau 'disebabkan' oleh apa; lapar, kalut, iseng, atau memang sdh profesinya. Benar² kita hnya mengandalkan Hakim agar sbuah tindakan kriminal ditimbang sedari ujung sampai pangkal.
Kacaunya, hakim & seluruh perangkat hukum di Ind bersama-sama membajingani rakyat; bisa dibeli.
Tak kalah kacau, masy menganggap sbuah tangkapan kriminal itu harus dirayakan. Layaknya sebuah prestasi yg it must be celebrate. Mereka tidak sadar berada di kelas yg sama dg korban, hanya nasib dan kewarasan saja yg berbeda.
Oke, negara pasti punya peran tdak langsung menciptakan peluang² kriminalitas. Tapi mengHakimi seorang pencuri hingga tewas, menjadikan peluang negara ini utk berbenah semakin kecil. Parah. Cangkemu misuhi pemrentah, tapi kelakuanmu tak ada bedanya. Merayakan kematian seorang pencuri yg dimassa, adalah Bajingan.
Dongaku kanggomu adik ❤️
Berturut-turut membaca kabar kekerasan seperti ini benar-benar membuat ngeri. Sebelumnya, pencuri ayam dihakimi massa hingga tewas. Satpam di Cirata ditenggelamkan dengan tangan terikat, pelakunya diduga para remaja. Kini muncul lagi kekerasan massa di Menteng?
Sulit menganggap semua ini sekadar peristiwa yang berdiri sendiri. Jangan-jangan ini gejala dari sesuatu yang lebih dalam, apakah kita mendekati runtuhnya kepastian hukum dan wibawa negara?
Ketika koruptor triliunan rupiah bisa tersenyum tanpa borgol dan rompi tahanan, satpam yang menegur pengemudi Alphard karena melanggar hak pejalan kaki justru dipermalukan, sementara jurnalis dan media yang mengkritik sekolah rusak malah dicap “londo ireng”, publik melihat hukum berjalan dengan standar yang berbeda.
Jika hukum kehilangan kewibawaannya, sebagian orang mulai merasa berhak menjadi hakim di jalanan. Dan itulah pertanda yang paling mengkhawatirkan.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Wahai manusia, orang-orang sblm kalian itu hancur disebabkan karena ketika ada orang 'besar' di antara mereka yang mencuri, mereka biarkan. Namun, ketika ada orang 'kecil' di antara mereka yang mencuri, mereka langsung menghukumnya dgn keras.”
Di hari yg sama ia melihat dua berita.
Yang satu, seorang ayah mati karena mencuri ayam. Dikeroyok. Anak gadisnya menangis.
Yang satu, koruptor. Tertawa-tawa di depan kamera. Tidak dikeroyok siapa-siapa.
Belum.
Melihat berita ini kok sedih sekali ya. Seorang anak menangis memanggil ayahnya untuk terakhir kali. Ayahnya tewas dihajar massa hanya karena dituduh mencuri seekor ayam.
Tidak ada pencurian yang boleh dibenarkan. Tapi itu mestinya tidak boleh dijadikan alasan untuk menghilangkan nyawa tanpa proses hukum.
Ironisnya, di negeri yang sama, orang-orang yang diduga menggarong uang negara triliunan rupiah masih bisa tersenyum manis di depan kamera. Tanpa borgol. Tanpa rompi tahanan. Bahkan masih berani minta doa agar terpilih lagi.
Begitu jelas borok hukum kita. Dan yang pelan-pelan mati adalah rasa malu, rasa keadilan, dan sisa-sisa kemanusiaan bangsa ini.
Beliau berbicara dengan hati, dengarkan ucapan beliau sampai bergetar.
Pada podcast ini, pada menit 15 beliau hampir menangis.
Media Wahyudi Askar (CELIOS)
Dulu, pernah ada ibu yang hamil tua di Karimunjawa. Ada puskesmas di sana, tapi tak memadai, jadi dirujuk ke Jepara.
Karimunjawa ke Jepara harus naik kapal, sekital 90 mil.
Susah payah mencari kapal, akhirnya persalinan di tengah laut. Anaknya meninggal.
Tapi presiden kita lebih memprioritaskan:
- MBG
- KDMP
- URI
- Sekolah Rakyat
Pak, kalau sanksinya hanya tilang, ini bisa jadi preseden buruk buat Jakarta. Kebijakan ganjil genap tidak akan efektif dan kemacetan berpotensi lebih parah. Selain itu bisa berdampak ke pendapatan pajak kendaraan.
Pajak air, ya emang kita pake.
Pajak listrik, karena kita gunakan.
Wajar, instalasinya gak murah.
Lah kalo pajak motor itu pie konsepnya.
Beli sendiri, perawatan sendiri.
Buat perawatan jalan? Lah iku dalane amburadul, penerangan ya embuh.
Ternyata pakai plat palsu dan nerobos lampu merah bisa beres dengan salaman kaya gini aja. Bahkan aparat polda jabar yg jadi pelakunya aja ga dibuka siapa. Padahal itu pejabat publik yg digaji dari uang rakyat.