when Najwa Shihab said:
"Nikah muda boleh, nikah umur 30an juga boleh. mau kuliah dulu boleh, kuliah sambil nikah juga boleh. yang gak boleh itu membanding-bandingkan kisah hidupmu dengan orang lain."
#reminder#BinanceSmartChain#CLASSy
@IneemIjaaH Ucapan yang paling halus pun bisa jadi yang paling membekas
Ingat...
Tidak semua racun berbentuk cairan, kadang berbentuk "ucapan" yang sangat sopan
Guaranteed New airdrop: AiMASH (USDT)
Total Reward: 1,000 USDT
Winners: 400 Random & Top 20
Distribution: within 2 weeks after airdrop ends
(This airdrop distribution is guaranteed by Airdrop Inspector)
Airdrop Link: https://t.co/XfIGCeU6ed
🔹Complete the tasks
🔹Submit your BEP-20 USDT wallet address
🔹400 Random winners will receive 2 USDT each
🔹Top 20 Referrers will receive 10 USDT each
Note: This airdrop will end on 10th August and rewards will be distributed within 2 weeks after the airdrop ends.
Disclaimer: Please do your own research (DYOR) before joining to any airdrops project, also airdrop is 100% free. Don't send any fee for receiving airdrop tokens.
🚀 AiMASH Pre-Launch Airdrop is almost here!
Follow X + join Telegram + complete tasks for a chance to earn rewards. 🎁
One platform. Multiple AI models.
One Intelligence. Infinite Possibilities.
#AiMASH#AI#Airdrop
🚀 AiMASH Pre-Launch Airdrop is almost here!
Follow X + join Telegram + complete tasks for a chance to earn rewards. 🎁
One platform. Multiple AI models.
One Intelligence. Infinite Possibilities.
#AiMASH#AI#Airdrop
🎉 The AEM Airdrop is live!
We're giving away $3,000 in AEM tokens to our community verified health & sports activity, on-chain, on BNB Smart Chain.
🪂 Join now for your chance to share the rewards
🏆 Top 100 referrers earn extra AEM
Winners announced ~August 22.
Listed on Biconomy · Trade AEM/USDT
👉 https://t.co/KYcfz1eUgA
#Athledium #AEM #Airdrop #BNBChain
🎉 The AEM Airdrop is live!
We're giving away $3,000 in AEM tokens to our community verified health & sports activity, on-chain, on BNB Smart Chain.
🪂 Join now for your chance to share the rewards
🏆 Top 100 referrers earn extra AEM
Winners announced ~August 22.
Listed on Biconomy · Trade AEM/USDT
👉 https://t.co/KYcfz1eUgA
#Athledium #AEM #Airdrop #BNBChain
🎉 The AEM Airdrop is live!
We're giving away $3,000 in AEM tokens to our community verified health & sports activity, on-chain, on BNB Smart Chain.
🪂 Join now for your chance to share the rewards
🏆 Top 100 referrers earn extra AEM
Winners announced ~August 22.
Listed on Biconomy · Trade AEM/USDT
👉 https://t.co/KYcfz1eUgA
#Athledium #AEM #Airdrop #BNBChain
15 COSAS QUE DEBERÍAN HABERTE ENSEÑADO EN EL COLEGIO:
1. El agua fría corta una hemorragia más rápido que el agua caliente.
2. Bostezar no es aburrimiento, es tu cerebro refrigerándose para no colapsar.
3. Tararear calma la ansiedad más rápido que respirar hondo.
4. Presiona la lengua contra el paladar y frenas un estornudo al instante.
5. Dormir del lado izquierdo protege tu corazón y mejora la digestión.
6. Beber agua antes de comer reduce un 30% las probabilidades de pasarte comiendo de más.
7. Caminar hacia atrás mejora tu memoria y tu concentración (está comprobado).
8. La miel no caduca nunca. La encontraron comestible en tumbas egipcias de 3.000 años.
9. Mastica chicle mientras cortas cebolla y no llorarás.
10. Sentarte con la espalda recta dispara tu confianza al instante.
11. La regla 20-10-20 salva tu vista: cada 20 minutos, mira algo a 10 metros durante 20 segundos.
12. Una siesta de 10-20 minutos te recarga mejor que dormir una hora entera.
13. Las duchas frías después de entrenar reducen las agujetas a la mitad.
14. Escribir tus preocupaciones hace que te preocupes menos por ellas. No es autoayuda barata, es ciencia.
15. Tu cuerpo cura más rápido cuando crees que va a curar. Eso no es fe, es neurociencia.
Guarda esto en tu cabeza. Te servirá de ayuda cuando menos lo esperes.
Izin nimbrung diskusinya 🙏
Isu kelas rentan memang krusial, tapi menurut saya, kurang tepat jika BPS didorong untuk merilis multi-tier poverty line secara resmi dengan tujuan mendikte arah kebijakan (APBN/RPJMN).
Ada batas tegas ranah statistik dan kebijakan. BPS itu lembaga statistik independen. Tugasnya menggambarkan realita dengan standar yang sudah baku (Garis Kemiskinan absolut). Menentukan threshold baru (seperti 1,5x atau 2x GK) untuk merumuskan arah APBN adalah tugas eksekutif (mungkin spt Bappenas atau Kemenkeu). BPS tidak seharusnya melakukan framing angka untuk menggiring kebijakan politik tertentu.
Soal akses microfata, kayak yang disebut Pak Berly, ekonom sudah bisa menghitung kelas rentan dari data Susenas BPS. Which means, BPS sdh menunaikan tugasnya dengan sempurna, menyediakan bahan baku data yang kaya.
Jika kelas rentan belum terakomodasi di RPJMN, itu mah soal kemauan politik pihak eksekutif/kementerian, bukan pada rilis resmi BPS.
Saat ini, GK tunggal BPS berfungsi sbg baseline yang jelas., jika BPS secara resmi merilis banyak versi garis (rentan, hampir layak, layak), hal ini justru bisa bikin kebingungan di masyarakat dan media mengenai metrik mana yang menjadi acuan utama.
Mempertahankan rilis satu Garis Kemiskinan absolut yang ketat juga penting untuk sasaran jaringan pengaman sosial dasar (bansos, PKH). Klo rilis resmi BPS diexpand ke kelas menengahyang rentan, ada risiko wacana publik dan fokus negara terdistraksi dari kelompok extreme poverty yang paling membutuhkan rescue segera.
Menarik Mas Adit, tapi saya justru melihat Garis Kemiskinan (GK) BPS saat ini sangat krusial untuk dipertahankan ketat di batas tersebut.
GK ini juga sering jadi "bahan" nyinyiran netizen,padahal penentuan GK oleh BPS ini jg melalui metode yg dapat dipertanggungjawabkan.
Transparan juga,kalau kitanya mau cari tau, tp kan nyatanya kbanyakan kita cm baca headline berita,yg seringnya emang bertujuan clickbait.
Miskonsepsi terbesarnya adalah menyamakan GK dengan 'Biaya Hidup Layak', padahal fungsinya adalah untuk mengukur Kemiskinan Absolut.
Klo kita bedah metodologi resminya, BPS menggunakan konsep pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach), di mana kemiskinan dipandang sbg ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
GK saat ini sudah sangat terkalibrasi secara ilmiah dan up to date dengan kondisi ekonomi makro:
1. Garis Kemiskinan Makanan (GKM):
Ini adalah nilai pengeluaran untuk kebutuhan minimum makanan yg setara dengan 2100 kkal per kapita per hari. Angka 2100 kkal ini jg bukan karangan BPS, melainkan rekomendasi dari The Food and Agriculture Organization (FAO) dan WHO (Rome 2001) untuk negara2 berkembang.
2. Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM):
Ini mengukur nilai minimum untuk kebutuhan mutlak perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan dasar (51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 di pedesaan).
Fluktuasi harga komoditas (misal harga beras naik), inflasi, dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang berdampak pada harga barang otomatis sudah masuk ke dalam rumus BPS di tahap awal.
Cara ngitungnya krg lbh kyk gini:
1. Menghitung Garis Kemiskinan Sementara (GKS): BPS mengambil Garis Kemiskinan periode sblmnya, lalu dikalikan dengan inflasi regional saat ini Rumus: GKS = GK sebelumnya x (1 + inflasi)
2. Menentukan Populasi Rujukan: Dari GKS tersebut, BPS mencari kelompok penduduk yg pengeluarannya berada sedikit di atas GKS (batas atas GKS + 20%) untuk dijadikan sampel referensi.
3. Menghitung GK Total: BPS menghitung total pengeluaran riil dari 52 komoditi makanan (disetarakan ke 2100 kkal) ditambah pengeluaran komoditi non-makanan dari populasi rujukan tadi. Hasil penjumlahan GKM + GKNM inilah yang menjadi Garis Kemiskinan final.
4. Menghitung Angka Kemiskinan (Head Count Index / P0): Tinggal dijumlahkan berapa banyak penduduk yang pengeluaran per kapitanya (PCEXP) lebih kecil dari GK final tersebut.
Contoh Hitung Sederhana:
Katakanlah setelah disesuaikan dengan inflasi bulan ini, GK di wilayah A ditetapkan Rp 600rb per kapita/bulan.
Keluarga Pak Budi (4 orang) total pengeluarannya Rp 2.000.000 sebulan. Pengeluaran per kapita = Rp 500.000. Karena 500rb < 600rb, keluarga ini masuk kategori miskin.
Keluarga Pak Andi (4 orang) total pengeluarannya Rp 2.600.000 sebulan. Pengeluaran per kapita = Rp 650.000. Keluarga ini tidak miskin, secara statistik.
Kenapa batasnya tidak boleh dinaikkan mengikuti 'realitas hidup layak'?
Karena tugas BPS bukan cuma menghitung persentase orang miskin (P0). Instrumen ini didesain agar pemerintah juga bisa melihat Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
Indeks kedalaman kemiskinan (P1) mampu menjawab seberapa jauh rata-rata pengeluaran penduduk miskin berada di bawah garis kemiskinan.
Sementara P2 mengukur seberapa tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin itu sendiri
Kalau GK kita naikkan secara drastis agar terlihat 'layak', populasi yang masuk ke kelompok P0 akan membengkak drastis. Akibatnya, pemerintah akan kesulitan melacak kelompok masyarakat mana yang skor P1 dan P2-nya paling parah. Alokasi bantuan sosial akan salah sasaran, lari ke kelas menengah rentan, sementara mereka yang berada di dasar jurang (extreme poverty) justru terabaikan
Jadi, parameter GK saat ini sangat valid untuk menyelamatkan kelompok yang paling membutuhkan. Moga menjelaskan. 🙏
Sumbergambar: BPS
Buat yang masih nyinyir, pendekatan pengeluaran (expenditure approach) itu bukan akal2an BPS biar angkanya bagus, tapi memang Standar Emas (Gold Standard) dalam pengukuran kemiskinan dan kesejahteraan di negara berkembang.
Kalau mau dibedah secara akademis dan standar internasional, ini alasan kenapa BPS pakai metode pengeluaran:
1. Rekomendasi Resmi Bank Dunia (World Bank)
Bank Dunia secara eksplisit menyatakan bahwa untuk negara berkembang, data konsumsi/pengeluaran jauh lebih akurat daripada data pendapatan. Mengutip dari dokumen metodologi World Bank (Deaton & Zaidi, 2002 dalam "Guidelines for Constructing Consumption Aggregates for Welfare Analysis"):
di negara dengan sektor informal dan agrikultur yang masif, pendapatan sangat sulit diukur karena fluktuasinya ekstrim. Bulan ini panen dapat puluhan juta, tiga bulan ke depan nol. Kalau pakai data pendapatan bulan itu, orang ini bisa tercatat sangat kaya atau sangat miskin secara keliru.
2. Teori "Permanent Income Hypothesis" (Milton Friedman)
Dalam ilmu ekonomi makro, pemenang Nobel Milton Friedman mencetuskan bahwa konsumsi seseorang itu mencerminkan permanent income (pendapatan jangka panjang yang diekspektasikan), bukan pendapatan sesaat. Orang yang hari ini nganggur tapi punya tabungan 1 Miliar akan tetap makan enak (pengeluaran tinggi). Pengeluaran memotret daya beli riil dan standar hidup yang sebenarnya.
3. Karakteristik Pekerja Indonesia (Didominasi Sektor Informal)
Lebih dari 59% pekerja di Indonesia (data BPS 2023/2024) adalah pekerja informal (freelancer, pedagang kaki lima, buruh harian, petani). Mereka tidak punya slip gaji bulanan yang pasti. Menanyakan "berapa gaji Anda bulan ini?" ke pedagang pasar akan menghasilkan data yang sangat bias. Sebaliknya, menanyakan "sehari habis berapa untuk makan, listrik, dan bensin?" jauh lebih mudah dijawab dengan jujur dan akurat.
4. Bias Pelaporan Pendapatan (Underreporting)
Sudah jadi rahasia umum di ranah riset statistik bahwa responden cenderung berbohong saat ditanya pendapatan. Orang kaya cenderung understate (menurunkan nominal) karena takut urusan pajak atau pamer, sedangkan orang miskin rentan juga menutupi atau melebih-lebihkan karena gengsi atau berharap bantuan sosial. Sebaliknya, saat ditanya pengeluaran beras, telur, rokok, listrik, responden jauh lebih sulit untuk berbohong secara sistematis.
Jadi, mbak surveyor di foto itu sudah menjalankan SOP statistik internasional dengan benar. Jawaban 'saya makan dari tabungan' membuktikan bahwa kemampuannya bertahan hidup (survival & welfare) saat ini ditopang oleh akumulasi kekayaannya, yang hanya bisa diukur lewat seberapa besar pengeluarannya hari ini, bukan dari nol pendapatannya bulan ini.
Literasi statistik publik kita memang masih perlu banyak diedukasi.
Kalau nanti tarif listrik sampai naik, jangan cuma marah ke PLN. Salah satu yang harus ikut disalahkan adalah MBG.
Kok bisa?
Mari saya jelaskan.
Masalah listrik hari ini salah satunya berawal dari pasokan batu bara ke PLN yang tidak lancar. Padahal batu bara itu bahan bakar utama banyak pembangkit listrik kita.
Kenapa bisa terjadi?
Karena ada yang namanya DMO (Domestic Market Obligation)
Sederhananya, perusahaan batu bara diwajibkan menjual sebagian produksinya untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk ke PLN.
Masalahnya, harga batu bara untuk PLN dipatok lebih rendah dibanding harga pasar ekspor.
Jadi secara bisnis, pengusaha batu bara lebih "tergoda" menjual ke luar negeri karena marginnya lebih besar.
Kalau pemerintah mau bikin pasokan PLN aman, harga batu bara DMO harus dibuat lebih kompetitif.
Tapi konsekuensinya biaya produksi listrik PLN naik.
Nah, dari sini pilihannya cuma dua:
tarif listrik dinaikkan, atau subsidi/kompensasi listrik ditambah.
Saat ini, subsidi listrik sekitar Rp90–100 triliun per tahun.
Jika ditambah kompensasi untuk menahan tarif, beban listrik di APBN bisa tembus Rp245,58 triliun.
Masalahnya, ruang fiskal negara sudah keburu disedot program jumbo seperti MBG.
Jadi ketika subsidi listrik butuh tambahan, pemerintah akan bilang APBN terbatas.
Ujung-ujungnya?
rakyat lagi yang diminta untuk mengerti:
bayar listrik lebih mahal,
atau terima pemadaman bergilir.
Dan semua ini tidak akan terjadi kalau ratusan triliun APBN tidak dikunci untuk MBG.