This morning, after Nadiem was sentenced to 10 years in jail, it’s clear that Google needs to take a strong official stand.
The Indonesian judges sullied Google’s name, claiming without evidence the U.S. giant engaged in bribery to win a Chromebook laptop contract.
In this fiction, Google invested in Nadiem’s company, GoJek. In return, Nadiem, who left GoJek to become Education Minister, ordered the purchase of Chromebooks.
Prosecutors failed to put any evidence forward to back this defamatory allegation. Yet Nadiem got 10 years. Why? Because he tried to reform a corrupt ministry and made a lot of enemies.
How can Google remain silent in the face of these baseless allegations. Just because a judge said it, doesn’t make it any less defamatory.
I would expect Sapna Chadha and other senior Google leaders in the region to show the backbone to speak up now. Nadiem was Google’s trusted partner for years. They invested in his company. Will they remain quiet just to protect their business in Indonesia. Where are they in his time of need?
Sebanyak 11 juta peserta PBI BPJS Kesehatan mendadak nonaktif. Ini menyebabkan banyak pasein tidak bisa berobat.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan DPR bilang, peserta yang kartunya dinonaktifkan baru-baru ini tetap harus dilayani oleh fasilitas kesehatan selama tiga bulan ke depan. Tapi mereka harus memperbarui datanya.
Apakah solusi tersebut bisa menyelesaikan masalah? Simak selengkapnya.
ICW bongkar MBG.
Program Makan Bergizi Gratis yang katanya demi anak-anak, ternyata dapurnya dikelola yayasan-yayasan dengan afiliasi politik, bisnis, birokrasi, militer, sampai relawan kampanye Pilpres 2024.
Angkanya bukan recehan:
• 28 yayasan terafiliasi partai politik
• 18 yayasan terafiliasi pebisnis/swasta
• Sisanya nyambung ke birokrasi, aparat, dan tim sukses
Dan juaranya?
Gerindra paling banyak.
Disusul PKS dan PAN.
Bonus round: ada 4 anggota legislatif aktif ikut nimbrung.
Lebih bonus lagi: ada nama yang pernah tersangkut kasus korupsi.
Jadi pertanyaannya sederhana, tapi bikin panas:
Ini program gizi anak…
atau program bagi-bagi akses APBN dengan baju amal?
Kalau dapur umum diisi kepentingan politik, yang kenyang siapa?
Anaknya, atau jejaring kekuasaannya?
Paradoks Akhir Pekan: Antara Lepas dan Terjerat
Akhir pekan seharusnya menjadi jeda—ruang untuk berhenti dari hiruk pikuk kerja, menarik napas panjang, dan merasakan kembali denyut hidup yang sering kita abaikan. Tapi bukankah aneh, justru pada hari yang diciptakan untuk istirahat, kita sering merasa lebih lelah? Kita menanti Jumat seolah penebus dosa produktivitas, namun ketika Sabtu tiba, kita terseret arus belanja, daftar tugas rumah, atau antrean panjang menuju “liburan singkat” yang berakhir dengan stres.
Di sanalah paradoks akhir pekan bersemayam: keinginan untuk merebut kembali waktu justru menjebak kita dalam bentuk baru dari keterikatan. Kita ingin bebas dari sistem, tapi malah menciptakan sistem kecil sendiri—agenda hiburan, target kebahagiaan, bahkan tekanan untuk “menikmati waktu dengan maksimal.” Kita berpikir sedang memulihkan diri, padahal hanya mengganti jenis kelelahan: dari mental ke fisik, dari kantor ke kafe, dari layar komputer ke layar ponsel yang sama menyedot perhatian.
Elspeth Thompson dalam The Wonderful Weekend Book menulis bahwa yang hilang dari akhir pekan modern bukanlah waktu, melainkan makna. Kita kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana tanpa rasa bersalah. Kita lupa bahwa kebahagiaan sejati tak selalu datang dari perjalanan jauh, tapi dari kemampuan hadir utuh dalam momen yang dekat: duduk di taman, menatap langit sore, membaca tanpa buru-buru, atau berbincang tanpa tujuan. Semua kegiatan “biasa” yang justru luar biasa bila dilakukan dengan kesadaran penuh.
Namun melawan logika produktivitas bukan perkara mudah. Kita hidup dalam budaya yang menilai diri dari seberapa banyak yang dilakukan, bukan dari seberapa dalam kita merasakan. Padahal yang paling kita butuhkan mungkin bukan aktivitas baru, melainkan ketiadaan aktivitas—ruang sunyi untuk sekadar menjadi manusia, bukan mesin hasil.
Mungkin inilah misi tersembunyi akhir pekan: bukan sekadar dua hari libur, tapi pelajaran tentang cara hidup yang benar. Agar di antara repetisi Senin dan Jumat, kita sempat menemukan ulang diri sendiri—bukan versi yang sibuk mengejar, melainkan yang tahu kapan berhenti, tersenyum, dan merasa cukup.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
الزواج ليس عن العثور على شخص مثالي، بل عن تعلم رؤية العيوب بقلب واسع ومليء بالتفهم
Pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna, tapi tentang belajar melihat ketidaksempurnaan dengan hati yang lapang dan penuh pengertian.
— Gus Mus
Happy Birthday Dolores.
Hopefully you’re sharing a pot of tea with David Lynch and Ozzy on your special day.
Love always,
Ferg, Noel and Mike
Photo : Camera Press
Sejak demo besar 25 Agustus, tercatat 23 laporan orang hilang hingga 1 September 2025. Dari jumlah itu, 20 orang masih belum ditemukan, sementara 3 orang sudah ditemukan.
Kasus ini menarik perhatian media internasional seperti AFP dan The Guardian, yang menyoroti gelombang protes serta tewasnya Affan Kurniawan. Kantor HAM PBB juga meminta investigasi independen atas dugaan penggunaan kekerasan berlebihan oleh aparat keamanan.
Kreatif: Nana Gita
Produser: Yuna Fikry
< #indonesia #demo ##infografikslide
Kenapa Pemuka Agama hanya Menjadi Pemadam Kebakaran?
Pernyataan pimpinan ormas Islam yang dipanggil Prabowo seolah tak memberi efek apa-apa. Publik sudah lama melihat ormas-ormas besar ini bukan sekadar “pilar masyarakat,” tapi bagian dari pemerintah. Maka suara mereka terdengar lebih seperti corong kekuasaan, bukan gema keresahan rakyat. Benarkah demikian?
Pemerintah pun tampak ‘salah baca’. Yang turun ke jalan, melakukan kekerasan, dan menjarah bukanlah mereka yang terafiliasi dengan ormas Islam. Mengapa ormas Islam yang diminta menenangkan?
Inilah getirnya. Saat ajaran agama gagal memberi inspirasi solutif, para pemuka agama hanya diposisikan seolah sebagai “pemadam kebakaran.”
Agama semestinya menjadi energi moral untuk perubahan. Kehadiran ulama penting untuk legitimasi, tapi jarang menyentuh akar masalah. Seharusnya sampaikan juga bahwa “kami sudah ingatkan aspirasi umat pada Presiden soal rakyat yang kena PHK, biaya hidup mencekik, arogansi, korupsi merajalela, keadilan menjauh. Presiden pun mengakuinya.”
Kalimat “NKRI Harga Mati” pun kerap digaungkan. Namun maknanya mestinya bukan jargon kosong. NKRI harga mati berarti juga berdiri di pihak rakyat. Membela tanah air berarti membela perut, suara, dan harapan rakyat. Jika pemerintah tak lagi menjaga amanat, ulama harus berani mengingatkan akar masalah, bukan sekadar jadi alat penenang suasana.
Yang ditunggu rakyat bukan khutbah pereda luka, tapi seruan yang berani menyingkap sumber derita. Jika agama hanya hadir untuk menenangkan tanpa mengobati akar masalah, wajar bila umat merasa ditinggalkan.
Imam al-Ghazali sudah mengingatkan:
وَبِالْجُمْلَةِ، إِنَّمَا فَسَدَتِ الرَّعِيَّةُ بِفَسَادِ الْمُلُوكِ، وَفَسَادُ الْمُلُوكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ، فَلَوْلَا الْقُضَاةُ السُّوءُ وَالْعُلَمَاءُ السُّوءُ لَقَلَّ فَسَادُ الْمُلُوكِ خَوْفًا مِّنْ إِنْكَارِهِمْ.
“Secara umum, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan penguasa, dan kerusakan para penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama. Seandainya tidak ada hakim dan ulama yang buruk, niscaya kerusakan para penguasa akan berkurang karena mereka takut terhadap penolakan (kritik) dari ulama.”
Damai dan sejahtera negeri kita 🙏🏻
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Penangkapan Delpedro, Syahdan, dan Khariq yang terjadi di depan mata kita kembali menunjukkan negara yang memperlihatkan wajah otoriternya.
Hak kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat kita sedang berada dalam ancaman serius.
#INFOTRANSJAKARTA | Selamat pagi, Sahabat TiJe.
Mengingat situasi yang tidak kondusif, seluruh layanan Transjakarta hingga saat ini masih tidak dapat melayani pelanggan.
Informasi terkini dapat diakses pada instagram story @infotije, aplikasi TJ: Transjakarta ataupun X pt_transjakarta.
Sehat selalu dan tetap berhati-hati di mana pun berada.#JAKI #PerluTahu
Kita jg dibodohi dengan (aturan) gaji pokok yang rendah tapi tunjangan berkali-kali lipat. Pdhl pejabat publik yang bekerja di institusi non for pofit tidak selayaknya digaji jauh di atas penghasilan rata-rata warga.
Dialog Antar Agama Model Apologetik-Konfrontatif
Nabi Muhammad mewariskan model dakwah yang tidak gegap gempita, tapi penuh kasih dan kebijaksanaan. Saat utusan Nasrani dari Najran datang ke Madinah, beliau menyambut mereka di masjidnya, berdialog tanpa cercaan, bahkan mempersilakan mereka beribadah di tempat yang sama. Ketika berbeda pandangan dengan kaum Yahudi, beliau tak mengobarkan caci maki, melainkan menjawab dengan logika santun dan akhlak membumi. Dakwah beliau tak sekadar menyentuh pikiran, tapi juga melunakkan hati.
Kini, model ini kerap tergantikan oleh suara yang lebih nyaring, tapi kurang teduh. Di ruang-ruang publik muncul gaya apologetik-konfrontatif: mencomot ayat dari kitab suci agama lain, menyandingkannya dengan Qur’an untuk membuktikan bahwa Islam “paling benar.” Tak ada ruang bagi konteks sejarah atau apresiasi terhadap interpretasi yang diwariskan pemuka agama mereka selama berabad-abad. Yang hadir bukan jembatan, melainkan palu godam. Bukan percakapan, tapi penghakiman. Dan penonton puas bertepuk tangan, apalagi kalau ada yg pindah keyakinan akibat “pembuktian” ini.
Model serupa juga dilakukan sebagian pemeluk agama lain terhadap Islam: ayat Qur’an dicomot dengan keluar dari konteks tafsir dan tradisi, dibenturkan, lalu dijadikan seolah sebagai bukti kesalahan Qur’an. Dan ejekan nyaring terdengar.
Inilah wajah dari scriptural literalism—membaca teks secara harfiah, tanpa menyelami kedalaman makna dan tafsir. Ayat suci pun berubah jadi peluru debat, bukan pelita yang membimbing. Yang dikejar bukan pemahaman, tapi kemenangan. Dan yang sering menang, sayangnya, adalah ego—bukan kebenaran.
Islam bukan sekadar agama yang benar, tapi agama yang mengajarkan cara menyampaikan kebenaran dengan adab. Dalam Qur’an, Tuhan melarang mencela sembahan orang lain, agar mereka tidak membalas dengan celaan terhadap Allah karena ketidaktahuan. Ini bukan sekadar etika sosial, tapi pelajaran ruhani: bahwa kebenaran sejati tak perlu menjatuhkan untuk bisa berdiri tegak.
Mari kembali pada teladan Nabi: berdialog dengan hikmah yang mencerdaskan, kelembutan yang memeluk, dan kejujuran yang tak menyakiti. Karena agama ini tak hanya soal benar dan salah, tapi juga soal cinta dan adab.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Haha, seru nih pertanyaannya 😁 Rhinos SR (bukan SP ya, mungkin typo) memang dikenal sebagai obat pilek yang ampuh, tapi harganya sedikit lebih mahal.
Terus kenapa sih Rhinos SR harganya bisa lebih mahal?
Noted dulu ya: RHINOS SR termasuk Obat Keras.
Jadi jangan beli sembarangan tanpa konsul ke dokter dulu.
Siap? Let’s dive in!
📍LA CASA JOGJA
Booking: https://t.co/vIcqlOBtYA
Dari hotel ini ke Pakuwon Mall kalo jalan kaki Cuma 1,5 km aja. Salah satu wishlist gw juga nih buat next trip ke Jogja, karena murah bgt 200ribuan/malam udah dapet hotel yg ratingnya tinggi, bersih, ada kolam renang, bonus kamar estetik pula.
Dari beberapa review kurangnya cuma kamar kurang kedapsuara aja, lainnya OK bgt.
Tangan Tuhan
Dalam al-Qur’an, ada ungkapan yang kerap muncul: “tangan Tuhan.” Kalimat sederhana, tapi menyimpan kedalaman makna. Tentu bukan tangan dalam arti fisik. Sebab Tuhan—“Laysa kamitslihi syai’”—tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (QS. asy-Syura: 11).
Dalam momen baiat di hadapan Nabi, al-Qur’an mencatat: “Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. al-Fath: 10). Di ayat lain, “Karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Ali ‘Imran: 73). Bahkan tentang langit pun, Allah berfirman: “Langit Kami bangun dengan kekuatan (bi aydin)” (QS. adz-Dzariyat: 47).
Semua ini bukan tentang tangan yang bisa dibayangkan. Tapi tentang kekuasaan yang tak terbatas, kasih sayang yang terus bekerja tanpa lelah, dan perhatian yang tak pernah padam.
Sebagian ulama memilih untuk mengimani tanpa membahas rinci. Sebagian lagi menakwilkannya sebagai lambang kasih, kuasa, dan pemeliharaan. Namun yang paling penting: kesadaran bahwa hidup kita ini—ada dalam genggaman-Nya. Tangan yang sama yang meniupkan ruh ke dalam rahim, yang menumbuhkan biji di tanah, dan menggiring kita menuju cahaya.
Saat rencana-rencana kita berantakan, saat hidup terasa rapuh, di sanalah kita sadar: kita ini hanya hamba. Maka ingatlah: “Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali ‘Imran: 26).
Keyakinan bahwa kita hidup di tangan Tuhan bukanlah penghiburan kosong. Ia adalah sumber kekuatan. Tawakal sejati tumbuh dari sini—bukan pasrah tanpa daya, tapi sadar bahwa segala daya berasal dari-Nya. Sebab itu pula, doa menjadi berarti. Kita sedang memohon kepada Dia yang “tangan-Nya terbuka luas, memberi kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. al-Ma’idah: 64).
Tangan Tuhan dalam al-Qur’an bukanlah bagian tubuh. Ia adalah isyarat akan kehadiran-Nya yang senantiasa menjaga. Maka siapa yang merasa dalam genggaman-Nya, tak akan khawatir besok mau makan apa atau bagaimana nasib anak kita kelak. Sebab yang menggenggam adalah Dia—Yang Maha Mengetahui dan Maha Menyayangi.
Dan bukankah pernah ku bisikkan bahwa Allah pun menggenggam cinta kita dalam tangan kuasa dan kasih-Nya?
Tabik,
Nadirsyah Hosen