Datang dr pintu blkng,
Bawakn ssuatu buat mataku brkaca-kaca,
Ia lalu mnarik tgn kiri ku,
Dan nyanyikan tembang lilin kecil dkt telingaku,
Bintang pun mulai brkedip,
Aliran nada sumbang trasa merdu,
Senyummu brikan khangatan,
Lalu ku ucap Trima kasih.
Biarkan luka trus mengalir,
Lekas kuras habis tetes air mata,
Di keheningan gelap tak bercahaya,
Dan disudut yg dingin beralas asap embun pagi.
Ya, aku mengerti dangkalnya lautan,
Dan Ya, kamu pun tau panasnya lahar dr letusan gunung Tambora.
Apakah saatnya berkemas,
Mungkinkah tidak dimulai tahun depan,
Apalah arti sekedar menunggu,
Kira-kira lekas sembuhkah saatnya nanti.
Bolehkah aku duduk disampingmu,
Mendengar suaramu,
Melihat wajahmu,
Dan mengelus rambutmu yg hitam.
Kita tdk akan khilangan akal,
Kami jg tdk butuh jamuan serta pelukan hangat,
Kita hnya butuh seseorang yaitu dokter,
Krn kami sekumpulan orang terluka dan lelah kalah.
Kita kan terus bangkit sampai tetes darah trakhir,
Sebab kami ada bukan utk dikenang.
Riwayatnya turun menurun hingga lintas generasi,
Media TV surat kbr hingga gosip ibu" Namanya trdengar,
Soal ini soal itu bgtu bnyk pilihan jawabannya,
Suara hatinya bagai rongrongan anjing,
Tapi bila ada ksempatan sifatnya bagai skelompok hiena sdg mkn.
Jgn tawar hatimu kelak,
Truslah melangkah kakimu lurus kedepan,
Yakinlah semesta bersamamu saat berpijak,
Juga tegaskanlah warnamu,
Dan jangan abu-abu nantinya.
Ingat kau adalah tempat dimana Matahari terbit,
Dan bukan tempatnya Matahari terbenam.