LARIK TENURE dirawikan dari kisah langsung para pelaku di beberapa kawasan konservasi di Indonesia.
Buku ini mengulas konflik tenurial dari sisi romantisme sebuah lanskap konservasi, sekaligus mengisahkan pembelajaran, berikut upaya-upaya penyelesaian #LarikTenure
Indonesia ini bergolak dalam denyut yang semakin membara. Anak-anak muda berjalan di antara kabut ketidakpastian, meraba-raba arah, sementara segelintir elite meringkuk dalam gelisah yang justru diciptakan sendiri.
https://t.co/gQkmaAOJA5
I'm still curious to find dugong, but I also need to fix the drone. Today, we are going to utilize fixed wing drones to explore the Singkil wildlife reserve.
Gak ada yang lebih keren dari anak muda yang berani berkembang! Youth Bootcamp Pundi Sumatra dalam #GerakDampakAcademy telah selesai dilaksanakan. Cek video dan postingan terakhir, untuk melihat keseruan kami selama dua hari🙌🏻
Hilangnya rimba bagi Suku Anak Dalam (SAD) bukan hanya hilangnya pepohonan—tetapi rumah, ruang hidup, dan identitas. Untuk pertama kalinya, para kader muda SAD menuliskan kisah perubahan hidup mereka dalam buku “Yang Berubah Setelah Rimba Tiada.”
#YangBerubahSetelahRimbaTiada
@beingindo@beingindo Sinyal gak stabil ya Kak Syafrizaldi, maafin. Yuk infoin Nomor HP, Lokasi detail (min. s.d Kelurahan), Nomor lain yang berkendala sama jika ada via DM, biar dibantu cek serta privasi terjaga. Makasih 😊 -Sakia
Dari Rumah yang Dijarah
Penjarahan rumah pejabat dan politisi, disertai kerusakan puluhan fasilitas publik di berbagai kota, mengejutkan banyak orang. Yang lebih mengejutkan bukan hanya kekacauannya. Tapi juga reaksinya: masyarakat tidak serentak mengutuk, sebagian justru merasa lega, bahkan menyebutnya “karma instan” atau “pajak sosial mendadak.”
Mengapa tindakan yang jelas-jelas destruktif justru memantik tepuk tangan di sebagian kalangan? Apakah ini tanda moralitas publik runtuh, atau justru ekspresi dari kemarahan yang terlalu lama dipendam? Atau jangan-jangan, ini juga bagian dari pertarungan elite yang mengorbankan massa di lapis bawah?
Reaksi publik yang ambigu itu bukan lahir di ruang hampa. Ia tumbuh di tengah ketimpangan yang stagnan dan di tengah menurunnya kepercayaan pada mekanisme formal yang seharusnya mengatur keadilan. Pajak progresif tak terasa progresif, subsidi sering salah sasaran, korupsi lolos berkali-kali.
Baca artikel selengkapnya https://t.co/lkcVXiALmk
"Angka melek huruf tinggi, tetapi kemampuan memahami bacaan rendah. Anak-anak bisa membaca teks, namun kesulitan menjelaskan kembali isi bacaan. Orang dewasa bisa menulis status panjang di media sosial, tapi kerap terjebak dalam hoaks dan ujaran kebencian." Saya suka kutipan ini.