Baru banget kemaren sore servis motor di AHASS iseng nanya ke mekaniknya "mas perasaanku saja atau emang motor² H tahun 2020 keatas tuh ringkih²" dan dijawab sama mas mas mekaniknya "iya mas, saya sendiri disini lebih sering servis & benerin motor tahun 2020+, pasti adaa aja penyakit sama keluhannya. Kalo yg max tahun 2020 mentok² ganti oli sama kampas rem doang, wkwkwkwk"
Lanjut lagi mas mekaniknya juga bilang "gatau ya mas, padahal dari kode sparepart tuh sama kek motor² <2020 tapi buat yg 2020> materialnya beda banget kek lebih ringkih aja gitu, ini baru sparepart mas belum build quality unitnya sendiri, jujur lebih parah yg taun muda malah" gitu
Terakhir masnya bilang "saran saya kalo udah punya motor H <2020 mending dirawat bener² mas, masih bandel, build qualitynya niat dan kalo mau nyari matic H, saran saya mending beli seken yg tahunnya <2020" gitu
This is the Sallah touch, known in Islamic tradition as the Zabiba. This is a physical callus formed on the forehead from the repeated friction and pressure of prostration during prayer.
Although some culture, largely due to unawareness, view it as a definitive badge of intense piety. However, its appearance relies heavily on individual biological factors such as skin melanin and bone anatomy. This means that it is a physiological response to certain prayer surfaces rather than a spiritual metric.
This is why you can see a young guy with this, yet see an older person who also prays without it.
In fact, Ibn Abbas clarified that the "trace of prostration" mentioned in Surah Al-Fath refers to an inner humility and good character that reflects on a person's demeanor, or a spiritual light in the afterlife, rather than a physical skin discoloration.
This was why when Abdullah ibn Umar once saw a man with a deep prayer mark on his forehead, he cautioned him against making this mark a point of pride, and told him directly that the true mark of a believer is inside his heart, not stamped on his face.
By this, it becomes obvious that true righteousness in Islam cannot be measured by a physical calloused scar, but by the sincerity and ethical conduct a person carries into the world.
Allah knows best.
Ilusi Media Sosial dalam Hubungan
- Wanita sering merasa tidak puas bukan karena pasangannya kurang, tapi karena "layar" mereka penuh dengan standar palsu hasil produksi konten.
- Setiap kali dia membuka aplikasi, definisi "cukup" di kepalanya terus meningkat mengikuti algoritma.
- Algoritma butuh rasa iri agar pengguna terus men-scroll. Akhirnya, pasangan di dunia nyata yang harus membayar harganya dengan rasa lelah dan kecewa.
- Banyak hubungan kandas (Ghosting, HTS) hanya karena ekspektasi yang diracuni oleh standar estetik yang tidak realistis.
Guys, ada kabar duka yang sangat berat hari ini dan di baliknya ada cerita yang menurut gue harus diketahui semua orang.
dr. Myta Aprilia Azmi meninggal dunia pada 1 Mei 2026 dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal.
Tapi sebelum dia meninggal ada surat resmi dari IKA FK Unsri yang mengungkap fakta-fakta yang sangat mengkhawatirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ini bukan sekadar dokter yang sakit lalu meninggal:
Berdasarkan investigasi internal dan kronologi tertulis yang dikumpulkan IKA FK Unsri ada empat temuan yang menurut gue perlu lo baca dengan sangat serius.
Pertama — beban kerja yang tidak manusiawi.
Dr. Myta menjalani tiga bulan tanpa libur di bangsal dan IGD. Tiga bulan. Tanpa libur.
Dan selama itu dia bekerja tanpa supervisi dokter definitif melanggar aturan Kemenkes yang jelas menyatakan dokter internship statusnya dokter magang, bukan pekerja tetap rumah sakit.
Kedua — kelalaian medik yang sangat mengkhawatirkan.
Dr. Myta sudah melaporkan gejala sakit sejak Maret 2026. Tapi dia tetap dipaksa menjalani jadwal jaga malam dalam kondisi sesak napas berat dan demam tinggi.
Yang paling mengejutkan:
saturasi oksigennya sudah menyentuh 80% sebelum akhirnya mendapat penanganan yang layak.
Saturasi 80% itu bukan kondisi ringan. Itu kondisi darurat yang seharusnya langsung ditangani.
Ketiga — dugaan malapraktik administratif.
Obat Sulbacef kosong di rumah sakit.
Dan pasien yang merupakan tenaga kesehatan di wahana tersebut yaitu dr. Myta sendiri diminta mencari obat sendiri di luar.
Dokter yang sakit disuruh cari obatnya sendiri.
Keempat — tindakan intimidasi dan upaya penutupan informasi.
Ada arahan dari oknum pembimbing untuk merahasiakan kondisi dr. Myta agar tidak terjadi prolong atau perpanjangan masa internsip.
Dan ada narasi gaslighting yang menyerang para dokter internship ketika mereka menyuarakan hak dasar kesehatan mereka dengan sebutan "generasi Z lembek."
Ini bukan kasus individual.
Ini adalah cerminan sistem:
Yang membuat kasus ini lebih dari sekadar tragedi personal adalah konteksnya yang sangat sistemik.
Dokter internship di Indonesia berstatus dokter magang bukan pegawai tetap.
Tapi dalam praktiknya mereka diperlakukan seperti tenaga kerja penuh tanpa perlindungan yang memadai.
Tidak ada batasan jam kerja yang ditegakkan.
Tidak ada supervisi yang dijamin.
Tidak ada mekanisme yang melindungi mereka ketika mereka sakit dan membutuhkan istirahat.
Dan ketika mereka berani bersuara mereka dibungkam dengan label "lembek."
Dokter yang sesak napas dengan saturasi 80% dan demam tinggi tetap dipaksa jaga malam.
Ini bukan tentang ketabahan atau dedikasi.
Ini adalah eksploitasi yang berpotensi fatal.
Dan terbukti fatal.
IKA FK Unsri bergerak dan ini langkah konkret yang mereka tuntut:
Surat resmi tertanggal 30 April 2026 dari Ketua Umum IKA FK Unsri, dr. H. Achmad Junaidi, Sp.S(K)., MARS., ditujukan langsung kepada Menteri Kesehatan RI. Isinya empat tuntutan.
Audit menyeluruh terhadap RSUD K.H. Daud Arif sebagai wahana internship dan evaluasi kelayakan oknum pembimbing yang terlibat dalam kronologi ini. Perlindungan agar tidak ada sanksi administratif atau ancaman prolong terhadap dr. Myta dan rekan-rekan internship lain yang mengalami beban double job akibat kekosongan posisi.
Somasi administratif kepada RSUD agar memberikan penjelasan resmi dan pertanggungjawaban atas pengabaian kondisi klinis dr. Myta sejak awal sakit.
Dan tidak menutup kemungkinan langkah hukum jika ditemukan unsur pidana terkait kelalaian yang mengancam jiwa.
Yang paling menohok dari seluruh cerita ini:
Dr. Myta Aprilia Azmi sudah melewati bertahun-tahun kuliah kedokteran yang keras.
Sudah melalui koas.
Sudah lulus ujian.
Sudah berhasil sampai di tahap internship tahap terakhir sebelum resmi menjadi dokter penuh.
Dan di tahap itu dia jatuh sakit, melaporkan kondisinya, tidak didengar, tetap dipaksa bekerja, saturasi oksigennya jatuh ke 80%, dan akhirnya tidak sempat menikmati gelar dokter yang sudah dia perjuangkan bertahun-tahun.
Sementara ada oknum pembimbing yang sibuk memikirkan bagaimana supaya kondisinya tidak menyebabkan prolong bukan bagaimana supaya dia bisa sembuh.
Untuk semua dokter internship yang sedang membaca ini:
Kalian bukan "generasi Z lembek." Kalian adalah manusia yang berhak atas jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, dan penanganan medis ketika kalian sakit. Itu bukan privilege. Itu hak dasar.
Dan untuk sistem yang selama ini menganggap dokter internship sebagai tenaga kerja murah tanpa perlindungan kasus dr. Myta harus menjadi titik balik. Bukan hanya menjadi trending topic sehari lalu dilupakan.
Semoga dr. Myta Aprilia Azmi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga perjuangan ini tidak sia-sia.
Al-Fatihah.
cc: threads
What kills me is that the views have gone completely dead about what’s happening to us in Gaza.
How did our suffering become smth u scroll past?!!
WE ARE STILL BEING ERASED RIGHT NOW!
#intinyadeh aksi damai mahasiswa Papua di Waena, Kota Jayapura Senin 27 April pagi dibubarkan paksa oleh aparat.
Terlihat di video pelepasan gas air mata dan water cannon.
Mahasiswa memprotes militerisme di Papua & isu lainnya, termasuk penembakan thd 5 warga sipil di Dogiyai.
If you didn't know, Israel is carrying out Nakba 3.0 in Lebanon. It is *self-admittedly* genocide, permanent land theft and ethnic cleansing to create Greater Israel. The Zionists intend to keep this land forever and massacre or displace everyone on it in the process.
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼
Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam.
Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang.
Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar.
Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali.
Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan.
Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana.
Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan.
Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam.
Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami.
Tolong, suarakan ketidakadilan ini.
Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi.
Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka.
Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
Syarat kerja di dapur MBG tuh ‘bego’ ya?
Pernah kerja jadi HSSE Officer bikin gue gatel banget pengen bahas ini. Let me tell you why this is dangerous, apalagi buat program skala nasional.
orang kaya gk sehat secara mental karena adalah nature manusia untuk saling berbagi. mengakumulasi kekayaan saat orang-orang lain miskin, membebani empati.
mereka menciptakan imajenasi soal ras unggul, kelas atas, dsb. sebagai justifikasi dan menenangkan dirinya dari rasa bersalah.
kerja-kerja filantropis juga sama. mereka ingin membayangkan bahwa mereka sudah melakukan sesuatu untuk masyarakat dengan kekayaan mereka. padahal, justru mereka lah masalahnya.
kadang-kadang, aku memikirkan soal proses justifikasi ini dan merasa jijik sekali dengan orang-orang super kaya.
betul kata diogenes: di rumah orang kaya, gk ada tempat meludah selain wajah mereka.