Akhir dari generasi emas Belgia! π§πͺ
Saatnya ucapkan selamat tinggal kepada:
π Thibaut Courtois (34)
π Thomas Meunier (34)
π Axel Witsel (37)
π Kevin De Bruyne (35)
π Romelu Lukaku (33)
@Lynxzqa@JalanArsenal sesimpel pep ga relate, dia cuma butuh 2 musim buat juara pertamanya di epl + langsung gas dengan 100 poin, dilanjut musim setelahnya fourmidables,
cuma mungkin karena Si Ben ini malu" kucing makanya pake bahasa "menghormati fans city"
@nosferatuch@Catatan_ali7@ainurohman gaada yg komen soal materi komenan dia sih selain emg
1. lu fans arsenal yang baper
2. materi komen dia menampar fans arsenal yang egonya kesenggol
@man27may@mancityroom Asli setuju bet bro apalagi pas kemarin pasang si sg nya kok kebetulan bisa sama ya gagal nendang penalti kedua pemain arsendal tdi karma kah? π€£
Yang lebih enak lagi era dinasti City ini kejadian pas medsos udah rame njir jadi kek arghhhh.
Mau marah tapi the perfect football club ya kayak City.
Stadion? Gede
Fasilitas? Salah satu terbaik di Inggris
Akademi? Banyak jebolannya
Pelatih? Gausah di tanya
Sporting director? Suportif ambisius
Pemilik? Royal
Tim legal? Menang Mulu kalo City dituduh apa-apa
Tim medsos? Asik-asik kontennya
Fansnya? Rame apalagi ada vokalis Oasis jadi abang-abangan nya
Ayahku pernah kasih pesan gini:
βSebagai laki-laki, tetaplah merasa lapar, bodoh, jelek, dan tidak punya uang. Tapi tidak boleh minderβ
1. Tetap merasa lapar agar kamu selalu giat bekerja mencari βmakanβ.
2. Tetap merasa bodoh agar kamu selalu belajar.
3. Tetap merasa jelek agar kamu selalu bersyukur ada perempuan yang memilihmu.
4. Tetap merasa tidak punya uang agar kamu terbiasa hidup sederhana.
Coba terapkan ini. Gampang kan? Karena musuh terbesar laki-laki adalah ego yang melahirkan rasa percaya diri berlebihan.
Mari kita kurangi populasi lelaki berwajah biawak berkelakuan syaitan.
Jujur ya, gue selalu dapat goosebumps tiap Chelsea masuk final. Bukan karena mereka tim paling dominan sepanjang musim, justru sebaliknya. Chelsea itu aneh, dalam artian yang paling menarik.
Di liga? Naik turun. Kadang kalah sama tim papan tengah. Tapi begitu masuk final? Mereka jadi tim lain.
Ini bukan mitos. Ini pola.
2012 β di Munich, semua orang udah siap nyambut Bayern angkat trofi di kandang sendiri. Chelsea? Mereka parkir bus, kerja keras, dan Drogba tiba-tiba jadi dewa. Itu bukan keberuntungan, itu mentalitas turnamen yang dieksekusi sempurna.
2021 β Tuchel ketemu Guardiola di Porto. Dan Pep, yang biasanya punya jawaban atas segalanya, gak nemu jawabannya malam itu. Chelsea menang bersih.
Nah malam ini? Lawan yang sama. Manchester City.
POV Gue Soal Malam Ini:
City jelas favorit di atas kertas. Tapi justru di situ letak bahayanya buat City, mereka masuk dengan ekspektasi, Chelsea masuk dengan nothing to lose.
Tim yang merasa harus menang itu beban tersendiri. Dan Chelsea, dengan DNA final mereka, justru hidup di tekanan kayak gitu.
Gue gak bilang Chelsea pasti menang. Tapi gue bilang, jangan pernah write off Chelsea di final. Pernah ada yang coba itu. Hasilnya? Kalian tau sendiri.
Malam ini bakal sengit. Dan gue gak kaget sama sekali kalau Chelsea pulang bawa trofi.
Eh iya lupa satu lagi pas ketemu PSG di Piala Dunia Antarklub FIFA, Chelsea lagi-lagi ngeluarin versi diri mereka yang cuma muncul di momen gede.
Terstruktur. Gak panik. Tahu kapan harus bertahan, tahu kapan harus menusuk. Itu bukan tim yang "beruntung menang", itu tim yang paham cara memenangkan pertandingan besar.
Dan yang paling menarik buat gue, PSG dengan semua uang dan bintang mereka, gak bisa nembus Chelsea yang konon masih dalam fase pembangunan.
Jadi Kalau Ada yang Tanya...
"Chelsea layak difavoritkan malam ini lawan City?"
Gue jawab begini: rekam jejak Chelsea di final berbicara lebih keras dari tabel klasemen mana pun.
Mereka bukan tim yang menang karena dominan. Mereka menang karena tahu persis apa yang harus dilakukan ketika trofi ada di depan mata.
Dan malam ini? Trofi itu ada di depan mata lagi. π
πΈ@Bolanet