Almost 30, not yet married, no complains, exploring new hobbies, arriving at new places, meeting new people, just having fun, and MOST IMPORTANTLY, living my best life 🥰❤️
@arddhe Gw mau bela peneliti, gak bela instansi. Ada alasannya. Badan-badan kayak bppt, lapan, etc. setelah dimerger ke brin dipaksa kerja kayak LIPI. Bikin reset mandiri dengan dana minim. Dulu mereka bisa bikin proyek besar yang dikerjakan per unit. Termasuk biodiesel dll hasilnya.
2002 dan 2006 itu ada kok, pemain Jerman dan Prancis msh ada di lapangan dan menghadap ke panggung.
2010 dan 2014 gak keliatan karena prosesi angkat trofinya di tribun, bukan di tengah lapangan.
2018 itu hujan deras, buat apa juga pemain Kroasia ujan2an mending lgsg masuk ke ruang ganti
2022 itu gak keliatan karena stadionnya digelapin, pemain Prancis habis dibagiin silver medal keliatan berjalan ke arah tribun penonton, bukan ke ruang ganti, mungkin saat angkat piala mereka msh ada di pinggiran cm krna gelap gak keliatan.
Belaga messiah pas demo, sok difoto candid, lalu upload di sosmed dengan caption cringe mentok, SAYA DIAM
Tersebar foto ia tertawa lepas saat makan bersama Menhan (sekarang udah jadi presiden), SAYA JUGA DIAM
Tapi, kalau sudah menghina King Totti, SAYA AKAN LAWAN! 🖕
Ayolah, Kiai Cholil, kita-kita ini belum perlu ulama yang selalu menenangkan pemimpin di tengah kondisi seperti ini. Yang perlu ditenangkan itu, ya, rakyat kayak kami ini.
Tolonglah, bikin hati umat ini jadi lebih tenang karena program BMG membebani APBN, KDMP juga jelas membebani APBN, apalagi belanja ugal-ugalan yang beritanya bisa Sampean baca sendiri.
100 miliar APBN untuk sapi kurban, kok, bisa Sampean bilang sah itu apa-apaan?
Mau atas nama presiden atau atas nama umat muslim, kek, di samping tindakan ini saya sebut ghosob, saya juga berani bilang ini zalim.
Dua Imam kita, yaitu Imam al-Ramli dan Imam Ibn Hajar al-Haitami, jelas menyatakan:
وأن للإمام الذبح عن المسلمين من بيت المال إن اتسع
"Dan imam boleh menyembelih dari baitul mal atas nama kaum muslim, jika [baitul mal] lapang."
(Sumber: Nihayat al-Muhtaj, Juz VIII, hlm. 144; Tuhfat al-Muhtaj, Juz IX, hlm. 367)
Utang kita naik, beban bunga dan jatuh temponya juga menekan ruang fiskal. Coba lihat, tuh, dollar di menit ini saja masih Rp17.799,20.
Kok, ya, sampai hati Sampean bilang sapi kurban sebesar 100 miliar itu sah (dan sunnah)?
Sampean ini gimana?
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu.
Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin).
Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi.
Berarti kemampuan teknisnya ada.
Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang.
Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi.
Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama.
Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada.
Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat.
Karena ternyata tombolnya memang ada.
Cuma rakyat sering kebagian tulisan:
“mohon menunggu”.
Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas.
Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan.
Paham kan ya..
cc:cakraadinegara
Saya adl seorg dosen di AS. Kemarin pas ngurus cuti melahirkan sy bilang kpd dekan & presiden kampus ttg kekhawatiran sy soal slowing down performa akademik sy krn hamil & melahirkan. Mrk meresponnya dg:
Dulu tahun 40an, Kebayoran itu kota satelit & dalam rencana pembuatannya, dibagi 19 blok, blok A-S.
Blok M dari awal thriving karena ada pasar, sekolah, dll. Sampai taun 80an jadi lokasi gaul tongkrongan.
Banyak dr Blok A-S yg namanya udah ga dipakai, tp ada karakteristik masing2 kayak Blok C yg nama jalannya dr nama sungai di Kalimantan kayak Barito, Mahakam, Bulungan, Sambas.
Kami dulu pernah disebut orang gila krn menanami lahan pasir tailing timah di belitung timur.
Lahan yg dihadapi sungguh ekstrim. Menurut ahli tanah, mungkin 20 tahunan rumput baru mau tumbuh lahan itu. Tapi gapapa. "orang gila" kan bebas. Tanam aja lah.
Tp sebenarnya, apakah kami yg berjasa?
Bukan. Nek Inah ini salah satunya yang berjasa.
Nenek berusia sekitar 74 tahun bersepeda menempuh jarak 10 km (pulang-pergi) dari rumahnya ke lahan bekas tambang untuk membantu menanam.
Ini jahat banget.
Saya pernah nonton ini. Sayid Kamal Haidari mengulas keragaman Syiah (di Sunni juga ada) dalam melihat non-Syiah.
Video ini persis menjelakan Syiah yang menganggap bahwa semua Sunni kafir.
Padahal ulasannya panjang.
Sengaja?