@tracesofloving โSama-sama. Saya juga senang, ternyata ajakan saya tidak ditolak mentah-mentah.โ
Diovandra pun tak habis pikir andaikan sang juita berujung menolak tawarannya beberapa pekan lalu. Barangkali ia akan memilih mengurung diri di bilik apartemennya selama satu minggu penuh dibuatnya.
โThank you for today ya, Dok! Udah diajakin nonton sama main-main seru. Berasa balik muda lagi. Ternyata, capek juga ya main begituan?โ / @binarkirah
โฆ ringan yang jauh dari bayangannya. Sangat berbeda dengan ekspektasinya.
Sejak malam itu, obrolan Natasha dan Diovandra selalu berjalan baik. Entah akan berakhir ke mana nantinya, tetapi setidaknya Natasha menemukan seseorang yang menyenangkan.
END.
@binarkirah
โOke. Kalau begitu sekitar dua minggu lagi ya? Minggu depan saya ada seminar di Singapura soalnya.โ Diovandra terkekeh pelan. โSekalian nonton Toy Story 5 mungkin?โ
Natasha terkekeh. Tak disangkanya, pria yang sudah memasuki usia tiga puluhan itu justru menyukai hal-hal โฆ
โUnik juga ya seleranya.โ Natasha mengangguk kecil. โToy Story saya nonton kok. Soalnya ada keponakan sepupu yang dulu suka banget sama film itu.โ
โTawaran main arcade-nya boleh, Dok. Udah lama juga saya nggak main.โ
โฆ sehingga ia tak menyangka pria itu memiliki selera yang demikian unik.
โSaya juga suka main arcade. Sama suka kopi latte.โ Diovandra melanjutkan. โMau coba main arcade kapan-kapan, Dok Natasha?โ
Yang ada hanya membahas perihal kesukaanโhobi, makanan, hingga genre film.
โSaya suka film Toy Story sih, Dok. Pernah nonton kan pasti?โ
Natasha hampir tersedak mendengarnya. Wajah Diovandra terlihat cukup serius, โฆ
Tiga puluh menit berlalu. Obrolan mereka mengalir ringan, sesekali diselingi tawa dan candaan yang muncul tanpa disengaja. Hampir tak ada pembahasan mengenai rumah sakit maupun harta kekayaan yang dimiliki keluarga masing-masing.
Bahkan pria itu tidak langsung membahas profesinya sebagai dokter spesialis yang sibuk ini itu ataupun latar belakang keluarganya. Itu cukup berbeda dengan deretan anak kolega Pramesti yang pernah Natasha temui.
โUdah sering ya begini?โ
โMaksudnya?โ
โMaksudnya โฆ udah sering disuruh kenalan sama sesama dokter.โ Diovandra tersenyum tipis. โGak usah terlalu dipikirin, Dok. Santai aja sama saya.โ Tambah Diovandra.
Sungguh. Natasha tak menyangka Diovandra akan se-๐ต๐ฐ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ฑ๐ฐ๐ช๐ฏ๐ต itu.
โUdah lama? Maaf ya, tadi saya ada keperluan mendadak di rumah sakit.โ
โOh gak kok. Baru sekitar lima menit yang lalu โฆ Dok Dio?โ
Keheningan sempat tercipta di antara mereka. Namun bagi Natasha, beberapa menit canggung seperti itu selalu menjadi bagian dari kencan buta.
โฆ sebelum waktu yang ditentukan.
โDokter Natasha?โ Suara itu membuat Natasha menoleh. Ia tersenyum lalu berdiri sejenak untuk mengulurkan tangan, formalitas sederhana saat perkenalan.
โฆ ditemuinya terasa monoton dan membosankan. Kali ini, ia bertemu dengan Diovandra Prakasa, seorang kardiolog yang namanya sudah cukup sering ia dengar.
Natasha datang lebih dulu, seperti biasa. Ia memang selalu punya kebiasaan datang beberapa menit โฆ
(๐๐๐ป๐ฒ ๐ฌ๐ฒ, ๐ฎ๐ฌ๐ฎ๐ฒ) ๐ง๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐ , ๐๐๐๐๐ฅ๐ง๐ โ ๐ญ๐ต.๐ฌ๐ฏ ๐ช๐๐ / Akhirnya Natasha menyetujui janji temu yang telah diatur oleh Pramesti. Sejujurnya, ia sudah berpikir bahwa anak kolega Mamanya pasti selalu sama saja. Hampir semua yang pernah โฆ