Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Satu per satu telah pergi. Al-Jilani, Hitu, dan kini al-Attas. Belum lagi para ulama lain yang wafat di tengah konflik Timur Tengah, terutama di Syria dan Palestine.
Perlahan-lahan, gen Z memang akan sampai pada masanya untuk menjadi penerus. Namun pertanyaannya, apakah kualitas kami akan sebanding dengan mereka?
Di zaman ketika kepakaran tidak selalu dihargai sebagaimana mestinya, sementara angka popularitas sering kali menjadi ukuran utama. Di saat yang sama, banyak dari generasi kami juga tumbuh dalam realitas yang sangat materialistis, di mana pertimbangan ekonomi dan pencarian penghasilan sering kali lebih mendominasi daripada pengabdian panjang terhadap ilmu. Saya salah satunya.
Sekali lagi, akankah ilmu tetap dihormati di masa depan oleh generasi kami? Ataukah ia perlahan kalah oleh budaya popularitas dan orientasi materi?
Mari memantaskan diri bersama, agar bisa menjadi penerus yang lebih baik.
Dulu, hutan2 di Jawa dibagi oleh pemerintah Hindia Belanda jadi dua: hutan jati, dan non jati.
Hutan jati dianggap lebih penting dpd hutan non jati karena jati menghasilkan uang.
Cara pandang yg sebatas didasari "apa yg bisa dijual dari hutan ini?" yg bertahan hingga kini (?).
Orang gomblok berkomentar. Hukum memcium kaki ulama tidak boleh, termasuk viodalisme (perbudakan)
Coba baca "Bughyah" mencium tangan dan kaki orang saleh hukumnya boleh dengan tujuan tabarruk
وتقبيل الأماكن الشريفة على قصد التبرك وأيدي الصالحين وأرجلهم حسن محمود
Pesantren itu sudah ada jauh sebelum Indonesia ini ada. Ada ratusan, bahkan ribuan Pesantren yg usianya lebih tua dari Indonesia.
Apakah semua Pesantren itu baik? Tentu saja tidak. Karena yg mengurusi Pesantren juga manusia, pasti butuh perbaikan.
Kalau mau membicarakan Pesantren, riset dulu, bikin penelitian dulu, turun langsung ke Pesantren, wawancara Kyai, Ustadz dan santri-santrinya, baca literatur sejarahnya.
Jangan menarasikan Pesantren dg narasi yg merendahkan bahkan menyakiti hati santri-santrinya. Jangan kaget kalau santri-santrinya marah atas narasi yg ngawur, apalagi hanya untuk digunakan sebagai konten hiburan di media massa.
Sudahlah video asal nyomot, narasinya ngawur. Santri sungkem sama Kyai itu wujud takdzim, bukan feodal, malah dinarasikan berjalan ngesot. Belum lagi narasi lebay lainnya, sarungnya Kyai katanya mahal, mobilnya Kyai katanya mewah.
Sik tooo... rene..rene.. tak jilih lambemu, ben diajari sopan santun, ben rodo berakhlaq...
@jawafess yen ono kewan iku brarti daerah lingkunganmu bab sanitasi air bersih dan sehat isik apik lan sae.
yo indikator ae, nguh pertanda iso ngukur usia banyu ketimbang koen ngguh teknik radiasi nuklir leren nyatet tanggal radioisotop karbon-14 karo tritium.
wis sing sederhana ae❔
@pantungalimar Tahun 2000-2008 an. Teknologi belum terlalu maju, jadi masih ada balance antara sosialisasi dengan lingkungan sekitar. Tahun itu gua masih SD, pulang sekolah nyalain TV main PS2. Udah selesai main, buat PR terus main diluar sama teman bocil lain nya.
Darahku mendidih melihat pejabat-pejabatnya. Perasaanku terbakar oleh KKN nya yang pinter & tidak kentara!
Dadaku mau meledak karena rakyat karena rakyat dibodohi tidak habis-habisnya
~Emha Ainun Nadjib
#Rakjatmerdesa