You need to be attention-span-maxing.
Watch 3 hour talks. Read books for hours at a time. Watch the entire movie, without taking a break. Stare into space losing yourself in thought and imagination. Do not check your phone. The opposite of brain-rot is the will to focus in a culture which wants to pull you every other way.
Ekonom Universitas Indonesia Teuku Riefky ditanya di Kompas TV: apa rekomendasi utama untuk Presiden Prabowo?
Jawabannya tiga kata pertama: acknowledge the problem.
Bangun sense of crisis.
Karena menurut dia, itulah yang paling dikhawatirkan investor dari Indonesia saat ini , pemerintah tidak terlihat menganggap masalah ini serius.
Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand , semua negara tetangga merespons tekanan ekonomi global dengan lebih dulu mengakui ada masalah. Baru membangun optimisme.
Indonesia?
Presidennya pernah menyepelekan pelemahan rupiah di depan publik.
Menterinya bilang "fundamentalnya aman."
Jubir energinya bilang kenaikan Pertamax sudah "dihitung secara bijak."
Hasilnya: capital outflow yang deras dan konsisten selama berbulan-bulan.
IHSG yang baru naik karena , kata ekonom UI sendiri ,"obat sementara": buyback saham Himbara dan kenaikan suku bunga darurat BI.
Bukan karena fundamental yang membaik.
Bukan oposisi yang bilang ini.
Bukan aktivis jalanan.
Ini ekonom dari universitas negeri terbaik Indonesia, bicara di televisi nasional, 9 Juni 2026.
Kalau para ahlinya sudah bicara sekeras ini, siapa yang sedang didengar di Istana?
Jangan salah sangka bahwa saat ini Prabowo takut pada mahasiswa karena melihat dulu mertuanya (Soeharto) ditumbangkan oleh Mahasiswa.
Sebab, bukan mahasiswa yang menumbangkan Soeharto secara langsung saat itu.
Prabowo tahu itu.
Yang berbahaya di mata Prabowo adalah intervensi asing dan penghianatan dari dalam.
Dua hal itulah yang menumbangkan rezim 32 tahun Soeharto.
Dan karena itulah Prabowo selalu menyebut “aseng aseng aseng!” dan hanya merekrut orang-orang loyalis (penjilat) di sekitarnya.
1. Peran asing
Ada peran Presiden Amerika Serikat periode 1993-2001 yakni Bill Clinton di balik lengsernya kepemimpinan Soeharto.
Kala itu Bill risau karena permasalahan Timor Timur tak kunjung terselesaikan dan malu saat dibahas di konferensinya oleh sidang keamanan PBB.
Saat itu Soeharto ditelepon oleh Medeleine Albrigt dari Manila yaitu menteri luar negerinya Bill Clinton.
Ia disuruh mundur.
Presiden AS Bill Clinton mendesak Soeharto untuk sepenuhnya mematuhi reformasi ekonomi.
Direktur Pelaksana IMF saat itu, Michel Camdessus, bahkan mengakui bahwa organisasinya menciptakan kondisi yang mewajibkan Presiden Soeharto untuk mundur.
2. Penghianatan dari dalam
Saat itu, Ketua DPR/MPR Harmoko, yang dikenal sebagai pendukung berat Soeharto, malah menuruti tekanan massa.
Ia mengeluarkan pernyataan agar Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
Hal itu dilakukan Harmoko karena merasa mendapat dukungan dari pimpinan ABRI.
Pimpinan DPR/MPR secara terbuka meminta Soeharto mundur.
Situasi ini diperparah oleh mundurnya 14 menteri dari Kabinet Pembangunan VII.
Mundurnya para menteri saat itu juga mencerminkan hilangnya dukungan pada Soeharto.
Rakyat menentang, ABRI menarik diri, dan para menteri juga mundur, bahkan pembantu terpercaya sekaligus buzzer resminya, Harmoko menyarankannya mundur, artinya Soeharto sudah tak punya pendukung lagi.
Keesokan harinya, Selasa, 19 Mei 1998, Soeharto mengundang sejumlah tokoh Islam sebanyak sembilan orang.
Mereka adalah KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Nurcholis Madjid (Direktur Yayasan Paramadina), KH Alie Yafie (Ketua Majelis Ulama Indonesia), Malik Fajar dan Sumarsono (tokoh PP Muhammadiyah), KH Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Achmad Bagdja dan KH Ma'ruf Amin (tokoh NU), dan Emha Ainun Nadjib (budayawan).
Soeharto juga mengundang pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra.
Para tokoh agama ini pun menyampaikan bahwa rakyat Indonesia tetap menginginkan Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden.
Tapi Soeharto berkukuh bisa mengatasi keadaan.
Ia menyatakan akan mengubah Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi dan akan membentuk Komite Reformasi.
Tapi esok harinya, Rabu, 20 Mei 1998, malam, Soeharto menerima surat hasil keputusan dari 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII yang intinya menyatakan sikap tak bersedia menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Reformasi atau reshuffle kabinet.
Soeharto merasa terpukul dan ditinggalkan oleh orang-orang kepercayaannya.
Karena itulah bagi Prabowo, asing dan penghianatan jauh lebih berbahaya dibanding demo mahasiswa.
Ingat kawan, kemarin guru demo aja dia malah melambaikan tangan dari mobil dikira mendapat dukungan.
Draft:
Selama aksi demo hampir tidak ada TV nasional yang meliput.
Tapi menjelang malam, ada massa yang tidak jelas tiba-tiba muncul dan mulai berbuat anarkis, TV mendadak breaking news, disiarkan secara live, dengan narasi seolah-olah inti dari demonstrasi adalah kerusuhan.
TAMBAHAN TOOL LAGI
namanya EXIF STRIPPER
utk hapus metadata foto biar ga kelacak, terutama:
> lokasi foto
> waktu pegambilan
> tipe HP yg dipake
cara kerjanya sama:
> upload foto
> metadata dihapus
> download versi clean
akses di sini: https://t.co/Ri6rEaYIU3
Dirut kompas TV: Rosianna Silalahi Anda hebat, Bu
ceo tribun :Ahmad dahni anda hebat pak
Di saat media lain bungkam dan tidak ada berani siarkan live aksi massa hari ini.
ada juga di situasi ini malah share pernikahan artis
yang mau dukung mereka bisa mampir ke channel mereka bantu support live, share , dan subs guys
diantara ratusan media di indonesia
salut sama 2 media ini masih bisa independent
https://t.co/QtQtHMGlBj
Gila! Tulisan Om Bea Wiharta! Gila! 🤯
Buat yang gatau Om Bea;
Beawiharta (sering disapa Om Bea) adalah seorang visual storyteller dan mantan pewarta foto senior Reuters yang telah berkarya selama lebih dari 20 tahun di Asia Tenggara. Dikenal dengan karya dokumenter humanisnya, ia kini bekerja independen dan aktif meluncurkan buku foto, seperti memoar Unbreakable.
Merinding! Kalian boleh coba 'mengunjungi' link atau main ke IG Mas Bea, lalu membaca sambil kalian amati slide per slide photonya! 🤯
Gen Z realizing one of the biggest shocks after college is that life no longer happens around you.
In school, friends, events, relationships, and opportunities are built into your environment.
As an adult, if you don't actively create a social life, weeks can turn into months surprisingly fast.
Lucu rasanya. Pasukan lengkap TNI-Polisi dikerahkan untuk menghadang barisan orang muda tanpa senjata yang hendak menyuarakan haknya. Mengingat berkali-kali menyaksikan negara begitu “softspoken” sama penjahat perang macam Trump dan Netanyahu. Tapi berlaga sangat galak kepada rakyatnya sendiri. Republik anomali
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
Guys, di tengah semua berita tentang pemimpin yang korup, program yang gagal, dan pejabat yang tidak kompeten ada satu kisah lama yang menurut gue paling relevan dan paling menginspirasi untuk dibaca hari ini.
Ignasius Jonan harus menertibkan lebih dari 20.000 Kepala Keluarga untuk membangun double track kereta lintas utara Cirebon-Surabaya-Pasar Turi sepanjang 500 kilometer.
Di Indonesia proyek sebesar ini biasanya identik dengan satu hal: keributan panjang, ganti rugi yang tidak adil, warga yang melawan, dan proyek yang molor bertahun-tahun.
Jonan menyelesaikannya tanpa satu pun keributan berarti.
Dan ini cara yang dia lakukan yang tidak terpikirkan oleh siapapun sebelumnya:
Kompensasi sesuai aturan sudah pasti diberikan.
Itu standar. Itu kewajiban.
Tapi Jonan menambahkan satu hal yang tidak ada dalam aturan manapun:
"Setiap orang yang terdampak boleh mengusulkan satu anggota keluarganya untuk menjadi pegawai KAI."
Satu kalimat.
Tapi dampaknya luar biasa.
Bapak yang tanahnya tergusur bisa daftarkan anaknya kerja di KAI.
Ibu yang rumahnya dibongkar bisa daftarkan suaminya.
Kakak yang bangunannya ditertibkan
bisa daftarkan adiknya.
Asalkan masih satu Kartu Keluarga bebas.
Dan ini yang paling mengagumkan syaratnya sangat manusiawi:
Jonan tidak membuat syarat yang mempersulit.
Ijazah minimal SLTA.
Usia maksimal 40 tahun. Tes kesehatan. Selesai.
Dan kalau anggota keluarga pertama tidak lulus tes kesehatan boleh ganti dengan anggota keluarga lain dari KK yang sama sampai ada yang lulus.
Tidak ada birokrasi yang rumit.
Tidak ada uang pelicin.
Tidak ada koneksi yang diperlukan.
Dan ketika ada yang bilang ke Jonan bahwa dulu daftar kerja di KAI harus nyuap jawabannya langsung dan keras:
"Kalau ada yang nyuap laporkan ke saya."
20.000 lebih KK pindah.
Tanpa keributan.
Tanpa demo.
Tanpa protes panjang yang menghambat proyek.
Bahkan bukan hanya mau pindah mereka pindah dengan perasaan diuntungkan.
Karena sekarang ada anggota keluarga mereka yang punya pekerjaan tetap, penghasilan stabil, dan masa depan yang lebih jelas dari sebelumnya.
"Saya bilang:
saya tidak mengusir Anda.
Anda pergi tapi akhirnya keluarga Anda jadi pegawai di kami."
Dan ini konteks yang lebih besar yang perlu diingat:
Jonan mengambil alih KAI ketika perusahaan itu sedang merugi Rp83 miliar di tahun 2009.
Bobrok dari dalam.
Budaya suap merajalela.
Pelayanan buruk.
Aset tidak terurus.
Cara dia membangun double track ini mencerminkan cara dia memimpin secara keseluruhan:
fokus pada solusi nyata bukan prosedur kosong, hormati rakyat kecil sebagai manusia bukan sebagai hambatan proyek, dan bersihkan sistem dari dalam tanpa kompromi.
Hasilnya KAI berubah dari perusahaan yang merugi menjadi perusahaan yang sehat dan menguntungkan.
Jonan membuktikan satu hal yang menurut gue paling langka di Indonesia:
pemimpin yang cerdas tidak perlu memilih antara kepentingan proyek dan kepentingan rakyat.
Dengan sedikit kreativitas dan banyak empati keduanya bisa berjalan bersamaan.
20.000 KK ditertibkan.
500 kilometer jalur dibangun.
Dan ribuan keluarga yang terdampak justru mendapat pekerjaan yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.
Bukan sulap.
Bukan keajaiban.
Hanya kepemimpinan yang benar-benar memikirkan manusianya bukan hanya angka proyeknya.
Dan yang paling menyedihkan: kisah seperti ini seharusnya jadi standar bukan pengecualian yang kita kagumi karena begitu jarang terjadi.
Mengapa banyak pedagang kaki lima ngaku omset mereka perbulan jauh lebih tinggi dari gaji karyawan, akan tetapi tetap hidup dalam kemiskinan? pernah denger ga?
1/ Sering gak sih denger pedagang kaki lima atau pasar pamer kalau omzet mereka puluhan juta sebulan, jauh di atas gaji kantoran?
Tapi anehnya, gaya hidup mereka tetep segitu-gitu aja, bahkan cenderung pas-pasan. Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah kenyataan pahit di balik "ilusi omzet".
2/ Jebakan Batman Omzet ≠ Profit
Banyak orang (bahkan pedagangnya sendiri) sering tertipu melihat uang masuk. Mau omzet lo Rp1 miliar sebulan pun, kalau margin keuntungannya tipis, jatuhnya zonk. Misal jual gorengan Rp500 sebiji, tapi untung bersihnya cuma Rp50. Itu artinya margin profitnya cuma 10% Sisa uangnya? Habis lagi buat muter modal belanja besok pagi.
3/ Terjebak di Lingkaran Setan "Main Kuantitas" Karena margin keuntungan per produk kecil, satu-satunya cara biar dapet penghasilan layak adalah dengan jualan sebanyak-banyaknya. Main kuantitas = menguras tenaga berkali-kali lipat. Alhasil, fisik dan pikiran sudah habis terkuras habis buat kulakan, masak, dan jaga lapak dari subuh sampai malam.
4/ Gak Ada Waktu Buat Berkembang
Gimana seorang pedagang mau mikirin strategi ekspansi bisnis, bikin sistem, atau investasi, kalau kesehariannya aja udah bikin lelah pulang malem/dini hari? Energi otaknya habis cuma buat mikirin cara bertahan hidup hari ini. Akhirnya, bisnis mereka mandek dan jalan di tempat bertahun-tahun.
5/ Ilusi "Perasaan Berkuasa" (Self-Employee)
Satu hal yang bikin pedagang sering merasa di atas angin adalah perasaan bebas gak punya bos. Mereka ngerasa "berkuasa" atas waktu dan usahanya sendiri. Tapi hati-hati, perasaan berkuasa ini sering bikin cepet puas, padahal gak ada yang abadi di dunia usaha. Kalau pola pikirnya gak diasah buat berkembang, status self-employed ini sebenernya cuma kedok dari "kurang kerjaan" alih-alih cerdas nan mandiri.
6/ Gak Usah Nyinyir Sama Pegawai Kantor
Jadi, stop lah kebiasaan ngejek atau nyinyirin mereka yang milih jadi pegawai kantoran. Pegawai punya kepastian pendapatan, asuransi, dan jam kerja yang terukur. Realitanya, penghasilan bersih pedagang yang kerja rodi 15 jam sehari belum tentu lebih layak dari gaji bulanan pegawai yang kerjanya 9-to-5.
Kalian milih omzet gede tapi ga pasti atau gaji kecil tapi rutin?
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Kok bisa Indo hobi banget konsumsi tepung terigu??
Padahal terigu itu MAYORITAS IMPOR....
Dan mayoritas snack2 indo bahan bakunya tepung terigu?
Jawabannya: Rezim Orde Baru (Orba)
Orba memang sengaja membangun sistem pangan yang membuat terigu makin murah, tersedia, dan mudah dikonsumsi rakyat..
Kenapa?
Pertama, Orba berusaha mencari pangan yang murah, cepat, dan gampang didistribusikan.
Pangan apa yang cocok di zaman itu? Ya terigu, karena mudah diimpor. Beras, meski bisa swasembada, tetap rawan gagal panen.
Kedua, Orba memonopoli perdagangan terigu.
Terigu hanya bisa diimpor oleh dua perusahaan penggilingan gandum yang semuanya adalah kroni mereka.
Bayangin, berapa jatah yang didapat Orba dari impor jutaan ton gandum?
Kebetulan, Indonesia mengalami urbanisasi massif di masa Orba.
Masyarakat urban membutuhkan makanan cepat, murah, dan praktis.
Walhasil, produk olahan gandum seperti mi, roti, dan kue meningkat.
Jadilah, terigu massif dikonsumsi oleh rakyat Indo.
Padahal, sekali lagi..
TERIGU ITU IMPOR.
Dan dari minggu-minggu kemarin, harganya NAIK TERUS!
Source Gambar: DetikFood dan Sitenews