Even though I am a sinner and a 🍵man, I cannot stay silent in the face of oppression. Free🍉| anak mantan pejabat☺️ | and also cucu pejabat | Tionghoa but ☪️
Gimana ya caranya bisa punya temen dari tempat gym… sedangkan aku introvert. Kaga ada yg nyapa ajak kenalan duluan🥹😭 ayo dong yg di ftl sby barat ajak kenalan kek
Saya teringat pesan guru Bedah Umum saya:
Luka fisik sering lebih mudah disembuhkan karena terlihat jelas. Tapi luka mental dan jiwa bisa membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan kadang tidak pernah benar-benar hilang.
Karena itu, jangan mudah menghancurkan kondisi psikologis seseorang. @gigggit
Saya teringat pesan guru Bedah Umum saya:
Luka fisik sering lebih mudah disembuhkan karena terlihat jelas. Tapi luka mental dan jiwa bisa membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan kadang tidak pernah benar-benar hilang.
Karena itu, jangan mudah menghancurkan kondisi psikologis seseorang. @gigggit
Oke, paham sekarang. Salah gue ternyata terlalu peduli. Harusnya gue ngilang aja tanpa penjelasan, bikin orang bertanya-tanya, susah ditebak, dan nggak pernah menunjukkan kalau gue peduli. Ternyata yang tulus dibilang ngemis, yang dingin dibilang punya harga diri. Baiklah, pelajaran diterima. 🫡
Gini deh, menurutku cara berpikirmu yang keliru. Kita lagi ngomongin orang yang mau jadi wakil tertinggi suatu negara. Orang yang nanti ikut mengatur kebijakan, membuat peraturan, menentukan arah pembangunan, pendidikan, kesehatan, pajak, investasi, sampai lapangan kerja jutaan orang.
Dokter harus jelas ijazahnya. Guru harus jelas ijazahnya. Pengacara harus jelas ijazahnya. Bahkan banyak pekerjaan biasa saja mensyaratkan ijazah dan sertifikasi.
Nah, kalau yang mengatur semuanya justru riwayat pendidikannya tidak jelas dan masyarakat tidak boleh mempertanyakannya, itu logikanya di mana?
Yang dipersoalkan bukan sekadar selembar ijazah, tetapi transparansi dan akuntabilitas pejabat publik. Kalau rakyat diminta percaya, ya wajar rakyat juga minta bukti.
Sampai sini paham, kan? Karena dari awal pembahasannya memang soal transparansi calon pemimpin negara, bukan soal orang ngurus ijazah lalu dapat duit atau tidak. Itu dua hal yang berbeda. 🙂
Gini deh, menurutku cara berpikirmu yang keliru. Kita lagi ngomongin orang yang mau jadi wakil tertinggi suatu negara. Orang yang nanti ikut mengatur kebijakan, membuat peraturan, menentukan arah pembangunan, pendidikan, kesehatan, pajak, investasi, sampai lapangan kerja jutaan orang.
Dokter harus jelas ijazahnya. Guru harus jelas ijazahnya. Pengacara harus jelas ijazahnya. Bahkan banyak pekerjaan biasa saja mensyaratkan ijazah dan sertifikasi.
Nah, kalau yang mengatur semuanya justru riwayat pendidikannya tidak jelas dan masyarakat tidak boleh mempertanyakannya, itu logikanya di mana?
Yang dipersoalkan bukan sekadar selembar ijazah, tetapi transparansi dan akuntabilitas pejabat publik. Kalau rakyat diminta percaya, ya wajar rakyat juga minta bukti.
Sampai sini paham, kan? Karena dari awal pembahasannya memang soal transparansi calon pemimpin negara, bukan soal orang ngurus ijazah lalu dapat duit atau tidak. Itu dua hal yang berbeda. 🙂
Kadang terasa sangat sepi. Ingin ada seseorang untuk diajak berbagi cerita tentang politik, bisnis, atau hal-hal sederhana. Seseorang yang bisa menemani nonton Netflix, pergi ke bioskop, makan di pinggir jalan atau sesekali menikmati tempat yang lebih fancy.
Ada kalanya juga hanya butuh kehangatan pelukan, ditemani berbaring semalaman, merasa dekat tanpa harus banyak bicara. Dan sebagai manusia, ada kebutuhan fisik yang sesekali ingin terpenuhi.
Mungkin yang dicari bukan sekadar hubungan, tapi seseorang yang benar-benar hadir secara pikiran, perasaan, dan kedekatan.
AVAOIDANT TIDAK LAYAK DICINTAI!!!
Namamu pernah aku sebut di depan Ka’bah. Ibuku ikut mendoakanmu. Sedangkan yang kuterima darimu adalah trauma, psikolog, psikiater, hilang nafsu makan berbulan-bulan, dan kehilangan diriku sendiri. Jika itu masih belum cukup menggambarkan seberapa besar luka yang kamu tinggalkan, aku tidak tahu apa lagi yang bisa menjelaskan.
Yang paling menyakitkan, semua itu terjadi bukan karena perselingkuhan, bukan karena pertengkaran besar, bukan karena kesalahan fatal. Kamu hanya memilih pergi. Menghilang. Seolah-olah perasaanku tidak pernah ada nilainya.
Mungkin bagimu itu hal biasa. Tinggal ghosting, tinggal menjauh, tinggal menghilang. Tapi akibat yang kutanggung tidak biasa. Aku yang harus mengumpulkan kepingan diriku sendiri sementara kamu melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
kalian boleh ndak suka sama mutualku ini, tapi
dia menjanjikan daycare saat kampanye pilkada DKI 2016, dan beneran membangun 32 daycare profesional ketika jadi gubernur.
saat menjadi mendikbud 2014, dia juga membuatkan daycare di kantor kementrian [yg kemudian digusur].
sayangnya, masyarakat kita ga terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini, janji serupa di pilpres 2024 cuma dianggap remeh.
sekarang ketika ada kasus daycare malpraktek di jogja yg kemudian viral, kita cuma bisa menuntut pertanggungjawanan setelah kejadian, karena akar masalahnya tidak pernah jadi perhatian.
mereka gak care pentingnya daycare.
#lamjutkanmbg
Tahun 1966, ayahnya, Sukarno dikudeta dari kursi presiden RI.
Tahun 1967, ia dikeluarkan dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran karena nama ayahnya melekat dengan namanya.
Tahun 1970, Soeharto menolak permintaan keluarganya dalam prosesi pemakaman Sukarno yang menjadi keinginan sang proklamator dalam wasiatnya ingin di makamkan di Bogor namun dijauhkan ke Blitar Jawa Timur.
Tahun 1972, ia dikeluarkan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia karena tekanan rezim Orde Baru.
Tahun 1973, partai yang didirikan Sukarno tahun 1927 sebagai alat politik kemerdekaan bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) dipaksa bubar kemudian dileburkan lewat fusi partai.
Tahun 1975, kebijakan de-Sukarnoisasi atau meminggirkan warisan serta ingatan rakyat pada Sukarno digalakkan di masa Orde Baru.
Tahun 1993, rezim Orde Baru mengintervensi Kongres PDI yang memutuskan Megawati sebagai ketua umum PDI yang berakhir deadlock dan kacau.
Tahun 1996, peristiwa penyerangan di Kantor DPP PDI yang saat itu dikuasai oleh PDI-Megawati di tanggal 27 Juli 1996 (Peristiwa Kudatuli).
Tahun 1997, Rezim Orde Baru mengesahkan kepemimpinan PDI Soerjadi yang mengakibatkan Mega teralienasi dan terkucilkan dari politik.
Dari tahun 1966-1998, tiga kali Mega ditangkap dan diinterogasi oleh aparat. Pun selama masa Orde Baru hidupnya penuh dengan pengintaian aparat rezim Orde Baru.
Semua rasa sakit di masa Orde Baru telah dirasakan Mega. la adalah perempuan yang mempertaruhkan kepalanya menghadapi rezim otoritarianisme Orde Baru. la adalah inspirasi bagi gerakan pro-Demokrasi sehingga menjadikannya sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto.
Menyandang status anak Sukarno di era Orde Baru adalah bencana karena serangan bertubi-tubi yang dihadapinya. Tapi ia terus tegak berdiri meski ditinggal seorang diri kemudian secara perlahan memulihkan nama baik Sukarno.
JAS MERAH, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah..
IG Anwarsaragih.