Riyang Gati, pemuda 26 tahun asal Sleman, memanfaatkan media sosial untuk menjual rumput secara daring di bawah nama “Bakul Suket” atau https://t.co/7FqihDrrZN. Usaha ini muncul setelah ia menganggur dan sawah keluarganya beberapa kali gagal panen. Dengan menjual rumput seharga Rp 25 ribu per karung dan konten sederhana yang konsisten, Riyang berhasil menarik perhatian peternak yang sibuk maupun penghobi hewan.
Awalnya diragukan, usaha ngarit online ini justru berkembang pesat. Pelanggan pertamanya datang dari Bantul untuk pakan marmut, dan kini pesanan bahkan sampai Tangerang melalui marketplace. Dengan pengantaran gratis untuk wilayah dekat dan kualitas rumput yang dijaga, Riyang bisa mengirim hingga enam karung per hari. Banyak wilayah lain seperti Magetan, Wonosobo, dan Cilacap mulai menanyakan ketersediaan rumput.
Melihat permintaan yang meningkat, Riyang berencana menambah lahan dengan menyewa sawah sekitar serta membuat ukuran kemasan mini untuk pembeli hewan kecil. Ia ingin menseriusi usaha ini dan membuka peluang kerja bagi warga sekitar, sehingga ngarit online bisa menjadi sumber ekonomi baru di desanya.
📸: Dok. kumparan/Arfiansyah Panji.
Follow WhatsApp Channel kumparan untuk dapat Informasi terpercaya dikirim langsung ke WhatsApp kamu. Ketik https://t.co/LTFgN0m78w di browser kamu sekarang, agar bisa share informasi tanpa ragu.
#newsupdate #update #news #videonews #ngaritonline #bakulsuket #UMKMdigital #sleman #suketinid #umkm #peternakindonesia #digitalisasidesa #info #infoterkini #berita #beritaterkini #bicarafaktalewatberita #kumparan
🧵 (1/7) Kenapa orang miskin punya banyak anak? Pertanyaan itu sering muncul, kadang dgn nada sinis. Tapi mari jeda sejenak dan coba memahami dari sudut pandang mereka. Di dunia yg keras dan tak pasti, keputusan itu sering lahir dari naluri bertahan, bukan sekadar pilihan bebas.
Kang @DediMulyadi71, mengirim anak-anak yang ‘bermasalah’ ke barak militer atau institusi yang mengajarkan kedisiplinan dengan kepatuhan bukan solusi yang tepat. Karena ini tidak membuat kita lebih memahami akar masalah perilaku anak. Mereka butuh pemahaman emosi, penyembuhan trauma, dan bimbingan personal. Bukan sekedar dikondisikan untuk patuh. Barak militer tidak dikondisikan untuk memberikan kebutuhan ini. Kalau sempat, nonton Pengepungan di Bukit Duri ya, Kang. Nuhun.
Kasus John Titor, Penjelajah Waktu yang Datang Dari Tahun 2036
Yes, i Know, John Titor adalah kisah yang outdated, kadaluarsa, basi. Etc. Maafkan admin yang membahas John Titor di tahun 2025 —Jika kalian pernah tau kasusnya dan membaca postingan ini di tahun 2025 atau lebih, anggap saja ini sebagai “kunjungan kembali”