Setelah bercerai, saya merantau untuk bekerja ke Bintan, Kepulauan Riau. Meninggalkan Salwa yang saat itu masih berusia 14 bulan dan masih menyusu.
Agar ia tidak tahu bahwa ibunya akan pergi, Salwa disuruh main di rumah tetangga. Sialnya, ketika saya diantar Bapak menggunakan motor, Salwa hafal suara motor itu dan berlari keluar, melihat saya, dan berteriak, "Ndaaa ... ndaaa. Itut, Ndaaa!"
Teriakan itu terus menghantui. Menjadi suara yang membuat saya menangis setiap malam selama bertahun-tahun.
Ketika akhirnya saya pulang dan ingin menebus tahun-tahun yang hilang, Ibu merasa lebih berhak atas pengasuhan Salwa. Selama belasan tahun saya bertarung dengan keluarga sendiri atas hak asuhnya.
Hingga hari ini, Salwa tidak tinggal bersama saya.
Bila waktu bisa diputar ulang, saya akan membayar dengan apa saja agar bisa kembali ke saat itu dan memutuskan untuk tidak pergi.
Persetan dengan kemiskinan yang membelit kami, saya hanya ingin bersama anak saya. Itu saja.
@embebidin @jancukkkgondes @xxxx_ayy Gue juga gini sih bang, beli rumah di kampung buat nikmatin masa pensiun di kampung. Rumah di jabotabek udah gila harganya, ditambah gue gamau sampe sepuh harus macet-macetan terus di Jabotabek.
@tanyakanrl Sama nih, kayak gini yang bikin males bantuin temen kesusahan sampe ngutang gini, duit gue ada di 3 orang total 7jt, dari tahun kemarin sampe sekarang yang masuk baru 2jt, tiap ditagih alasannya bayar cicilan rumah lah, bayar pembantu lah. Jadi nyesel pernah minjemin.