Tuhan memang penuh jenaka dramatisasi darderdor..
Dia mengajarkan kita untuk fokus ke diri sendiri, pikirkan diri sendiri, bahagiakan diri sendiri itu normal dan baik baik saja..
Tidak bisa dipungkiri, Gibran naik dengan popularitas sebagai putra sulung Jokowi, tapi Gibran lupa bahwa dirinya tidak membawa otak dalam kepopulerannya. Gibran sendiri pernah mengaku bahwa ia tidak suka membaca, bukan hanya buku yang tebal, tapi laporan resmi pun jarang disentuh. Sebagai Presiden (diasumsikan tahun 2029), ia memimpin dengan insting dan gimmick, bukan dengan data dan strategi. Bayangkan jika dia menghadapi laporan Badan Pusat Statistik 2030 tentang inflasi yang naik 6%, pengangguran 7,5 juta jiwa, dan ekspor turun 10% akibat perang dagang global. Gibran yang tidak paham tentang grafik serta analisis, dia hanya akan mengangguk pada menteri atau membaca pidato staf, lalu mengumumkan “bansos tambahan” sebagai solusi.
Dunia berlomba di era AI dan ekonomi hijau, seperti Singapura yang menguasai teknologi blockchain, Vietnam yang menjadi pusat manufaktur cerdas, tapi Indonesia di bawah Gibran? mandek. Ia tak mengerti urgensi investasi R&D yang hanya 0,28% dari PDB pada 2023, jauh di bawah rata-rata ASEAN yaitu 1,2%. Gibran hanya mampu menawarkan sebuah program yang sederhana, yaitu bagi-bagi susu gratis untuk anak-anak, atau melanjutkan proyek infrastruktur Jokowi tanpa inovasi. Dan ketika krisis iklim melanda (banjir di Jakarta, kekeringan di Jawa Timur), dirinya tidak tahu apa perbedaan antara emisi karbon dan polusi udara, apalagi solusi yang berbasis sains? Indonesia akan menjadi bagian penutup barisan, diejek di COP35 karena tidak memiliki rencana dekarbonisasi.
Nah yang lebih mengkhawatirkan, sepertinya Gibran mempunyai alergi terhadap kampus. Selama menjadi Wapres, ia tak pernah menginjakkan kakinya di UI, ITB, atau UGM, di mana kampus-kampus itu merupakan tempat lahirnya ide dan kritik. Sebagai Presiden (nantinya), sikap anti ini dapat memburuk. Universitas, yang seharusnya menjadi mitra pembangunan, dibiarkan menganggur. Anggaran pendidikan tinggi dipotong demi bansos dari 20% APBN era Jokowi menjadi 15% di 2030, sementara mahasiswa yang melakukan aksi demo diabaikan. Gibran yang tidak menyukai debat intelektual, dia akan lebih banyak membisu karena lebih nyaman berfoto dengan petani ketimbang diskusi dengan seorang profesor.
Gibran, Nepotisme, dan Presiden yang Bodoh
Bayangkan, Indonesia pada 14 November 2029 di mana Gibran Rakabuming Raka berusia 42 tahun, yang baru saja dilantik sebagai Presiden ke-9 Republik Indonesia setelah memenangkan Pilpres 2029. Kemenangannya tidaklah mengejutkan bagi kita semua, karena putra sulung Jokowi ini telah dipersiapkan sejak lama melalui mesin politik keluarga dan manipulasi institusi. Namun, di balik sorotan lampu Istana, ada sosok yang jauh dari ideal, yaitu seorang pemimpin yang tidak suka membaca, menghindari kampus seperti wabah, dan berdasarkan rumor yang tak terbantahkan, Gibran punya rekam akademik yang memalukan dengan IPK rendah. Tulisan ini bukan sekadar kritik personal, melainkan sebuah peringatan tentang masa depan bangsa yang dipimpin oleh Presiden tanpa intelek. Pertanyaannya, “Mau jadi apa Indonesia di tangan Gibran?”.
Kenaikan Gibran merupakan puncak dari skema politik yang dimulai jauh sebelum ia dilantik sebagai wakil presiden pada 20 Oktober 2024, di mana pada 16 Oktober 2023, Mahkamah Konstitusi (MK) di bawah Anwar Usman sebagai pamannya Gibran dan ipar Jokowi mengeluarkan Putusan No. 90/PUU-XXI/2023. Aturan usia minimum calon Presiden/Wakil Presiden diubah, memungkinkan Gibran, yang saat itu masih berusia 36 tahun dan sebagai Wali Kota Solo untuk maju di Pilpres 2024 bersama Prabowo Subianto.
Majelis Kehormatan MK menyatakan bahwa Anwar melanggar etika berat, mencopotnya dari jabatan Ketua MK pada 7 November 2023, tapi keputusannya tetap berlaku, sebuah ironi tentang bukti nyata manipulasi hukum demi dinasti politik.
Distribusi bansos melonjak tajam (Rp 154,45 triliun pada 2024 menurut Kementerian Keuangan), tepat sebelum pemungutan suara pada 14 Februari 2024. Jokowi, meski bukan kandidat, aktif mendampingi kegiatan bansos, memicu tuduhan bahwa hal ini merupakan strategi untuk membeli suara demi Prabowo-Gibran, yang akhirnya menang dengan perolehan suara sebanyak 58,59%.
Wahai netizen... Saya punya pertanyaan nih..
Kok akhir akhir ini gas cepet masak 1 tabung cepat habis ya? Biasa dipakai 1 bulan, ini 10 hari sudah habis, dengan rutinitas masak biasa..
#IndonesiaGelap#Gaslangka
Mungkin informasi nya terbatas banget. Karena kalau dari cerita bapak supir, rencana orang tersebut sistematis.. karena koper yg ditinggal, ternyata koper kosong 😭
Tapi saya optimis dengan info minim pun netizen +62 mampu membantu 🙏🏽
#twitterpleasedoyourmagic
Kini sang supir mengantar saya dengan suara gemetar bercerita.. kalau ngandelin polisi pasti susah nih ke lacak orang tersebut.
Twitter land please help this person.. kalau ga si bapak diminta ganti argo dan uang toll..
#twitterpleasedoyourmagic
Jangan menyesal.. Hidup itu isinya keputusan atas pilihan pilihan yang Ada..
Ketika dulu sudah diputuskan dan sekarang terselip Rasa penyesalan.. waktu Ga bisa diulang.. hadapi Hidup ke depan nya.. nikmati Jalan Hidup selanjutnya.. don't look back.. all past is done..