di medan ada orang ditangkap karna beli pertalite 20 liter dengan jirigen, di suruh surat keterangan palsu agar mau ngaku beli jadi 25 liter.
memang mereka salah karna tidak boleh untuk dijual lagi, tp maksudnya ini dilakukan sekedar menyambung hidup bukan korupsi mega proyek.
mereka kena pasal mafia migas,
denda 60 Milyar ancaman hukuman 6 tahun penjara ๐ณ
apa benar syarat "aman" di negeri ini:
- punya pengaruh (followers dan kekuasaan)
- punya uang buat bayar pengacara
- punya link ke pejabat konoha
ngeriiiii gaes
MAKASIHHH ๐ญ Gara-gara ngikutin lifehack-nya aku bisa ngilangin blackmold di dinding ini tanpa harus cat ulang. Cuma pake bahan yang ada di rumah, bener-bener minggat balik kinclong lagi๐ญ
Ini jadi ASN/PNS aja ada 20 tahap yang harus di lalui
lahh kemaren ada jubir yang bicara kompetensi itu
tidak harus ada kalo mau jadi ketua MBG/BGN
dimana keadilan untuk seluruh rakyat indonesia
yang tertuang dalam pancasila
apakah omon omon doang
apakah itu hanya untuk orang berduit saja
kita semua udah tahu jawabannya
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
โข Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
โข Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
โข Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
โข Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
โข Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
โข Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
๐ฉบ TYPES OF DOCTORS
1) โค๏ธ Doctor of Heart โ Cardiologist
2) ๐งด Doctor of Skin โ Dermatologist
3) ๐ฆด Doctor of Bones โ Orthopedic
4) ๐ง Doctor of Brain โ Neurologist
5) ๐ถ Doctor of Children โ Pediatrician
6) ๐๏ธ Doctor of Eyes โ Ophthalmologist
7) ๐ฆท Doctor of Teeth โ Dentist
8) ๐ซ Doctor of Kidney โ Nephrologist
9) ๐ช Doctor of Surgery โ Surgeon
10) ๐๏ธ Doctor of Cancer โ Oncologist
11) ๐ง Doctor of Mind โ Psychiatrist
12) ๐ซ Doctor of Liver โ Hepatologist
13) ๐ฉ Doctor of Women โ Gynecologist
14) ๐ฝ๏ธ Doctor of Stomach โ Gastroenterologist
15) ๐๐๐ฃ๏ธ Doctor of Ear, Nose & Throat โ Otolaryngologist (ENT)
16) ๐ซ Doctor of Lungs โ Pulmonologist
17) ๐ฉธ Doctor of Blood โ Hematologist
18) โ๏ธ Doctor of Hormones โ Endocrinologist
19) ๐ฉป Doctor of X-rays & Scans โ Radiologist
20) ๐ฆด Doctor of Joints & Arthritis โ Rheumatologist
21) ๐ฆ Doctor of Infectious Diseases โ Infectiologist
22) ๐ป Doctor of Urinary System โ Urologist
23) ๐ฆถ Doctor of Feet โ Podiatrist
24) ๐ซ Doctor of Chest & Tuberculosis โ Pulmonologist (TB Specialist)
25) ๐ Doctor of Vision & Glasses โ Optometrist
26) ๐ถ Doctor of Animals โ Veterinarian
Coba cari tahu deh negara mana yang mengharuskan ganti plat kendaraan setiap 5 tahun.
Cuma ada 1 negara yang gitu!
Di kebanyakan negara plat itu berlaku sampe rusak/hilang.
Yang harus ganti juga paling 10 tahun (supaya plat jelas)
Intinya memang pemerintah kita ribet aja.
Di depan samsat banyak bgt calo. Pas mau masuk parkiran dia bilang โ20ribu aja kita bantu.โ
Ternyata diajak ketemu sama bapak-bapak (atasannya lagi) Diliat BPKB dan STNK nya. Dia bilang โ2,4jt langsung selesai satu jam.โ
Hei whattt??!! Gue cek lagi STNK mobil perasaan 1,6jt, kenapa jd 2,4๐ญ
Gue tanya, โtd katanya 20rebuuu.โ
Trs dijawab โ20rb mah ngasih dia doang nih yg jalan.โ Trs gue ngasih bapak2 yg duduk itu 800rb? Ga rela๐ญโ๐ป
Pas masuk samsat ganti plat ternyata gratis
cc:threadaini_inun
Anggaran program MBG thn 2025 Rp85,27 triliun, thn 2026 meningkat menjadi Rp268 triliun.
Program MBG dijadikan Ladang Korupsi Pejabat atau pegawai BGN.
Dadan: Satukan Aksi, Basmi Korupsi.
Ternyata dia sendiri Ahli Korupsi
@DakotaGeorgy Rajin upload tapi tutup kolom komentar itu lucu bin aneh. Nyalahin dapur2 trs tapi yg memberi ijin dan verifikasi dr mrk.. Sementara pimpinan dapur2 juga pilihan dan ditentukan oleh mrk. BGN benar2 sekumpulan BADUT yg mengira mrk lg tampil di sirkus
Guys, ada analisis yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang sesuatu yang setiap hari kita lihat di jalanan tapi tidak pernah kita pahami dengan benar.
Kenapa tiba-tiba semua orang jualan seblak, cilok, gorengan, dan cimol?
Jawabannya bukan karena mereka jadi wirausahawan.
Jawabannya karena mereka tidak punya pilihan lain.
Pertama tentang konsep yang paling penting untuk dipahami:
Dalam ilmu ekonomi tenaga kerja ada dua jenis wirausaha yang sangat berbeda.
Opportunity entrepreneurship berwirausaha karena melihat peluang pasar, ada inovasi, ada riset, ada rencana bisnis yang matang.
Necessity entrepreneurship berwirausaha karena terpaksa. Karena tidak ada pilihan lain.
Karena kalau tidak jualan tidak bisa makan hari ini.
Dan mayoritas besar dari ledakan pedagang kaki lima kuliner yang kita lihat sekarang masuk ke kategori kedua.
Bukan wirausahawan.
Mereka adalah pengangguran yang menyamarkan statusnya dengan gerobak tepung.
Dan ini kenapa tepung dan aci yang dipilih
bukan karena cinta kuliner:
Modal paling rendah.
Tidak butuh keahlian khusus.
Tidak perlu izin.
Tidak perlu riset pasar.
Tidak ada resep rahasia yang perlu dijaga.
Beberapa kilogram tepung, minyak goreng curah, penyedap sintetis, bubuk cabai, dan wajan aluminium dan seseorang sudah bisa mengklaim punya usaha.
Bagi yang baru dapat surat PHK dari pabrik garmen ini adalah jaring pengaman terakhir.
Bagi ratusan ribu sarjana yang lamarannya tidak pernah dijawab ini bukan tentang membangun warisan bisnis. Ini tentang memastikan ada beras yang bisa dimasak besok pagi.
Dan ini tentang angka pengangguran yang paling sering disalahartikan:
BPS melaporkan pengangguran terbuka Februari 2026 di angka 7,24 juta orang atau 4,68%.
Pemerintah menyebutnya sebagai keberhasilan.
Tapi angka itu menipu.
Karena seseorang yang berjualan gorengan tiga jam sehari secara resmi tercatat sebagai bekerja bukan pengangguran.
Dalam ilmu ekonomi ini disebut pengangguran terselubung secara administratif bekerja, tapi produktivitas ekonomi marginalnya sangat rendah, tidak sesuai kapasitas atau keahliannya.
Dan buktinya sangat jelas: proporsi pekerja di sektor informal Indonesia secara persisten berada di 57 sampai 60% dari total angkatan kerja.
Lebih dari separuh orang yang dihitung sebagai "bekerja" sebenarnya berada di sektor yang tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada asuransi, tidak ada dana pensiun.
Dan ini tentang kanibalisme ekonomi yang paling menyedihkan:
Ketika satu pedagang cimol terlihat ramai minggu depan muncul 10 gerobak cimol dalam radius 100 meter. Semua menjual produk identik.
Menyasar konsumen yang sama.
Dengan harga yang sama.
Mereka tidak sedang bersaing dengan korporasi multinasional.
Mereka sedang bersaing dengan sesama yang baru saja kena PHK dari pabrik yang sama.
Dan kue yang diperebutkan tidak membesar justru menyusut. Karena daya beli masyarakat sedang hancur. Kelas menengah turun kasta.
Inflasi menggerus pendapatan.
Pinjol mencekik.
Uang yang beredar untuk beli jajan pinggir jalan makin sedikit.
Hasilnya: perang harga yang brutal.
Margin yang sudah setipis kertas makin menipis.
Dan tidak ada yang menang.
Dan ini tentang ironi terbesar yang jarang dibicarakan:
Indonesia adalah negara yang jutaan penduduknya menggantungkan hidup pada tepung terigu tapi tidak bisa menanam gandum satu biji pun di tanahnya sendiri.
Hampir 100% kebutuhan gandum Indonesia diimpor dari Australia, Kanada, Amerika, Rusia, Ukraina.
Dan volume impor itu diperkirakan terus naik rata-rata 6,38% per tahun hingga bisa menembus 21,67 juta ton.
Artinya: ketika ada El Nino di Australia, ketika ada perang di Ukraina, ketika rupiah melemah terhadap dolar harga tepung di pasar tradisional langsung naik.
Dan yang pertama kena dampaknya adalah pedagang gorengan yang tidak punya instrumen lindung nilai, tidak bisa menaikkan harga, dan tidak bisa memangkas margin yang sudah nol.
Kenaikan Rp50.000 per karung tepung 25 kg bisa menghancurkan seluruh bisnis mereka.
Sementara korporasi pangan besar bisa meng-hedge risiko itu di pasar berjangka.
Dan ini yang paling menohok tentang narasi pemerintah:
Setiap kali ada kenaikan angka UMKM pemerintah menyebutnya sebagai keberhasilan.
Setiap kali muncul berita tentang jutaan pedagang kaki lima media memujinya sebagai ketangguhan ekonomi rakyat.
Tapi itu adalah romantisasi penderitaan.
Negara sedang mencuci otak jutaan orang untuk percaya bahwa kemiskinan mereka adalah bentuk kemandirian.
Bahwa kelelahan fisik 12 jam di belakang wajan adalah jiwa kewirausahaan yang patut dibanggakan.
Padahal yang sedang terjadi:
negara melepaskan diri dari tanggung jawab menyediakan lapangan kerja formal,
jaring pengaman sosial, dan sistem yang melindungi pekerja dengan cara merayakan keputusasaan mereka sebagai prestasi.
Gerobak seblak dan cilok di pinggir jalan bukan tanda kebangkitan ekonomi. Itu adalah simbol dari sistem yang gagal menyediakan pekerjaan formal yang layak dan memaksa jutaan orang berjualan tepung sebagai pelarian terakhir dari rasa malu menjadi pengangguran.
Mereka berjalan di atas treadmill. Energi habis setiap hari. Tapi posisi finansialnya tidak bergeser satu sentimeter pun ke depan.
Dan ketika fisik mereka tidak lagi sanggup berdiri 12 jam di bawah asap jalanan tidak ada yang menunggu mereka. Tidak ada dana pensiun. Tidak ada asuransi. Tidak ada landasan pendaratan.
Dan janji 19 juta lapangan kerja?
Dika dari Bekasi sudah kirim 120 lamaran.
Tidak satu pun dijawab.
Mungkin besok dia juga akan membeli wajan dan tepung aci dan disebut wirausahawan.