Keren parah👏
Sejumlah insinyur teknologi melakukan aksi protes secara langsung kepada CTO Amazon, Werner Vogels. Para pekerja juga menyuarakan kekhawatiran terkait penggunaan teknologi yang mereka kembangkan untuk mendukung aktivitas yang berkaitan dengan kekerasan terhadap rakyat Palestina.
Tulisan saya bersama @RamadianiPrita
di @tempodotco
tentang problem yg dihadapi ASN di pemerintahan saat ini. Dan ya, dalam situasi ini, secara umum bisa dibilang ASN jadi amat dirugikan. Silakan disimak.
Simalakama ASN di Pemerintahan Prabowo-Gibran https://t.co/O7vkbShG7F
Untuk bisa mendapatkan beasiswa LPDP, hanya mereka yang bisa menulis esai dengan sangat baik yang lolos. Untuk bisa menulis esai dengan sangat baik, biasanya seseorang harus melalui pendidikan yang baik.
Pendidikan yang baik di Indonesia masih sangat timpang secara geografis dan ekonomi.
Artinya, mereka yang berasal dari Jawa dan dari latar belakang ekonomi lebih kuat memang memiliki keuntungan awal.
Jalur afirmasi tidak bisa sepenuhnya menghapusnya, karena masalah utamanya ada pada kualitas guru dan ekosistem pendidikan di daerah. Selama hulu tidak dibenahi, hilir tetap bias.
Akibatnya, banyak penerima LPDP memang berasal dari kalangan mampu. Dari situ muncul rasa ketidakadilan publik.
Dalam konteks seperti ini, narasi moralistik dari regulator menjadi problematis. Negara bukan orangtua. Negara adalah pengelola investasi publik.
Kepastian pulang sebagai indikator kesuksesan juga tidak lagi relevan dalam dunia yang makin global.
Ironisnya, kepastian pulang adalah indikator yang paling mudah diukur.
Cukup cocokkan data imigrasi dan kontrak.
Yang sulit justru mengukur dampak jangka panjang.
Pengaruh kebijakan.
Kontribusi ilmiah.
Dampak sosial.
Dampak ekonomi.
LPDP harus mendefinisikan dengan jelas.
Apa yang disebut berhasil.
Apa yang disebut gagal.
Tanpa definisi ini, debat akan selalu jatuh pada moralitas dan sentimen.
Anda tidak bisa menyerahkan masa depan bangsa pada esai fresh graduate 20 tahunan.
Regulator memikul tanggung jawab yang sama. Menjelaskan kepada publik bagaimana investasi ini bekerja dan bagaimana dampaknya diukur.
Beasiswa adalah investasi publik.
Bukan sedekah.
Saya rasa bangsa yang besar tidak perlu kebakaran jenggot dengan Oxford — dengan marah menuntutnya untuk mengakui peneliti Indonesia. Tanggung jawab kita sebagai peneliti, dan masyarakt untuk mengangkat derajat bangsa sendiri: membedah, mendiseminasi dan menarasikan epistemologi Yogyakarta, Sunda, Bugis, Ternate dan banyak lagi - ke muka dunia.
Science adalah mata uang diplomacy and as Zhou En Lai suggested, diplomacy is a battlefield.
Chronicles mencoba mencari tahu ilmuwan-ilmuwan Indonesia dibalik Wallace, Rumphius, Raffles. Science is not just facts, its narrated. https://t.co/rcCHykxbfy
Kertanegara pernah bermimpi mempersatukan wilayah yang disebut Nusantara, atau Asia Tenggara. Dan ada satu sosok yang dalam 50 tahun berhasil mewujudkannya: Patih Gajah Mada. Salah satu puncak kejayaan yang pernah lahir dari kawasan ini.
Selama 2000 tahun terakhir, Asia Tenggara berulang kali memproyeksikan kebesarannya.
- Dimulai dari abad ke-8 di mana pembangunan Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia, dimulai.
- Disusul pada abad ke-12 oleh Angkor Wat, candi Hindu terbesar yang dibangun Dinasti Khmer, sebagai manifestasi kematangan budaya, ekonomi, dan teknologi kawasan ini.
Borobudur dan Angkor Wat adalah bukti persinggungan budaya, spiritualitas, dan ekonomi antara Asia Tenggara dengan India dan Tiongkok pada akhir milenium pertama hingga awal milenium kedua.
Namun memasuki abad ke-13, peradaban mulai bergeser. Setelah runtuhnya Abbasiyah dan padamnya House of Wisdom, tiga peristiwa mempercepat pudarnya kejayaan Asia Tenggara pada abad ke-15:
- Kejatuhan Vietnam jatuh pada tangan Dinasti Ming,
- Majapahit yang melemah akibat defisiensi kepemimpinan Brawijaya V, dan
- Ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg yang mempercepat diseminasi informasi dan merombak tatanan lama.
Memasuki abad ke-17, kelemahan ini teramplifikasi oleh transisi dari Dinasti Ming ke Qing, yang semakin menginternalisasi diri. Kekosongan kuasa ini membuka jalan bagi masuknya Eropa, membawa Asia Tenggara memasuki 3,5 centuries of humiliation.
Keresahan saya sederhana: terlalu sedikit dari kita yang benar-benar memahami sejarah yang begitu kaya ini. Kita kerap terseret arus kekinian, membangun pola pikir jangka pendek. Padahal, begitu banyak empirisme sejarah yang bisa kita refleksikan, abstraksikan, proyeksikan, dan inovasikan.
Dan mungkin, untuk menata ulang masa depan Asia Tenggara, kita perlu kembali pada keberanian imajinasi yang dulu pernah ditanam Kertanegara.
Ini sebagian dari diskusi saya di book launch dengan @Periplus_Store dan @atamerica minggu lalu.
In the novel 소년이 온다 (2014; ‘Human Acts’, 2016), Han Kang – awarded this year’s #NobelPrize in Literature – employs as her political foundation a historical event that took place in the city of Gwangju, where she herself grew up and where hundreds of students and unarmed civilians were murdered during a massacre carried out by the South Korean military in 1980.
In seeking to give voice to the victims of history, the book confronts this episode with brutal actualisation and, in so doing, approaches the genre of witness literature. Han Kang’s style, as visionary as it is succinct, nevertheless deviates from our expectations of that genre, and it is a particular expedient of hers to permit the souls of the dead to be separated from their bodies, thus allowing them to witness their own annihilation. In certain moments, at the sight of the unidentifiable corpses that cannot be buried, the text harks back to the basic motif of Sophocles’s ‘Antigone’.
This Robin Williams thread will brighten up your day 🧵
1. His improvised scene in Good Will Hunting made the cameraman laugh so hard the camera started shaking. Matt Damon's reaction is authentic.
Sebuah aksi solidaritas dari sejumlah musisi untuk genosida di Palestina. ✊🏻
Donasi serta partisipasi kehadiran untuk konser ini segera dibuka dan bisa didapat via @loketcom
100% dana donasi yang terkumpul akan didonasikan ke Gaza melalui Kedutaan Besar Palestina.
Well… better late than never: it took us 25 years to get to Jakarta and it took me until the B-Stage section of the show to remember to post this photo..! It’s hot and steamy and absolutely amazing. Thank you for waiting for us. W. X