Buku "'Agama' Saya Adalah Jurnalisme" terbit 2010. Saya update terutama soal keberadaan media sosial. Peran wartawan sebagai penjaga gawang informasi hancur. Penghasilan perusahaan media turun, anggaran redaksi turun, media makin kekurangan tenaga https://t.co/qXNQwMgvSE
Ketika kita mengatakan ‘hutan Bromo terbakar’, kita sedang berbicara tentang sebuah rumah yang dihuni jauh lebih banyak makhluk daripada yang tampak dalam foto wisatawan.
Yang Terbakar Bukan Hanya Savana Bromo | Project Arek https://t.co/FCnfp3R2FW
Bagaimana Tuhan Yang Mahaperkasa bisa sakit, lapar, haus? Jawabnya: karena ada hamba-Ku yang sakit, lapar, haus, dan engkau membiarkannya.
https://t.co/qIeBadEHHb
Lewat koran, banyak intelektual muda pada masa Orde Baru berkenalan dengan teori strukturalisme dan Marxisme. Bukan dari ruang kuliah, atau jurnal akademik. Juga tentang feminisme, Pancasila, atau sastra.
https://t.co/TheQGL6QV6
“Saya diserang.” Ada cara berpikir yang sec. fundamental salah: dia menganggap ini soal diri dia pribadi sehingga dia harus bertahan.
Anda tidak diserang, tapi Anda sbg Lembaga Kepresidenan dikritik. Jgn bertahan, Anda harus mendengar, mengevaluasi dg terbuka dan memperbaiki.
Ahmad Doli Kurnia Tanjung, politisi Golkar dan anggota DPR membuat standar baru bagi politisi. Semalam, Doli membuat acara yg dihadiri ratusan aktifis dan politisi keren tua dan muda. Agendanya satu: Merousting dirinya. Bayangkan saja jika Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, Bursah Syarnubi, Feri Amsyari, Hendri Satrio, Titi Anggraeni, Ali Mardani Sera, Akbar Faizal, Siti Zuhro, dan banyak lagi menyindir, mengejek, memarahi dan bahkan memaki dirinya secara langsung dan diatas panggung pula serta disaksikan ratusan orang. Topiknya beragam. Keberadaan dan relasi dia dengan Bahlil sang Ketua Umum Golkar menjadi bahan utama para rouster. Hebatnya, Doli dengan tenang menjawab atau hanya diam saat dihajar rame-rame spt itu. “Perbedaan yang ekstrim sekalipun adalah wajar dlm demokrasi. Kita harus mulai membiasakan diri,” katanya. Para politisi terutama yang di Senayan harus belajar pada politisi cerdas Golkar ini. @ahmadolikurnia
tan malaka betul bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yg dimiliki oleh pemuda, seketika idealisme mereka tukar jual dgn jabatan mentereng en kemewahan fasilitas kekuasaan, maka seketika itu juga mereka jadi ga ada harganya lagi, paria paling hina
Dahulu, kecemasan berlebihan, kehilangan semangat hidup & perasaan hampa dipahami secara religius, yaitu kurang iman, kurang bersyukur, atau lemah mental. Namun kini, istilahnya adalah anxiety disorder, depresi mayor, atau burnout.
Ulasan Riyadi Oyad:
https://t.co/MI5Cx8xL73
@NataliusPigai2 Udah yappingnya? Sejak menjabat, kasus HAM mana saja yang kau bela? Gamma? Kanjuruhan? Atau yg terbaru, anak SMA dibunuh brimob di Maluku? Anak2 keracunan MBG? Di kasus mana kau bersuara?
Di belantara eksistensi para makhluk pemangsa, taring tidak selalu diasah untuk menyerang, melainkan agar api kehidupan tak padam. Yang kerap disebut niat jahat, sering kali hanyalah naluri bertahan hidup—lahir dari sempitnya pilihan dan panjangnya rasa takut.
Saya ikuti kritik bagus Dino Patti Jalal thd menteri luar negeri RI. Juga diskusi bermutu Mantan Menlu Marty Natalegawa dgn Gita Wiryawan dalam podcast "Endgame" .
Mereka secara tak langsung menunjukkan terkebelakangnya Indonesia dlm pemikiran strategis ttg dunia.
Apa boleh buat. Peran Menlu kita diambil-alih Presiden -- yg lebih suka pidato ketimbang belajar dari keadaan.
"Menjadi terkenal itu sebenarnya ujian paling berat. Jika berbicara, semua orang akan setuju dan bahkan ketika anda mengatakan sesuatu yg tidak pantas sekalipun. Dalam situasi itu, anda butuh teguran dari mereka yg selama ini tidak pernah anda hiraukan."
Kata Al Pacino begitu.
Kita perlu memperbarui diri, bukan semata demi menjadi ”yg terkini”, tapi agar mampu melihat lebih jernih. Sebab yg tak pernah di-upgrade adl kebekuan. Dan dari sanalah fanatisme menggeliat, diam-diam, dalam nama kebenaran anggapan sendiri —yg konyolnya, enggan dipertentangkan.