@kinemium (cont.) mengenyangkan pada kekasihmu yang kelaparan ini?” Kali ini, Yiyao mengarahkan wajahnya untuk mendekat ke wajah Sam; beradu tatap dengan sosok yang telah lama menjadi pemilik hatinya. Pun pasang telapak tangannya menghadirkan diri pada dua pipi Sam.
@kinemium
@kinemium “Apa kau pikir kerinduanku padamu dapat dituntaskan hanya dengan tidur bersama semalaman atau menghabiskan waktu seharian?” Tuan dengan mahkota legam menjuntai membingkai wajah menggerutu dalam buai rengkuh kekasihnya.
“Tidak bisakah kau menawarkan hal yang (cont.)
@kinemium Tatapannya terpatri pada bola mata sang kekasih yang kini tak lagi tersembunyi di balik kelopak. Berikutnya, jisimnya telah merangsek masuk ke dalam rengkuhan lengan Sam; menenggelamkan diri dalam kehangatan yang telah direnggut olehnya sendiri hanya untuk menagih sebuah kata.
@kinemium Belum puas dengan tanggapan yang diberikan oleh sang kekasih, Sam. Huang Yiyao menggerakkan tubuhnya untuk berbalik ke arah di mana Sam berada. Ekspresi wajahnya nan amat mudah terbaca kini menunjukkan raut sebal, “jawab aku dengan benar, Sam.”
@kinemium Dengan malas menarik diri dari rengkuhan ranjang, “ah, tidak bisakah mereka langsung masuk ke dalam perutku?”
Ia lantas mengusap kedua mata dengan perlahan, kemudian menatap entitas di hadapannya dengan sedikit senyuman.
“Oh, selamat pagi, Louise?”
@kinemium Mengikuti jejak sang manager, Habin kembali mengayunkan kakinya melewati kubangan-kubangan di atas permukaan tanah guna mencapai tempat di mana mobilnya terparkir.
“Aku juga tak ingin kau menungguku, makanya aku berusaha menghampirimu lebih dulu,” sembari berucap (cont.)
@kinemium Suara langkah kaki membuat sang pemilik marga Baek sudi tak sudi menelisik sumber dari derap tersebut. Pada titik tersebut, pandangannya berjumpa dengan figur Furuzawa, membuatnya memasang busur tipis tepat di bibir.
“Kau sudah datang,” selaras dengan air (cont.)
@kinemium Habin menarik kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi. Berikut, ia beringsut mendekat pada raga yang baru saja meletakkan nampan di atas meja kerjanya (yang sangat berantakan).
“Kau akan makan denganku? Sungguh?” Ia menggenggam sebelah tanganmu dengan kedua (cont.)
.
.
.
Abai pada gawai, Baek Habin membawa langkahnya hingga menepi pada deret ubin terakhir sebelum berpindah pada lokasi di mana mobil-mobil diparkirkan.
Ia memicingkan matanya sejenak, berusaha menemukan mobil yang biasa ditumpanginya sebelum memutuskan (cont.)