@buteoyeotda Senyum miring pun semakin tinggi tersungging di bibir sang pembunuh profesional. Selalu menakjubkan hatinya bagaimana Yiyao menjadi satu dari sedikit orang yang bisa dengan gentar menuntut dan memaksanya melakukan keinginan pemuda itu—yang sebenarnya dengan senang (c)
@buteoyeotda Mendapati sang kekasih menenggelamkan diri dalam pelukannya, ia kembali mempererat kekangan lengan—seolah ingin menahan Yiyao agar tidak hilang sewaktu-waktu.
"Kita tidur bersama semalaman—dan juga banyak menghabiskan waktu kemarin," ujarnya, lekas memberikan (c)
@buteoyeotda "Mm."
Seperti biasa, ia hemat kata. Namun respons lain diberikan dalam bentuk wajah yang kini berpindah untuk terbenam di leher sang kekasih dan bibir yang kemudian mengecup-kecup pelan kulit mulus di sana.
-- Maka yang bisa dilakunya hanyalah menyentuh pinggang sang artis dalam batas normal seorang manager membimbing binaannya selagi mereka mengarungi sisa perjalanan menuju mobil.
"Mengapa kau menembus hujan? Seharusnya kau memintaku menjemputmu di gerbang gedung saja."
-- warna cerah yang menonjol di tengah kelabunya hari. Senyum pun segera melengkung di bibir. Louise hendak menjalankan mobil mendekati sosok itu, tetapi ia sudah terlanjur mendekat. Sang manajer pun memutuskan untuk menyusul dengan sebilah payung di tangan, berlari-lari --
@buteoyeotda "Sungguh."
Ia turut menangkup tanganmu dengan tangannya yang kini bebas, lalu menariknya mendekati mulut untuk mengecup kepalan besar itu. Kekehan pun terlepas setelahnya.
"Kau senang sekali karena aku menemanimu?"
@buteoyeotda "Benar, dan benar."
Memberikan senyum kecil dan tatapan lembut kepada sang terkasih, lalu menaruh piring di sisi pemuda tersebut.
"Ayo beristirahat sejenak dan santap ini bersamaku."
-- masih ada di dalam gedung, entah membereskan apa. Sesekali Louise melirik ponsel yang diletakkannya dengan layar menghadap ke atas. Ia telah meminta untuk dikabari jika pemuda itu selesai agar ia bisa membawa mobil ke tempat yang ternaungi dari hujan. Tak disangka --