Setelah baca reply di cuitan ini, saya agak tergelitik dg pemaknaan verifikasi.
Gini, menurut saya, verifikasi ya emang tugas jurnalis. Gak tepat kalo narsum bilang A dan kita langsung tulis A tanpa kroscek.
Kalo langsung ditulis setiap komentar pejabat atau siapa pun tanpa pembanding, itu istilah kami jurnalisme tadah ludah.
Risikonya, si jurnalis bisa menyebarkan info yg keliru. Sesuai mau narsum. Lagian disiplin verifikasi itu tertuang kok di kode etik jurnalistik pasal 3.
Juga masuk dalam standar internasional untuk jurnalistik, SPJ code or ethic. Verifikasi info sebelum rilis.
Terserah narsum, entah itu pejabat bilang apa, tugas jurnalis memeriksa apakah fakta yg disampaikan sudah tepat atau belum. Gunakan sumber lain sebagai pembanding.
Kata Benix, ini yang paling penting lo pahami sekarang sebelum terlambat.
Indonesia lagi dalam bahaya yang sama persis kayak yang pernah terjadi di tahun 1998. Dan polanya — sama persis kayak yang terjadi di Yunani tahun 2010.
Gw jelasin dari dasarnya supaya lo ngerti.
Ada lembaga rating dunia namanya Moody's dan Fitch. Kerjanya ngasih nilai kelayakan sebuah negara di mata investor global. Nilai bagus investor mau masuk. Nilai jelek investor kabur.
Dan baru baru ini mereka nurunin rating ekonomi Indonesia ke level yang bikin khawatir.
Benix bilang ini bukan kebetulan. Ini terkoordinasi. Kenapa? Karena pemilik saham Moody's, Fitch, dan MSCI lembaga yang nge-grading bursa saham kita ternyata sama. Vanguard, BlackRock, State Street. Pemain yang sama di balik semua lembaga itu.
Dan polanya selalu sama di setiap negara yang mereka hancurkan.
Pertama rating diturunin. Investor panik. Dana asing kabur. Rupiah melemah. Bursa saham anjlok.
Terus IMF masuk sebagai juru selamat.
Tapi Benix bilang juru selamat itu racun. Karena syarat utang IMF itu brutal. Pajak harus naik. Anggaran harus dipotong. BUMN harus diprivatisasi alias dijual ke asing.
Dan itu persis yang terjadi di Yunani.
Yunani dipaksa jual 14 bandaranya ke Jerman dengan harga diskon 76 persen. Jual perusahaan kereta apinya ke Italia dengan harga di bawah omset setahunnya. Jual perusahaan telekomunikasinya murah murah.
Semua aset strategis negara berpindah tangan ke asing. Dengan harga yang gak masuk akal murahnya.
Dan yang paling ngeri itu semua terjadi bukan karena Yunani bodoh semata. Tapi karena dari dalam negerinya sendiri udah ada agen agen yang bermain. Yang memudahkan proses itu terjadi.
Benix bilang Indonesia sekarang lagi di titik yang sama.
Rating kita diturunin. Bursa kita merah. Rupiah tertekan. Dan di luar sana situasi global lagi chaos perang di Timur Tengah, harga minyak meledak, krisis energi di mana mana.
Kondisi paling ideal buat mereka masuk dan ambil aset kita dengan harga murah.
Satu satunya cara keluar menurut Benix Indonesia harus segera mandiri energi. Transisi dari BBM ke listrik. Berhenti buang triliunan buat impor minyak yang ujungnya dibakar. Dan mulai investasi ke hal hal yang produktif dan bikin negara ini beneran kuat dari dalam.
Sejarah selalu berulang.
Yang beda cuma kita mau jadi Yunani berikutnya atau tidak
depot minyak iran di taheran di rudal militer AS lewat serangan udara nya.
kenapa as ngerudal depot minyak milik iran? ternyata 15% minyak china berasal dari iran.
ini pertanda as ingin menggangu stock minyak di china, biar di china krisis minyak.
bisa jadi iran di dukung kemarahan china untuk balas dendam lebih kejam menyerang israel dan militer as di timur tengah.
saksikan apa yang bakal terjadi di timur tengah dalam waktu dekat !!!