@Apeeeeep@togerwolf@_maulanaas lah bukunya sendiri berdasarkan kisah nyata interview antara penulis dan tokoh "Firdaus" ini, di tulisan kakaknya sendiri dijelasin kalo dari kisah nyata, kakak minta realita yang gimana lagi?
Mas Faris, sudahkah kamu membaca novelnya?
Tweet masnya:
"Opini ga bermutu siapa sih ini? Bisa dibalik juga..."
dan ada juga di kolom reply:
"Kesal sih, masak ibu, nenek, istri, sama adik saya seakan disamakan pelacur? Opini sampah betul2 deh"
itu reaksi yang terlalu personal. Kamu tuh nggak lagi kritik bukunya, tapi tersinggung dan langsung ngecap "sampah" tanpa konteks.
Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi itu bukan opini murahan. Ini karya sastra yang menyibak realitas yang telanjang. Realitas patriarki yang kejam, di mana perempuan, khususnya yang miskin dan tak berdaya, dipaksa menjual tubuhnya dalam berbagai bentuk.
Nah, semua itu digambarkan lewat kisahnya Firdaus, perempuan yang sepanjang hidupnya jadi korban kekerasan seksual berlapis: dilecehkan keluarga sendiri sejak kecil, suami yang abusif, orang-orang "baik" yang bantu dengan modus jahat, sampai akhirnya dia jadi pelacur dan bunuh germo.
Firdaus nih bukan cuma "curhat sebagai korban". Lewat monolognya, dia sampai pada kesadaran pahit:
"Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk."
"...dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri."
Ini tuh bukan hinaan sembarangan, apalagi ke ibu/nenek/istri/adik masnya.
Ini adalah kritik sistemik terhadap pernikahan dalam masyarakat patriarki yang menjadikan perempuan sebagai properti laki-laki, tanpa bayaran, tanpa pilihan, dan dengan kerja kasar seumur hidup.
Mas sudah baca novelnya belum? Kalau cuma lihat kutipan doang, ya wajar tersinggung.
Tapi novel ini dibangun dari kisah nyata Firdaus yang diwawancarai El Saadawi di penjara. El Saadawi itu memang seorang feminist radikal asal Mesir, dia sengaja pakai suara Firdaus untuk mengekspos bagaimana kejamnya sistem patriarki memaksa perempuan ke posisi itu.
Dari kritik sastra feminis, kenapa novel ini penting?
Pertama, novel ini tuh kuat banget. Ia melihat patriarki sebagai akar masalah utama yang mengontrol tubuh dan seksualitas perempuan. Pernikahan tradisional digambarkan sebagai bentuk "perbudakan" yang paling murah, sementara prostitusi justru memberi sedikit agency (bisa tolak pelanggan, bisa tentuin harga). Firdaus memilih "bebas" sebagai pelacur daripada istri yang terikat. Ini kritik langsung ke sistem keluarga dan pernikahan yang sering melindungi laki-laki.
Kedua, novel ini memberi suara ke yang tak bersuara (subaltern dan intersectional), di mana Firdaus adalah perempuan miskin, korban kekerasan, pelacur, dan tahanan. Novel ini justru bagus karena kasih platform ke pengalaman yang biasanya dibungkam. Bukan cuma soal gender, tapi juga kelas dan budaya.
Ketiga, adanya realitas yang telanjang versus idealisme. Banyak orang, mungkin termasuk kamu, marah karena merasa anggota keluarganya "disamakan dengan pelacur". Padahal novel ini tuh justru menunjukkan bahwa dalam sistem yang rusak, banyak perempuan dipaksa berada di posisi itu, baik secara harfiah maupun metafora.
Bukan berarti semua istri atau perempuan adalah pelacur, tapi sistemnya yang bikin tubuh perempuan selalu "dijual" dengan harga berbeda.
Reaksimu itu terlalu personal, itu bukan alasan buat ngecap seluruh novel sebagai "opini sampah". Sastra yang bagus justru sering bikin kita tidak nyaman karena menyentuh kebenaran pahit yang kita hindari.
Kalau semua karya yang bikin tersinggung langsung disebut sampah, maka kritik sosial lewat sastra nggak akan pernah ada dong.
Novel ini bukan buat bikin orang bahagia atau validasi pernikahan bahagia. Ia sengaja buat kita lihat realitas yang telanjang bagi perempuan yang kalah dalam sistem patriarki. Dan karena hal itu lah yang bikin novel ini kuat dan penting sampai sekarang.
Kalau kamu memang mau kritik, kritik isinya secara utuh setelah baca novelnya dulu. Bukan cuma dari satu-dua kalimat yang bikin kamu emosi terus tiba-tiba ditarik ke sentimen pribadi, mas.
@maegicalqueen sebenernya harus dipahami dulu kak bukunya, karena bukunya hasil interview si author dengan perempuan yang seumur hidupnya menjadi korban kekerasan seksual dan teropresi. inti buku ini sendiri juga bukan untuk mengkotakkan kalau semua perempuan itu pelacur, malah sebaliknya
💚 aku kadang heran sama orang" yang masih belain politik yang dibuat oleh "rezim wowo 02" dinegara ini, /miris malah dibuat saling terbentur antar rakyat
🚨: Chinese biologist Hongmei Wang seeks to extend women's fertile life by making menstruation occur every 3 months.
Which would theoretically preserve more eggs and extend the fertile period.
ada pelecehah oleh gay, lu attack orientasinya. ada ibu2 nyetir meleng, lu ketawain gendernya. trus ada orang misbehave di transum, lu olok2 latar belakangnya. emang gak becus argue tanpa ad hominem aja lu tuh. ga becus addressing sesuatu tanpa carried away dan nyerang personal.
still really breaks my heart how many in my country around that year are being sexually assault by japanese. even there is literally interview that she said “i wanna die, i’m not human anymore” because of that🥲