SETUJU.
1. Dia yg bikin planning hamil, melahirkan, menyusui dan MPASI.
2. Dia yg mandiin.
3. Dia yg nidurin.
4. Dia yg ngajak main.
Cari yg mau jadi Bapak bukan yg cuma mau punya anak biar serasa lengkap jadi suami. Cari yg mau kerja sama bareng-bareng besarin anak. Ga ada benar salah, namanya sama-sama baru pertama kali jd orang tua. Yg penting harus siap dgn segala resikonya.
Sekali anak lahir, ga mungkin bisa dimasukin dalam perut lg. Uda tanggung kita sebagai org tua 🙏🏻
Jujur ya mahasiswa dan masyarakat sekarang lebih pinter loh, ga lagi berkoar koar di depan gedung politikus yang sudah di setting untuk kosong, tapi memanfaatkan spotlight jalanan ibukota, banyak banget gedung gedung tinggi yang dimana para manusia, orang orang penting, pengusaha pengusaha, bisa melihat langsung kejadian tersebut dari balik jendela, media juga lebih banyak yang datang dan menyoroti, keren 🙌🏻😭🔥
Jakarta memang berisi orang-orang tangguh. Hari-hari yang berat. Luka-luka yang tak selalu diceritakan. Tiap kali datang ke sana, aku tahu kota itu memang penuh dengan sesak di kepala.
Guys, lu pada tau gak sih…
hubungan Angga Yunanda sama Shenina Cinnamon itu kelihatannya adem, manis couple goals banget…
tapi setelah mereka buka-bukaan, ternyata ada beberapa fakta yang cukup aneh, jarang terjadi, dan kalau dipikir-pikir agak “di luar kebiasaan pasangan muda
Pertama, yang paling nggak biasa itu cara mereka berantem.
Kebanyakan pasangan kalau ada masalah pasti:
debat di chat
atau meledak di momen random
Tapi mereka justru bilang… mereka sering bahas konflik itu di kasur sebelum tidur.
Ini bukan soal romantis ya, tapi lebih ke pola.
Mereka sadar kalau siang hari sibuk, emosi masih tinggi, jadi nggak efektif.
Pas malam, suasana lebih tenang, lebih intimate, akhirnya obrolan jadi lebih jujur.
Dan yang bikin makin “unik”, Angga itu nggak tipe yang langsung ngelawan.
Dia malah:
dengerin dulu
validasi perasaan
baru kasih sudut pandang
Ini jujur jarang banget.
Karena mayoritas orang kalau debat itu fokusnya satu: menang.
Sementara dia fokusnya: meredakan.
Kedua, mereka ini surprisingly “nggak takut hal yang biasanya ditakutin pasangan”.
Kalau ditanya ketakutan dalam pernikahan, orang biasanya jawab:
selingkuh
orang ketiga
kehilangan rasa cinta
Tapi mereka malah jawab: keuangan.
Ini yang agak “nendang”.
Karena di usia muda dan posisi lagi naik karier, mereka udah sadar kalau:
masalah terbesar dalam rumah tangga itu seringnya bukan cinta… tapi duit.
Dan mereka nggak cuma ngomong doang.
Mereka bahkan udah bahas detail keuangan dari sebelum nikah:
tabungan masing-masing
tanggung jawab ke keluarga
bahkan potensi konflik ke depan
Ini level diskusi yang jujur aja… banyak pasangan bahkan nggak pernah sampai ke situ.
Ketiga, soal sosial media mereka yang viral itu.
Banyak yang ngira itu cuma gimmick biar terlihat romantis
cuma follow satu sama lain.
Tapi ternyata alasannya lebih dalam:
biar nggak kebanyakan distraksi
biar fokus ke pasangan
dan biar simpel
Kalau dipikir-pikir, ini ekstrem.
Karena di era sekarang orang justru cari validasi dari luar.
Sementara mereka malah:
menutup pintu luar, biar fokus ke dalam
Dan itu bukan hal yang mudah.
Keempat, soal anak ini juga menarik.
Mereka bilang nggak ada niat nunda anak.
Artinya kalau dikasih sekarang, mereka siap.
Tapi di sisi lain, mereka juga sadar konsekuensinya:
bisa harus stop syuting
bisa ngorbanin karier
Dan Shenina secara terang-terangan bilang dia siap kalau harus di posisi itu.
Ini yang bikin beda.
Bukan karena mereka santai, tapi karena mereka udah mikir sampai ke skenario terberatnya.
Kelima, yang paling “kena” itu sebenarnya soal image mereka.
Di mata publik, mereka itu:
couple goals
relationship ideal
pasangan sempurna
Tapi mereka sendiri bilang…
apa yang mereka lakuin itu sebenarnya hal yang basic dalam hubungan.
Nah di sini justru jadi refleksi:
kalau hal basic aja udah dianggap “goals”…
berarti standar hubungan kebanyakan orang sekarang mungkin emang lagi rendah.
Jadi kalau ditarik garis besar, yang bikin hubungan mereka beda itu bukan karena:
lebih romantis
lebih sempurna
atau tanpa masalah
Tapi karena:
mereka berani bahas hal yang biasanya dihindari
mereka realistis dari awal dan mereka ngerti kalau hubungan itu bukan cuma soal cinta, tapi soal cara ngatur emosi, uang, dan ego
Dan jujur aja… itu yang bikin hubungan mereka kelihatan “kuat”, bukan sekadar “indah”.
Guys, gue baru dengerin obrolan Vincent Verhaag dan Jedar di podcast dan ada beberapa hal yang bikin gue diem sebentar.
Bukan karena dramatis.
Tapi karena beda dari yang biasanya gue denger dari pasangan selebritis.
Jedar bikin "pasal" buat rumah tangganya.
Dan Vincent accept dan nurutin semua itu
Isinya antara lain kalau aku marah kamu sabar. Kalau aku diam kamu harus peka.
Kalau aku salah, kamu minta maaf lebih dulu.
Di luar konteks kedengarannya satu pihak banget. Dan Vincent sendiri ngakui "agak NPD ya istrinya."
Tapi yang menarik dia tetap accept.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia baca pasalnya, setuju, dan nganggap itu bagian dari komitmen yang dia pilih.
Dan pasal yang paling gue suka?
Pasal 5
"Kamu boleh sukses setinggi langit.
Tapi pulangnya tetap ke aku.
Karena aku itu rumah, bukan alamat."
Tapi yang paling bikin gue mikir bukan pasalnya.
Tapi empat hal yang Jedar tetapkan sebagai garis merah sejak sebelum nikah dan ini nggak ada kompromi, nggak ada diskusi kalau udah kejadian.
Narkoba cerai.
Selingkuh cerai, harta jatuh ke istri.
Judi cerai.
KDRT cerai, harta dan hak asuh ke istri.
Dan Vincent setuju bukan cuma di mulut.
Tapi masuk ke perjanjian pranikah.
Tertulis.
Legal.
Bahkan untuk El Barak anak Jedar dari pernikahan sebelumnya yang secara hukum bukan tanggung jawabnya Vincent masukin ke perjanjian bahwa dia akan tanggung jawab sama seperti anak kandungnya sendiri.
Dan dalam keseharian ini bukan cuma omong kosong.
Empat tahun menikah.
Vincent bilang dia nggak pernah keluar malem tanpa istri.
Nggak minum alkohol.
Bukan karena dilarang tapi karena dia sendiri yang ngerasa "what am I doing here" setiap kali nyoba.
"My target of having fun is at home."
Dan waktu mereka sempat di titik paling berat baru nikah, COVID, uang hilang hampir Rp10 miliar kena penipuan, bayi baru lahir, susu nggak keluar karena istri stres mereka nggak sampai ke titik "mendingan pisah."
Mereka cuma jadi jauh sebentar.
Lalu balik lagi.
Yang gue pelajarin dari cerita ini:
Bukan soal pasalnya yang menguntungkan satu pihak.
Bukan soal siapa yang lebih dominan dalam rumah tangga.
Tapi soal satu hal yang jarang banget ada di pasangan manapun
Aturan main yang jelas, disepakati dari awal, dan dipegang berdua.
Banyak rumah tangga yang hancur bukan karena ketiadaan cinta tapi karena ketiadaan kesepakatan soal hal-hal yang nggak bisa dikompromikan.
Jedar dan Vincent dengan semua keabsurdan pasal-pasalnya setidaknya tahu persis garis merahnya di mana.
Dan Vincent tahu persis konsekuensinya kalau dia langkahi.
Menua itu wajib.
Bosen itu haram.
Gampang diucapkan.
Susah dijalankan.
Tapi kalau lo udah nentuin dari awal bahwa bosan bukan pilihan bukan karena romantis, tapi karena sadar bahwa lo yang tua bareng orang itu, bukan anak-anak mungkin persepsinya beda.
maturing is realizing none of us are easy to be with. It's about who's willing to stay committed to understanding you and actually wants to grow with you.
Peraturan tidak tertulis buat yang menjalin LDR-an: (coba lanjutin 🫵🏻)
1. Kasih kabar itu bare minimum
2. Video call itu wajib
3. Chatting bukan cuma ttg kegiatan, tapi juga tau perasaan pasangan
4. Hindarin berantem lewat chat
5. Wajib punya goals untuk kedepan
radit dari lahir kaya, enggak pernah resah soal duit.
jadi otomatis concernnya ke hal2 lain, kita bisa liat buku2nya dulu kuat bgt tema percintaan, sekarang karna umurnya udah 40an doi sering ngundang dokter karna resah tentang kesehatan.
ketika saya dikejar2 hutang milyaran, mau sakit, mau teler kurang tidur, mau demam, ya harus kerja buat bayar hutang. harus kerja buat hidup gak punya back up orang tua kaya 🥲
dan mungkin banyak orang di indo waktu kosong diisi buat freelance, jualan, dan cari cuan tambahan buat hidup.
jadi bukan 4 jenis kekayaan lain kita sepelekan, buat hidup layak aja berat gimana mau mikirin yg lain 😅
Gw punya temen yang pacaran dari SMP.
Literally SMP.
Masih pakai seragam putih biru.
Masih berantem soal hal hal yang sekarang kalau diinget sendiri bikin malu.
Masih belum tau apa apa soal hidup.
Dan mereka ya gitu putus nyambung putus nyambung
SMA tetap sama.
SMK tetap sama.
Kerja tetap sama.
Dan tahun lalu mereka nikah.
Gw pernah iseng tanya ke temen gw itu apa yang bikin kalian bertahan selama itu?
Dia mikir sebentar.
Terus jawab santai.
Gak tau.
Dia ada aja aja gw butuh mau di bawah atau di atas
Dan itu yang bikin gw mikir lama.
Di zaman sekarang semua hal soal hubungan dibuat serumit mungkin.
Ada yang bikin list kualifikasi pasangan ideal sepanjang lengan.
Ada yang ngomongin green flags red flags beige flags sampai gw tidak tau flags warna apa lagi yang harus dicek.
Ada yang bikin spreadsheet kompatibilitas.
Ada yang evaluasi dulu tiga bulan sebelum mau lanjut serius.
Dan di tengah semua kerumitan itu temen gw dari SMP cuma punya satu ukuran sederhana.
Kamu ada buat aku.
Aku ada buat kamu.
Tidak ada benefit yang dihitung hitung.
Tidak ada standar finansial yang harus dipenuhi dulu. Tidak ada checklist yang harus dicentang sebelum hubungannya layak dilanjutkan.
Bukan berarti hubungan mereka sempurna.
Pasti ada berantem.
Pasti ada masa masa yang berat.
Pasti ada momen di mana salah satu dari mereka bertanya tanya.
Tapi mereka tetap jalan.
Dan ini yang paling relate sama kondisi orang Indonesia sekarang yang menurut gw kita sendiri yang bikin susah.
Kita hidup di era di mana semua hal harus ada alasannya.
Semua keputusan harus bisa didefend secara logis.
Semua hubungan harus bisa dijelaskan dalam bentuk value proposition yang masuk akal.
Sampai kita lupa bahwa hal yang paling fundamental dari hubungan apapun tidak pernah berubah dari dulu.
Kamu mau ada tidak waktu gw butuh.
Sesimpel itu.
Dan jawaban dari pertanyaan sesimpel itu ternyata lebih susah dicari dari semua kriteria panjang yang kita buat
Padahal setia ke satu orang itu seru banget. No need to hide stories, delete chats, atau bohong sana sini. Everything feels calmer karena semuanya dijalanin dengan jujur….
Dating someone who gives you best friend energy,makes you laugh, never stops flirting with you, and loves you a little extra on the days you need it the most is top tier.
Men don't understand... being a "provider" isn't all about money. It's about providing the EMOTIONAL SECURITY that allows a woman to rest in her FEMININE ENERGY. Money is the icing, not the cake
please date a man who believes in romance & provider mindset. like holding doors open for you, buying you flowers, writing you love letters, courting you, treating you gently, planning surprises for you and honouring your heart in whatever ways he can. you deserve all of that