Rawamangun darurat matel, udah meresahkan banget sampai diikutin ke gang kecil lalu dikerumunin gerombolannya.
Korban pada vidio ini adalah wanita, untungnya lokasi distop deket sama kerjaan ayahnya.
JADWAL PIALA DUNIA 2026 🌎🏆
Bookmark postingan ini biar gak ada pertandingan yang kelewatan! 🔥
Repost dan share ke teman, tongkrongan, dan grup keluarga. Siap-siap begadang selama sebulan penuh 😅
Saat proses syuting film A Separation (2011), para kru dikabarkan tak mampu menahan air mata ketika merekam adegan tersebut. Sutradara Asghar Farhadi mengungkapkan bahwa ide awal film itu berawal dari gambaran seorang pria yang memandikan ayahnya yang mengidap Alzheimer, lalu membangun keseluruhan cerita di sekitar adegan tersebut.
BUKAN, bukan Sheva atau Kaka, bukan juga paketan Ibra dan Thiago Silva, apalagi Donnarumma. buat aku pribadi kepergian paling menyakitkan adalah transfer Sandro Tonali. bukan diukur dari kehebatan dan jasa mereka bagi Milan melainkan konteks kondisi Milan saat Sandrino pergi yang membuat dampaknya lebih menghancurkan.
Shevchenko pergi karena permintaan istri dan undangan kawan dekatnya Abramovich. Kaka pindah ke klub idamannya Real Madrid setelah sebelumnya menolak Manchester City. keduanya pergi setelah berkontribusi besar ke Milan dan saat itu, melihat kondisi Milan, ada keyakinan bahwa setelah kepergian mereka Milan masih akan baik-baik saja. sementara itu Zlatan dan Thiago Silva terpaksa dijual karena Milan terlilit krisis keuangan. sehingga masih lebih mudah merelakan kepergian mereka.
Sandro Tonali berbeda. ia datang tepat setelah Milan mulai lepas dari kegelapan banter era dan perlahan bangkit kembali menuju kemapanan. seorang anak muda yang gak pernah segan menunjukkan kecintaannya pada Milan sejak ia kecil - ia adalah bagian dari kita fans fanatik Milan. kedatangannya ke Milan diberitakan bagai sebuah dongeng, mimpi masa kecil yang jadi kenyataan.
bukan cuma bermodal cinta, Tonali juga datang dengan potensi dan kemampuan bermain yang dapat diandalkan. dan jika bicara soal 'grinta', Sandrino dengan fasih meniru kegarangan sang idola Gennaro Gattuso. dan tak kalah pentingnya, ia datang dibawa oleh Paolo Maldini, simbol dan legenda terbesar Milan.
tahun pertama Sandrino gak berjalan mulus - inkonsistensi, kecerobohan, dan masih banyak pelajaran dan penyesuaian yang perlu ia jalani. tahun berikutnya, dongeng dan mimpi itu menjadi sempurna - Milan meraih Scudetto dan Tonali menjadi berperan besar di dalamnya, termasuk gol penting ke gawang Lazio. semua milanisti bersuka cita, ekspektasi masa depan membumbung tinggi dan harapan terbang ke awang-awang. hari itu, 22 Mei 2022, pikiran semua milanisti saling terkait dalam satu kalimat, lantang dan yakin "WE ARE FINALLY BACK!!"
hari-hari berikutnya kita telah membayangkan dengan hati gegap gempita: bersama beberapa pemain andalan lainnya, Tonali dan Paolo Maldini akan stay di Milan selama mungkin, Tonali akan menjadi kapten Milan, menjadi bandiera baru Milan, di bawah asuhan sang kapten abadi, dan mereka akan membawa Milan kembali ke puncak kejayaan. menegaskan kembali identitas Milan ke hadapan dunia - Milanismo.
namun kemudian, nasib buruk tak mampu dihalau, dengan tangan cepat Magic Mike sekalipun - Redbird dan Cardinale terjadi. belum genap setahun kehadirannya, orang USA ini, atas pengaruh Furlani, memecat Maldini dengan cara yang sangat kurang ajar. belum cukup, dua bulan kemudian mereka juga menjual Tonali ke Newcastle United. Tuhan, dongeng indah itu ternyata punya plot twist super mengejutkan. tak pernah sepahit ini aku menerima penjualan pemain Milan. patah hati itu nyata.
saat itu aku pribadi berusaha menanggapi langkah absurd itu dengan khusnuzon seperti layaknya fan yang baik dan setia. kalau sebelumnya aku bisa ber-positive thinking terhadap Yonghong Li, kenapa gak bisa bereaksi sama terhadap Cardinale pikirku. namun, tiga tahun berlalu semenjak musim panas 2023 yang gila itu petunjuk semakin terang bahwa mimpi dan harapan itu sepertinya benar-benar pudar, dongeng indah itu berubah menjadi cerita horror. sementara di sini, di sudut kamar, di depan laptop ini, aku dengan sisa-sisa cinta dan gairah ini masih menantikan mereka kembali - Sandrino dan Paolo kami.
Buon Compleanno, Sandro Tonali. 🖤❤️
Korlantas Polri memastikan rencana kebijakan pengesahan STNK tahunan tanpa KTP pemilik lama akan diperluas ke seluruh Indonesia, tidak hanya di Jawa Barat. Dirregident Korlantas Polri, Wibowo, menyatakan bahwa kebijakan ini selanjutnya akan dibahas dalam forum nasional bersama para pemangku kepentingan.
Baca di sini: https://t.co/44UtyjOeXu
~TR #BayarPajakKendaraan #PengesahanSTNK
Di Indonesia, ikan nila adalah menu andalan sejati di atas meja makan. Digoreng, dibakar, atau disajikan sebagai pecel yang menggugah selera dan selalu dijadikan pilihan bnyk keluarga.
Namun di Jepang, nasibnya beda banget. Ikan yang sama ini justru meluncur bebas di sungai2 kota, gk tersentuh, gk ditangkap, bahkan gk dilirik. Dibiarin hidup liar tanpa gangguan.
Kok bisa gtu? Kenapa?
Karena nila bukanlah anak negeri Jepang. Ia datang sebagai tamu dari program percobaan pada era 1960-an, lalu berkembang biak dgn liar dan gk terkendali.
Akibatnya, ia dicap sebagai penjajah ekosistem, spesies invasif yg merusak keseimbangan sungai dgn kejam.
Secara budaya, hati orang jepang jarang terbuka bagi ikan air tawar. Mereka memuja ikan-ikan laut : tuna yang megah, salmon yang mulia, makarel yang segar. Semuanya dianggap bersih, murni, dan pantas menjadi kebanggaan meja makan.
Sementara nila? Ia hidup di air keruh yang berlumpur, menggeliat di antara limbah dan kotoran. Di mata banyak orang Jepang, nila adalah simbol kekotoran: amis menusuk, dagingnya dianggap rendah, bahkan menjijikkan.
Karena itu, meski populasinya membanjiri sungai, nila tetap tersingkir. Gk pernah menyentuh restoran mewah, gk pernah dijajakan di pasar tradisional, bahkan sering diperlakukan sebagai hama yang harus dibasmi.
Bukan karena ikan itu sendiri yang buruk… tapi karena budaya dan cara pandang yang berbeda