@BosPurwa Laahh pak emg berani nagihnya?? Jeng sri yg udah berabad2 aja di tutup mata dan mulutnya. Di tunggu realisasinya aja sih pak, jgn cm cari simpatisan 😌
Nikel karena banyak di butuh kan oleh industri industri sekarang ini , sering di sebut emas hijau . Di sebabkan oleh harga nya yang mahal .
Bisnis nikel sangat menjanjikan sekarang ini karena merupakan komponen mobil listrik dll . Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai persediaan nikel terbesar di dunia.
Tapi sayang sekali , penjualan nya tidak menguntungkan warga nya . Bahkan sering nya penambangan nikel atau pun sumber daya alam lain nya sangat ugal ugalan , tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem dan kelestarian alam sekitar .
Akibat nya karena pertambangan banyak hutan yg dibabat habis , udara yang tercemar dan tidak sehat di hirup , juga air sungai dan laut yang tercemar .
Jadi , sebenar nya pertambangan ini buat siapa ?
Tahun baru, HABIT baru!
1. Tidur di bawah jam 11 malam
2. Ga begadang
3. Olahraga 4–5 x/minggu
4. Mulai giat makan sayur & buah
5. Jalan kaki >5000 langkah/hari
6. Latihan kelola stres
7. Jangan telat makan lg
8. Kurangi junk food
9. Rajin minum
10. Cari hobi
Bisa gak nih 😍
NEGERI PARA BEDEBAH
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yg para pemimpinnya hidup mewah sedang rakyatnya makan dari mengais sampah
Menipu rakyat dng pemilu menjadi lumrah
Karena cuma penguasa yg boleh marah
Sedang rakyat hanya bisa pasrah
“Moralitas dan Kemajuan Ekonomi”. Sebuah artikel ilmiah yang mengkritik budaya hedon dan mewah para pejabat negara (beserta keluarga) saat rakyat terengah-engah kondisi sosial ekonominya. Ditulis oleh :
PROF. GUDONO (Alm). Alfatihah untuk beliau, seorang ekonom dan pemikir dari UGM yang sangat peduli kemajuan ekonomi rakyat yang berakar pada ETIKA dan Moralitas. Sangat disegani di
masa hidupnya 🙏🙏
Dibuka dengan sebuah puisi yang sangat menohok berikut ini:
“Tahukah kamu ciri-ciri negara para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dan mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
dibayar dengan serapah dan bogem mentah”