I saw a video of a people who says Gita Savitri shouldn't have mixed language. I mean, what's the problem of mixing Indonesian-English? It doesn't really matter. She can mix any language she wants, it's her content anyway. That's so harmless, oh my God
We study the impact of e-money on cash demand in Indonesia. E-money adoption is associated with lower cash demand. Moreover, the effect is heterogeneous across regions and denominations.
Happy reading!
https://t.co/N0S0kdLkA0
Sometimes the jokes just don't sit right with me. It's offensive, how come it's funny? Fun fact, I laugh easily, even some of my friends find it not funny, I can laugh out loud as if it's the most hilarious thing in the world. But not when it comes to offensive jokes.
What do you think of cutting off people whose value, mindset, ethics, and stance don't align with you? It's against yours; contradicts with what you stand for
Hampir semua yang dikhawatirkan Marx—yang dikeraskan kembali oleh Tan—ada pada logika Kemendikti; ilmu pengetahuan dikerdilkan menjadi komoditas pasar, bukan lagi suluh pembebasan bagi manusia.
Hebat, kita udah di titik dimana fungsi pendidikan direduksi jadi semata pencetak buruh (murah) untuk industri
Persetan soal esensi pendidikan untuk mendidik individu kritis dan punya agensi sosial!
Rezim ini gak mau kalian kritis, maunya kalian jadi buruh murah!
Mari coba mulai dengan pertanyaan sederhana: Prodi apa yang tak relevan dengan industri itu?Dan kenapa tak relevan dengan industri?
Dalam pandangan ku, banyak prodi di Indonesia itu tak relevan dengan industri, bahkan termasuk yang STEM. Contohnya? Filsafat, Sastra murni, Sosiologi non-terapan, sampai beberapa STEM seperti Matematika murni, Kimia teori, Fisika.
Lulusannya sering numpuk, akhirnya kerja di luar bidang atau malah nganggur.
Tapi mari kita jujur.
Apakah prodi-prodi tersebut tidak sesuai dengan industri, atau industrinya tidak ada sehingga ilmu mereka tidak terpakai?
Dan tugas siapa untuk membuat industri itu ada?
Apalah gunanya nebang jutaan hektar hutan untuk perkebunan kelapa sawit; bikin masyarakat adat, gajah, dan orangutan kehilangan ruang hidup; bikin ratusan orang kena ISPA karena kabut asap; dan harga minyak goreng tetep mahal??
Di Indonesia, nilai seorang pendidik itu rendah.
Sampe nangis darah minta gaji layak puluhan tahun, Pemerintah blg ngga ada anggaran.
Eh, buat MBG ternyata banyak sekali anggaran pusat.
Eh, buat Gedung Sate dan Gasibu ternyata banyak sekali anggaran daerah.
Bro literally points out the main issue. “sementara kebutuhan calon guru hanya 20.000.” THAT is the problem, dumbass. Schools were not distributed evenly, there are many places (especially pelosok, 3T, and so on) don't have school.
Belum lagi, orang-orang dari jurusan kependidikan bisa menjadi guru hanya dengan PPG aja; WHEN IN FACT people from education major needs to finish four year of studying and they have to finish PPG as well. Banyak lulusan keguruan yang akhirnya tersingkirkan.
Dan harusnya para pejuang UTBK bisa mengerjakan UTBK cukup dengan materi yang diajarkan di sekolah, tanpa harus belajar materi2 lain yang aksesnya cuma ada di luar sekolah/bimbel/aplikasi belajar 😢
@flamelessbean Basically all. Biografi penulis memang unsur ekstrinsik dari sebuah novel atau buku bacaan, tapi kepribadian seseorang belum tentu berkaitan dengan karya tulisnya
Why would we boycott artists’ works because the artist is problematik? Can't we separate the work and the artist?? Selama bukan karya mereka yang kontroversial (misalnya mempermainkan unsur agama sebagai simbol estetika, narasi misoginis di novel
Kepo karena baru saja melihat suatu hal yang kontroversial dari penyanyi yang kusukai. Aku jadi berpikir, apakah karyanya (yang menurutku bagus) harus di-cancel?
My hot take that's actually so controversial. A diamond is still a diamond even we found it from garbage. Even the writer states bunch of nonsense, problematic, controversial things; their work has nothing to do