Bapak Stoikisme Dunia, Murid Kesayangan Seneca: Ohim Lutung dari Kedunghalang.
BAB I: Kelahiran Sang Lutung
Di sebuah desa yang namanya sengaja tidak disebut demi keamanan KTP (Kedunghalang), lahirlah seorang anak bernama Ohim.
Konon, sejak kecil ia sering menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong seorang filsuf yang sudah tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, termasuk privasi data kependudukan.
Seneca, sang filsuf Romawi, dalam mimpinya pernah berkata:
"Suatu hari nanti, akan lahir seorang murid dari Timur. Ia akan menguasai amarah, menguasai hawa nafsu, namun gagal menguasai pengaturan privasi di Facebook."
Para sejarawan percaya, murid itu adalah Ohim.
BAB II: Ajaran-Ajaran Sang Filsuf
Ataraxia (Ketenangan Jiwa)
Stoikisme mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan peristiwa eksternal, hanya respons kita terhadapnya. Ohim memahami ini dengan sangat dalam.
Ketika KTP-nya tersebar ke seluruh penjuru jagat maya dan dijadikan template meme oleh 200 juta rakyat Indonesia, Ohim tidak goyah.
Ia hanya berkata, dengan ketenangan seorang Marcus Aurelius:
"NIK boleh tersebar. Tapi jiwa tetap merdeka."
Murid-muridnya mencatat ini sebagai Meditation XIII, bab yang Marcus Aurelius sendiri tidak sempat menulisnya.
Amor Fati (Mencintai Takdir)
Seorang Stoik sejati mencintai takdirnya. Bahkan ketika takdir itu berbentuk seorang pria cosplay yang siaran langsung dengan koneksi 3 bar.
"Apa yang menimpaku adalah bagian dari Logos" ujar Ohim, "termasuk doxxing."
Trikotomi Ohim
Epictetus membagi dunia menjadi dua: yang dalam kendali kita, dan yang di luar kendali kita. Ohim menyempurnakannya menjadi tiga:
1. Yang dalam kendali kita: respons batin
2. Yang di luar kendali kita: opini orang lain
3. Yang sudah terlanjur tersebar dan tidak bisa ditarik lagi: KTP yg beralamat di Kedunghalang
Para akademisi menyebut poin ketiga ini sebagai terobosan terbesar Stoikisme sejak abad pertama Masehi.
BAB III: Tersebarnya Lembaran Suci (KTP)
Maka tibalah hari yang dicatat para sejarawan sebagai tragedi terbesar sekaligus ujian terbesar, dalam hidup sang filsuf.
KTP Ohim tersebar luas. Ke seluruh penjuru negeri. Menjadi mainan, menjadi template, menjadi bahan tertawaan seluruh lini masa.
Dunia mengira sang Lutung akan hancur. Tapi seorang murid Seneca tahu satu hal: bahwa yang membuat manusia menderita bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan penilaian kita atasnya.
"Mereka memegang doksli KTPku" sabda Ohim, "tapi mereka tidak akan pernah memegang jiwaku."
@ardianpancaa@rad1oakt1f@0tk0il Saran bang, pake bookmark
Supaya link selalu sama
Kemudian selalu double check url sblm isi data, ini gue lakuin selalu tiap mau regist/login
@kerissakti aseli ko, di twitter kan isinya text, sering bgt liat orang adu opini padahal isinya logical fallacy melawan logical fallacy lainnya😂
perihal negara ini, yah gimana yah perlu panggil thanos keknya, tp bukan 50%, 80%😅
💥DEMO OUT NOW💥
Montabi’s first ever demo is now LIVE!
🃏 Monster taming x roguelike deckbuilder
🐱 Distinct playstyles & evolution of Montabi
♟️ Turn-based street battles with grid system
Play Now! ➡️ https://t.co/GBesbVr2N4
🎉 That’s a wrap on Montabi’s playtest 🎉
HUGE thanks to everyone who played and shared your thoughts with us! We’re grateful for your feedback and it’s helping shape what’s next.
Stay tuned for an improved Montabi soon!
@wordfangs So Elden was your first?
I think DS3 has oldest technology which make it quite hard to control, resulting "harder" mechanics
ER as the newest and yeah, its soulslike that is designed for welcome those who never tried soulslike genre