@kring_pajak Transaksi nya dengan WP biasa bukan WAPU. Ya saya coba fitur tsb namun saat saya ambil sample dari Bulan Januari, kolom dimaksud masih kosong tanpa keterangan apapun. Berbeda dengan kolom dilaporkan olh penjual yg terisi keterangan Ya
@kring_pajak Min, kenapa unttuk status mengenai pelaporan PPN Keluaran oleh Pemungut PPN tidak dapat diketahui di Coretax? Demikian pula halnya dengan status Dikreditkan?
@disdik_jabar Ini PCMB kok kayak undur undur ya. Waktunya mundur lagi sudah ke 2 kalinya. Dan kenapa masa input data nya juga ditambah waktunya? Ini yang jadi fokus utamanya, kalau waktu verifikasi ditambahin bisa jadi lebih masuk akal. @DediMulyadi71@Kemdikdasmen
@disdik_jabar mohon infonya untuk skor yang tercantum pada info sekolah di spmb maung 2026, rumus perhitungannya seperti apa ya? Saya coba bandingkan dengan penjelasan sosialisasinya tidak sama angkanya?
They didn't kill the cancer. They told it to go home.
A team of Korean scientists at KAIST just pulled off something that sounds like science fiction.
Instead of nuking colon cancer cells with chemo or radiation, they convinced them to turn back into normal, healthy colon cells.
No killing. No collateral damage. Just a quiet U-turn at the cellular level.
Here's how it works.
Led by Professor Kwang-Hyun Cho at the Department of Bio and Brain Engineering, the team built a "digital twin" of the gene network that controls how a normal cell becomes cancerous.
They ran simulations. They hunted for the exact moment a healthy cell flips into a malignant one.
Then they found the switches.
Three master regulator genes — MYB, HDAC2, and FOXA2 — were the keys to the whole transformation.
Flip those switches back, and the cancer cell stops behaving like a cancer cell. It starts looking and acting like a normal enterocyte, the kind of cell that lines a healthy intestine.
No gene editing. No permanent rewiring. Just the body's own natural signals, used in reverse.
The team confirmed it in molecular experiments, cellular experiments, and animal studies. The malignant cells stopped multiplying out of control and went back to doing their actual job.
The research has already been handed off to a company called BioRevert Inc. to develop into real-world treatments.
This isn't a cure tomorrow. But it rewrites the entire playbook for how we think about cancer.
You don't always have to destroy the enemy.
Sometimes you just have to remind it who it used to be.
Source: KAIST / Advanced Science (Gong et al., 2024) via ScienceDaily and OncoDaily
Protesters in Greece TOOK OVER the building facing the Israeli embassy, raised the Palestinian flag, and demanded FREEDOM for Palestine while condemning Israel’s genocide in Gaza.
Not first time, nor second, nor third time Israel deliberately targeted first responders in a double tap—First they killed a father and his daughter, then targeted the ambulances that arrived.
What further evidence does the ICC need beyond a video of a war crime from the scene.
☕️ Kabar bangga buat pecinta kopi Indonesia!
Sembilan merek kopi Indonesia berhasil masuk daftar World Best Coffee 2026 versi TasteAtlas. Prestasi ini membuktikan bahwa kopi Indonesia semakin diakui dan mampu bersaing di level dunia.
Berikut daftar 9 merek kopi tersebut:
1. Gayo Kopi Luwak – Sumatera
2. Akasa Coffee Honey – Kintamani, Bali
3. Wahana Estate Indonesia – Sidikalang, Sumatera
4. Seven Bika Coffee Java Preanger – Jakarta
5. Toarco Toraja – Sulawesi
6. Puntang Coffee – Cimaung, Jawa Barat
7. El’s Coffee – Bandar Lampung
8. Kopi Luwak Authentic – Semarang
9. Mandailing Estate Coffee – Kuta, Bali
🚨Footage reveals a mass grave at Nasser Hospital in Gaza containing victims killed by the Israeli army after the hospital was devastated during Israel’s assault.
Di usia 72 tahun, ia tidak mencuri untuk serakah, ia hanya mengambil sedikit getah karet agar istri dan cucunya tak kelaparan. Saat tak ada yang mau menolong, hukum datang lebih dulu daripada belas kasihan. Semoga keadilan hadir dengan hati, agar Kakek Mujiran bisa menghabiskan sisa usianya di rumah, bukan di balik jeruji.
#KeadilanBukanHanyaAturan
Sebenarnya suka dan tidak suka itu menjadi hak pribadi. Tapi, kalau kata guru agama waktu aku sekolah dan dosen PAI-ku jaman kuliah S1 itu....
Pertama, soal berjamaah 27x dibanding sendiri. Di masa awal Islam, salat berjamaah bukan sekadar ritual kolektif. Masjid adalah pusat pendidikan, musyawarah, distribusi bantuan, hingga koordinasi saat komunitas Muslim berada dalam tekanan dan ancaman perang. Di Madinah, umat baru saja hijrah, rentan, dan berkali-kali menghadapi konflik seperti Badar, Uhud, hingga Khandaq. Dalam konteks itu, berjamaah membangun kohesi sosial, disiplin, solidaritas, dan rasa persatuan lintas status sosial. Jadi kalau diberi nilai lebih, logikanya bisa dipahami sebagai spiritual incentive untuk membangun komunitas yang kuat, bukan karena ibadah sendirian tidak bernilai.
Kedua, soal keutamaan lokasi seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Al-Aqsa. Ini juga sering disederhanakan jadi “koordinat geografis menentukan pahala”. Padahal dalam sejarah Islam, tempat-tempat itu punya makna karena perjuangan dan pengorbanan besar yang terjadi di sana.
Makkah adalah tempat umat Islam awal mengalami penyiksaan, boikot ekonomi, kehilangan harta, bahkan dipaksa hijrah. Madinah menjadi tempat membangun masyarakat baru dalam kondisi terus terancam perang. Al-Aqsa punya posisi historis sebagai kiblat pertama dan simbol panjang sejarah para nabi serta perjuangan umat lintas generasi.
Jadi yang dimuliakan bukan “lokasi” yang seolah-olah punya efek magical, melainkan makna spiritual dan historis yang melekat pada tempat itu; ruang yang menjadi saksi pengorbanan, perjuangan, dan pembentukan peradaban.
Sebenarnya manusia juga melakukan hal yang sama di luar agama. Kita menghormati medan perang, makam pahlawan, monumen perjuangan, atau tempat bersejarah bukan karena koordinatnya spesial, tapi karena nilai, memori kolektif, dan pengorbanan yang melekat di sana.
Jadi menurut sepengetahuanku, kalau dikatakan “reward ibadah ditentukan lokasi” itu agak menyederhanakan persoalan. Dalam perspektif Islam, yang dihargai bukan sekadar tempat atau angka, tapi juga konteks sejarah, pengorbanan, dampak sosial, dan makna spiritual yang menyertainya.
CRAZY TESTIMONY: 🇫🇷🇮🇱 A French aid worker: “We found a mass grave in Gaza containing 300 bodies. Small children were killed with their hands tied behind their backs"
@ibamarief@TaliUdeng Apa jaksa ngga ngerti masalah saham yg sudah diberikan tidak akan hangus walaupun resign? Aneh emang aparat di indonesia ini. Mudah2an hakim bisa memutuskan dengan seadil2 nya