@submarine599@Imas_uni Yaa ini jg bener, d desa2 kecil bus itu seperti mitos wkwkwk gak bisa ngandelin apps atau bahkan jadwal yg ditempel aja kadang gak akurat
@gumikenyel@ieitasguitar Rekrutmen gak ribet, lamar, interview 1x, trus kalau ok, lgsg dpt tawaran buat ttd kontrak. Mulai kerja sesuai tgl ketersediaan kita. Tapi org sini sangat mengandalkan first impression. Kalau pas baca CV kurang sreg, ya los. Kalau pas interview, kurang sreg, los jg.
@ardisatriawan Ngasih tau aja, presiden Jerman beda ama Kanselir. Yg bikin kebijakan lgsg dan punya kekuatan politik lebih besar itu Kanselirnya, jd mau berbusa jg ngemeng ini itu ke Presidennya, belom tentu bisa lgsg diaplikasiin di kebijakan sehari2ny. Wkwkwkk
@ardisatriawan Selama di korea gak pernah kena rasisme. Di Jerman baru nyentuh tanah, dan dirasisin wkwk gak semua ngalamin hal yg sama, tapi itu dr pengalaman pribadi aja. Bahkan pernah ada 1 kolega d kantor bilang terang2an "Aku tuh cinta damai, itu tuh justru agama kamu yg suka picu perang"
@poissonajuice@KapudS640 Sistem di Jermannya jg gt kok ada Kaution (uang deposit) karena tau kalau mereka sendiri barbar. Kan kebebasan selalu diutamakan.
Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke ๐ฎ๐ฉ, apalagi Dubes ๐ฎ๐ฉ di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
@footycinephile Ada sekitar ratusan cara menyimpul dasi. Dulu bapak gw ajarin bbrapa stylenya. Katanya kalau simpulnya dicopot, trus ditarik gak ngiket mati, artinya bener cara pake dasinya. Dan dr semua cara simpul dasi yg pernah gw coba, emang bener pas dicopot dan ditarik gak akan ngiket mati
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.