Sarah Sechan melalui postingan Threads-nya.
"Gak usah ditanya lagi kenapa si A tone deaf, si B gak pernah kritik kondisi sekitar yg acakadut, si C joget2 sambil cengar-cengir. Cukup lihat latar belakang keluarga, siapa pasangannya, duitnya dari mana, atau siapa saja di circle pertemanannya. Jelas kan. Semua ada di bubble-nya sendiri dan punya kepentingan masing2. Untuk yang berani bersuara kita doakan supaya didengar dan terus bersuara sekeras mungkin sampai ada perubahan, sampai kita punya pemimpin yang dihormati semua lapisan masyarakat.”
Ketika anak sudah berkata “ngga” untuk memberi batasan, mengutarakan perasaannya dengan menangis misalnya, hendaknya kita validasi perasaannya, bukan ketawa-ketawa dan “ngga papa, ngga papa, gitu doang kok” seolah yang anak rasakan salah dan gak tepat.
Dibully temannya.
Dipermalukan gurunya.
Harusnya ditemani buat konseling, karena anak ini justru korban.
Bukannya diperlakukan kayak teroris.
Lha wong yang meneror itu justru dari sekolahnya.
Gak kebayang apa yang dia lalui sampai seputus asa itu dan membakar sekolahnya. 😮💨