Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼
Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam.
Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang.
Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar.
Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali.
Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan.
Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana.
Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan.
Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam.
Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami.
Tolong, suarakan ketidakadilan ini.
Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi.
Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka.
Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Trump dan Netanyahu adalah maniak yang menyeret dunia menuju kehancuran.
Prabowo sedang membawa Indonesia jadi pelayan dan pengikut mereka.
Orang-orang ini berbahaya bagi peradaban dan kemanusiaan.
I am a diplomatic aide in the Sultanate of Oman's Ministry of Foreign Affairs.
My job is logistics. When two countries that cannot speak to each other need to speak to each other, I book the rooms. I prepare the briefing materials. I make sure the water glasses are the right distance apart. You would be surprised how much of diplomacy is water glasses. Too close and it feels informal. Too far and it feels like a tribunal. I have a chart.
We had a very good month.
Since January, Oman has been mediating indirect talks between the United States and Iran on Iran's nuclear program. The talks were held in Muscat and in Geneva. The Americans would sit in one room. The Iranians would sit in another room. I would walk between them. My Fitbit says I averaged fourteen thousand steps on negotiation days. The hallway between the two rooms at the Royal Opera House conference center is forty-seven meters. I walked it two hundred and twelve times in February. This is good for my cardiovascular health. It was less good for my knees. Both are in the service of peace.
By mid-February, we had something.
Iran agreed to zero stockpiling of enriched uranium. Not reduced stockpiling. Zero. They agreed to down-blend existing stockpiles to the lowest possible level. They agreed to convert them into irreversible fuel. They agreed to full IAEA verification with potential US inspector access. They agreed, in the Foreign Minister's phrase, to "never, ever" possess nuclear material for a bomb. I have worked in diplomacy for seven years. I have never seen a country agree to this many things this quickly. I made a spreadsheet of the concessions. It had fourteen rows. I color-coded it. Green for confirmed. Yellow for pending. By February 21 the spreadsheet was entirely green. I printed it. It is on my desk in Muscat. It is still green.
That phrase took eleven days. "Never, ever." The Iranians initially offered "not seek to." The Americans wanted "will not under any circumstances." We landed on "never, ever" at 2:14 AM on a Tuesday in Muscat. I typed the final version myself. I used Times New Roman because Geneva prefers it. The document was fourteen pages. I was proud of every comma.
Here is what they said, in the order they said it.
February 24: "We have a once-in-a-generation opportunity." — The Foreign Minister, private briefing to Gulf Cooperation Council ambassadors. I prepared the slide deck. Slide 14 was the implementation timeline. Slide 15 was the signing ceremony logistics. I had reserved the Palais des Nations in Geneva, Room XX. It seats four hundred. We discussed pen brands for the signing. The Iranians preferred Montblanc. The Americans had no preference. I ordered twelve Montblanc Meisterstucks at six hundred and thirty dollars each. They arrive on Tuesday.
February 27, 8:30 AM EST: "The deal is within our reach." — The Foreign Minister, CBS Face the Nation. He sat across from Margaret Brennan. He said broad political terms could be agreed "tomorrow" with ninety days for technical implementation in Vienna. He said, and I wrote this line for the briefing card he carried in his breast pocket: "If we just allow diplomacy the space it needs." He praised the American envoys by name. Steve Witkoff. Jared Kushner. He said both had been constructive.
I watched from the Four Seasons Georgetown. The minibar had cashews. I ate the cashews. They were nineteen dollars. The most expensive cashew I have ever eaten. But it was a good morning and we were within our reach.
February 27, 2:00 PM EST: Meeting with Vice President Vance, Washington. The Foreign Minister presented our progress. Zero stockpiling. Full verification. Irreversible conversion. "Never, ever." The Vice President used the word "encouraging." His aide took notes on an iPad. The aide did not make eye contact for the last nine minutes of the meeting. I noticed this. Noticing things is the only part of my job that is not water glasses.
February 27, 4:00 PM EST: "Not happy with the pace." — President Trump, to reporters.
Not happy with the pace.
We had achieved zero stockpiling. Full IAEA verification. Irreversible fuel conversion. Inspector access. And the phrase "never, ever," which took eleven days and cost me two hundred and twelve trips down a forty-seven-meter hallway.
Every American president since Carter has failed to get Iran to agree to this. Forty-five years.
Not happy with the pace.
February 27, 9:47 PM EST: The Foreign Minister's flight departs Dulles for Muscat. I am in the seat behind him. He is reviewing Slide 14 on his laptop. The implementation timeline. Vienna technical sessions. The signing ceremony. The pens.
I fall asleep over the Atlantic. I dream about water glasses.
February 28, 6:00 AM GST: I wake up to push notifications.
February 28: "The United States has begun major combat operations in Iran." — President Trump.
Operation Epic Fury. Coordinated airstrikes. The United States and Israel. Tehran. Isfahan. Qom. Karaj. Kermanshah. Nuclear facilities. IRGC bases. Sites near the Supreme Leader's office. Israel called their half Operation Roaring Lion. Someone in both governments spent time choosing these names. Epic Fury. Roaring Lion. I spent eleven days on "never, ever." They spent it on branding. The President said Iran had "rejected American calls to halt its nuclear weapons production."
Rejected.
Iran had agreed to zero stockpiling. Iran had agreed to full verification. Iran had agreed to "never, ever." Iran had agreed to everything in a fourteen-page document that I typed in Times New Roman.
The President said they rejected it.
I do not know which document the President was reading. I know which one I typed.
February 28, 18:45 UTC: Iran internet connectivity: four percent. — NetBlocks, confirmed by Cloudflare. Ninety-six percent of a country went dark. You cannot negotiate with a country at four percent connectivity. You cannot negotiate with a country that is being struck. You cannot negotiate. This is not a political opinion. This is a logistics assessment.
February 28: The governor of Minab reported forty girls killed at an elementary school.
I do not have logistics for that. There is no slide for that. The water glass chart does not cover that.
February 28: Lockheed Martin: up. Northrop Grumman: up. RTX: up. Dow futures: down six hundred and twenty-two points. Gold: five thousand two hundred and ninety-six dollars. An analyst at AInvest published a note titled "Iran Strikes: Tactical Plays." The note recommended positions in oil, defense stocks, and gold.
The most expensive cashew I have ever eaten was nineteen dollars. The most expensive pen I have ever ordered was six hundred and thirty dollars. The math suggests I have been working in the wrong industry. Defense stocks do not require water glasses. Defense stocks do not require eleven days. Defense stocks require one morning.
February 28: Israel closed its airspace and its schools. Iran launched retaliatory missiles toward US bases in the Gulf. The Supreme Leader promised a "crushing response." Israel's defense minister declared a permanent state of emergency. Everyone is using words I recognize in an order I do not. I recognize "permanent." I recognize "emergency." I do not recognize them next to each other. In diplomacy, nothing is permanent and everything is an emergency. In war it is the reverse.
February 28: The Foreign Minister has not made a public statement.
The briefing card is still in his breast pocket. It still says "within our reach."
Matel mati terus teman matel dendam kemudian merusak dagangan di lokasi matel mati ?
1. Matel adalah kriminal harusnya ditindak
2. Tidak satupun tersangka matel dan pelaku perusakan dagangan di kalibata ditahan .?
Kok kuat sekali matel ini?
Jahannn.....
PBNU itu contoh elit-elit ormas agama yang sibuk jadi mesin politik kekuasaan.
Alih-alih memperkuat umat, mereka hidup dari menempel dan memperkuat rezim demi rezim. Lalu saling berebut remah-remahan.
Anak-anak muda NU yang sudah lama gelisah dan muak, perlu melakukan sesuatu.