It’s been three weeks, and I’m still figuring out these feelings.
I do miss the life I had before, the version of me I used to be.
But I’m so grateful for my son—my sunshine. I love him so much.
lets just learning to hold both at the same time.
-rl TW // Cheating , 🔞
aku udah 10JTx putusin dia tapi dia selalu ada cara buat balikan. sekarang aku jalanin rls sm dia cuma krn kasian. 3 bulan ini aku selalu marah ke dia. menurut kalian wajar ga aku jadi jahat? dia selalu ngeluh kalau masih suka bawa2 his past.
Bukan red string theory tapi
Aku cuma pernah ngobrol 3-4 kali dalam 2 tahun sama partnerku. Aku kerja full WFH makanya jarang ketemu apalagi ngobrol sama dia yang beda divisi. Ditambah waktu itu juga kita lagi punya pasangan.
Sekitar 2-3 tahun setelah aku kerja di company itu, aku kebagian jadwal WFO sekali seminggu. Agak ngebantu bikin aku 'sibuk' karna waktu itu kebetulan abis patah hati. Dari setiap pertemuan seminggu sekali itu mulai banyak percakapan yang terjadi.
Dia udah kerja di kantor itu dari 2015 sedangkan aku di tahun 2017 lagi magang di tempat lain yang mana ternyata aku selalu ngelewatin kantor dia.
Setelah 2 tahun bareng, kita mutusin buat bekerjasama seumur hidup lewat perjanjian yang disebut 'menikah' dengan landasan saling mencintai.
Semua itu terjadi persis setelah aku berdoa pengen ketemu orang yang emang udah kenalan aja. Capek kalau ketemu orang baru lagi.
Agak gila aja gitu kalau kusimpulkan.
Dia nyaris nikah sama yang lain
dan aku masih terjebak htsan setahun (jangan ditanya detailnya, ini pait banget)
Kayak.. kenapa gak kenal dari awal aja gituuuuuuu. Konsep jodoh ini emang selalu bikin takjub.
Tapi ya namanya juga berpetualang. Harus berlayar sejauh mungkin dengan pasang surut ombak sampe akhirnya berlabuh dan menetap.
valid, when commute dari ponkel ke slipi literally tidur di sabtu sampe minggu setelah senin sampai jumat berangkat jam 8 pagi pulang jam 8 malem lagi tuh yaAllah enak banget!
Gw punya temen namanya si A, tinggal di Bekasi kerja di Sudirman.
Senin sampai Jumat rutinitasnya sama terus.
Bangun setengah lima pagi.
Siap siap.
Berangkat sebelum jam enam karena kalau kesiangan macetnya tidak manusiawi.
Sampai kantor jam tujuh.
Kerja sampai jam lima sore.
Sampai rumah jam tujuh atau delapan malam.
Dua jam lebih di jalan.
Tiap hari.
Pulang pergi.
Dan ini bukan keluhan dia ini memang realita yang dijalani jutaan orang yang tinggal di penyangga Jakarta setiap harinya.
Jadi waktu weekend datang orang lain mungkin langsung mikir mau hangout ke mana.
Si A mikir hal yang berbeda.
Sabtu pagi dia bangun siang.
Tidak ada alarm.
Tidak ada jadwal.
Buka Netflix yang episodenya sudah lama tidak dilanjutin.
Siapkan snack.
Dan tidak kemana mana sampai Minggu malam.
Dan dia bahagia.
Genuinely bahagia.
Bukan karena dia antisosial.
Bukan karena tidak punya teman.
Tapi karena dia paham persis apa yang paling dia butuhkan setelah lima hari menguras energi di jalan dan di kantor.
Kita hidup di kota yang desainnya tidak ramah waktu. Jarak rumah ke tempat kerja yang tidak masuk akal. Transportasi yang belum cukup untuk semua orang. Dan budaya kerja yang masih menganggap hadir lebih awal dan pulang paling telat sebagai tanda dedikasi.
Akibatnya banyak orang yang secara fisik ada di rumah tapi energinya sudah habis sebelum sampai pintu.
Dan weekend bukan lagi soal hiburan atau eksplorasi.
Tapi soal pemulihan.
Jadi kalau ada yang nanya memang ada orang yang genuinely senang di rumah seharian sendirian tanpa ketemu siapapun?
Jawabannya ada.
Banyak malah.
Dan mereka bukan aneh atau kurang pergaulan.
Mereka cuma orang yang sudah terlalu lelah oleh perjalanan yang bahkan belum dimulai sebelum matahari benar benar terbit.
@tanyakanrl ga too much. pantes digituin krn suami km emg gabecus jadi suami dan ayah. ngapain nikah kalo gakasih nafkah. entah maksud km di situ orangtua suami tuh ayah dan ibunya ato salah satunya aja, tp aku mau drop screenshoot an ini👇🏻
"Panggil orang HRD ke sini dong. Kita butuh gantiin IT support lama yang baru resign."
"Oke Pak"
***
"Ada apa Pak?"
"Kita butuh 1 orang IT support."
"Nyari yang gimana Pak?"
"Kita butuh yang lincah, yang muda, jadi umur maksimum 24 tahun."
"Oke, apalagi Pak?"
"Lulusan S1 kampus ternama."
"Terus?"
"Jangan yang freshgrad amat, pengalaman minimal 4 tahun."
"Oke Pak. Nanti kita pasang iklannya."
***
"Pak kita mau pasang iklan di portal, tolong dikonfirmasi:
Dicari IT support, lulusan S1 kampus ternama, umur maksimum 24 tahun, pengalaman 4 tahun."
"Mantab, pasang di job portal hari ini juga."
"Gajinya gak usah dipasang?"
"Gak usah. Kalau ada yang lamar, walaupun gak kepenuhi semua syaratnya, kasih tahu saya."
"Oke Pak"
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Pengalaman Pak, 5 tahun di perusahaan kompetitor kita."
"Dih, gak akan kuat bayar gajinya, yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Ada sih pengalaman, cuma 1 tahun di perusahaan sebelah."
"1 tahun mah sama aja freshgrad, yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Freshgrad Pak."
"Gak ada pengalaman sama sekali? Magang gitu?"
"Gak ada Pak."
"Cari yang lain aja."
***
"Pak, ini ada yang lamar."
"Freshgrad apa udah pengalaman?"
"Mau internship Pak."
"Oh, ada pengalaman internship apa magang gitu di tempat lain?"
"Gak ada Pak."
"Cari yang lain aja."
***
"Kita udah pasang iklan sebulan lebih kan?"
"Iya Pak."
"Belum ada yang apply lagi?"
"Belum Pak."
"Susah bener cari karyawan sekarang."
***
"Pak, saya mau resign."
"Hah? Baru juga tiga bulan kerja di sini? Mana susah lagi yang memenuhi syarat kaya kamu."
"Saya ngerasa disuruh jadi superman Pak, masa disuruh desain grafis, edit video, bikin poster di Canva, benerin lighting foto pakai Photoshop, ngoding python, setup web server, benerin printer, sampai pasangin kabel internet kantor."
"Kan itu emang kerjaan IT Support?"
"Tempat saya dulu gak segininya Pak. Mana saya pernah dihubungi jam 1 pagi buat ke kantor benerin printer orang-orang lembur. Udah tiga kali bulan ini doang."
"..."
"Saya mau cari tempat lain aja."
"..."
***
"Panggil orang HRD ke sini dong. Kita butuh gantiin IT support lama yang baru resign."
"Oke Pak"