Coba dipikir.
Cita2 pingin industrialisasi, bikin mobil dan ponsel sendiri
Tp belanja APBN Top 3 nya: BGN, TNI, Polri
Programnya: MBG, Kopdes, Gentengisasi
Budget R&D to GDP cuma 0,28%.
Preman di mana2. Kepastian hukum ga pasti.
Gimana industrialisasi dan investasi bisa jalan?
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish":
"Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024.
Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah.
Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar.
Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis.
Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya.
Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi.
Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk.
Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman.
Persimpangan jalan baru
Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu.
Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan.
Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
@abulmuzaffar10 Jadi kekhawatirannya valid, tapi framing “akan habis dlm X hari” sepertinya kurang tepat.
Yg lbh penting justru mendorong transparansi kebijakan energi dan kesiapan pemerintah menghadapi potensi kenaikan harga global.
Gw setuju kita sama2 kawal bagaimana pemerintah akan bersikap
Berakhirnya Era Dominasi Ekonomi AS
Gak kebayang ya, dunia sekarang berubahnya secepat kilat. Era dominasi AS akan berakhir
Barusan baca ulasan tajam di Financial Times soal tulisan Nicholas Mulder.
Intinya satu: era Amerika jadi "bos tunggal" yang bisa pakai economic warfare seenaknya sudah tamat.
Mulder ini bukan orang sembarangan, dia profesor di Cornell. Bukunya soal sejarah economic sanctions itu jadi rujukan kelas berat di mana-mana.
Dulu mah gampang, Amerika tinggal bersiul dengan financial leverage mereka. Ekonomi negara lain bisa langsung rontok kena blokade transaksi internasional.
Sekarang?
Senjata sanksi mereka itu malah sering kena backfire ke ekonomi mereka sendiri.
Coba lihat Rusia, meski kena massive sanctions ekonominya malah tumbuh 3,6% tahun lalu.
Mereka santai saja tuh, tinggal shifting ekspor minyak ke Tiongkok sama India.
Data memang gak bohong, bilateral trade Rusia-Tiongkok pecah rekor sampai 240 miliar dolar.
Tiongkok juga mulai galak, mereka pakai export controls untuk mineral penting.
Bahan kayak gallium sama germanium sekarang dijagain ketat banget sama Beijing. Padahal tanpa itu, defense industry Amerika bakal pusing bikin radar canggih.
Ini yang dibilang Mulder kalau negara-negara besar sekarang sudah berani counter-attack.
Mereka gak cuma bertahan, tapi mulai bangun alternative payment systems.
Dolar yang dulu dianggap "dewa" sekarang mulai luntur kesaktiannya di mata dunia.
Bank sentral banyak negara mulai kurangi forex reserves dalam bentuk US Dollar.
Tren de-dollarization ini nyata banget dan makin kencang arusnya. Negara-negara berkembang gak mau lagi kena secondary sanctions yang bikin susah napas.
Bayangkan saja, sekarang ada sekitar 12.000 entitas yang masuk blacklist Amerika. Tapi ya gitu, makin dilarang malah makin bikin negara-negara itu jadi self-sufficient.
Contohnya Iran, puluhan tahun ditekan tapi malah sukses bangun domestic industry militer. Tiongkok juga sama, gara-gara chip ban mereka malah nekat riset mandiri.
Huawei yang katanya mau bangkrut malah bikin kaget orang-orang di Silicon Valley. Mereka rilis HP baru pakai domestic chip yang speknya bikin Amerika melongo.
Risikonya gede banget, economic coercion kalau kebablasan bisa jadi pemicu perang beneran. Kalau sebuah negara merasa kena economic strangulation, ujung-ujungnya pasti angkat senjata.
Sejarah sudah pernah kejadian pas Jepang nyerang Pearl Harbor gara-gara oil embargo. Tekanan ekonomi itu seringkali jadi pintu masuk ke konflik fisik yang berdarah.
Sekarang kita sudah masuk era multipolar world, Amerika gak bisa lagi main perintah sendirian.
Mereka harus mau berbagi panggung sama emerging powers yang sudah jadi raksasa.
Intinya sih, trade war atau perang ekonomi itu gak pernah ada pemenang sejatinya. Yang ada cuma supply chain disruption yang bikin rakyat kecil di mana-mana jadi susah.
Harga komoditas melonjak dan global inflation menghantam banyak negara miskin. Analisis Mulder ini beneran jadi wake up call buat para pembuat kebijakan global.
Zaman keemasan unipolarity Amerika sudah lewat, kita harus siap hadapi dunia yang lebih rumit.
#GlobalEconomy #EconomicWarfare #Geopolitics2026 #FinancialTimes #Dedollarization #MultipolarWorld #USDominance #SanksiEkonomi #NicholasMulder
@worksfess Waktu sehari cuma ada 24 jam. Kerja 9 jam, commuting di jalan pulang pergi bisa 4 jam. 13 jam di luar rumah, 6 jam buat tidur. Sisa 5 jam doang buat jadi manusia.
bisa aja itu gw atau lu yg dilindes. you being silent about it doesn’t make you a good person. you being silent means you’re accepting this to happen—again :)
maaf ga terima opini LGBTQ+ 🙏
bodo amat mau dikatain homophobic, emang iya, suka2 gw lah.
lu LGBTQ+ aja suka2 lu, ya gw jijik sama LGBTQ+ jg suka2 gw. open minded kan? 😋