Gabriel Magalhรฃes provided the assist for Brazilโs equaliser (56โ). ๐ ฐ๏ธ
Gabriel Martinelli scored the winning goal for Brazil in stoppage time (90+6โ). โฝ๏ธ
THE ARSENAL. ๐บ๐ง๐ท
Kalau Arsenal kalah: "0 UCL wkwkwk."
Kalau Arsenal masuk final: "Runner-up doang."
Kalau Arsenal juara UCL: "Baru 1, kami udah 3/6/13."
Kalau Arsenal juara EPL: "Kami lebih banyak."
Kalau Arsenal unbeaten: "Era dinosaurus."
Kalau Arsenal treble: "Tapi nggak sextuple."
Jujurly, pendukung Arsenal tetap menikmati momennya. Mau ada yang balas "kami 13 gelar" atau "kami 7 UCL", ya monggo. Trofi yang baru diangkat tetap nggak berubah jadi hilang karena ada klub lain yang koleksinya lebih banyak.
Arsenalku sayang. โค๏ธ๐ค
@Arsenal
#WeAreTheArsenal
Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk menikmati permainan, merayakan kemenangan, dan tetap setia saat klub sedang terpuruk. Namun di era sekarang, muncul fenomena yang semakin sering terlihat, SIRIKISME. ๐
Fenomena ketika sebagian suporter atau fans tidak lagi fokus pada perkembangan klub yang mereka dukung, melainkan lebih sibuk memantau, mengomentari, dan berharap klub lain gagal juara. Ketika tim sendiri gagal meraih trofi atau prestasi, perhatian mereka tidak tertuju pada MASALAH klub yg mereka sukai.
Yang menjadi fokus justru berapa banyak trofi yang dimiliki rival, bagaimana cara meremehkan pencapaian mereka, dan kapan momen yang tepat untuk mengejek mereka.
"Padahal, keberhasilan klub lain tidak menghapus sejarah klub kita" ๐ค
Jumlah trofi klub yg udah dimenangkan tidak membuat koleksi berkurang satu. Namun bagi penganut SIRIKISME, melihat rival sukses sering kali terasa lebih menyakitkan daripada melihat timnya sendiri gagal.
Cirinya cukup mudah dikenali qo:
1. Lebih hafal kekalahan rival daripada kemenangan klub sendiri.
2. Muncul paling depan ketika rival kalah, lalu menghilang saat rival juara.
3. Menganggap setiap prestasi lawan sebagai ancaman terhadap harga diri pribadi.
4. Menjadikan kebencian terhadap rival sebagai identitas utama fandom.
5. Lebih sering membahas klub lain daripada klub yang mereka dukung sendiri.
Padahal esensi menjadi adalah tentang mendukung, bukan sekadar membenci.
Beberapa orang menonton bola untuk menikmati pertandingan.
Beberapa orang menonton bola untuk melihat pemain favoritnya berkembang.
Beberapa orang menonton bola untuk merasakan kebahagiaan ketika klubnya menang.
Tapi ada juga yang menonton bola hanya untuk menunggu klub lain terpeleset. Dan ketika rival terus berkembang, terus memenangkan trofi, dan terus menciptakan sejarah baru, mereka kehabisan bahan pembicaraan.
Ujung-ujungnya yang tersisa hanyalah membuka kembali arsip sejarah lama, mengulang cerita puluhan tahun lalu, dan hidup dalam kenangan yang semakin jauh dari realitas saat ini.
Masa depan dan sekarang tidak menarik bagi mereka.Karena satu-satunya tempat di mana mereka masih merasa unggul adalah masa lalu.
Kita tau sekarang sepak bola selalu bergerak ke depan. Generasi berganti, pemain berganti, pelatih berganti, bahkan dinasti pun berganti.
Kadang klub kita ada di fase jaya-jayanya. Tapi beberapa moment, klub yang kita cintai masuk kedelam jaman kegelapan atau dark era.
Yang terus hidup dalam nostalgia tanpa mampu menerima kenyataan hanya akan menjadi penonton dari sejarah yang sedang ditulis oleh orang lain.
PADA AKHIRNYA,
Klub juara mengangkat trofi ๐
Fansnya merayakan pencapaian klubnya ๐๐ค
Sedangkan penganut SIRIKISME,
mengangkat arsip, berharap masa lalu bisa mengalahkan kenyataan, menghabiskan waktu mengecilkan trofi, mencari celah untuk meremehkan prestasi, atau berharap keberhasilan itu terlihat tidak istimewa ๐ฅฒ
Arsenal: Terlatih untuk bangkit lagi
Arsenal tercatat 9 kali jadi runner up di kompetisi lokal. Catatannya:
Era Premier League (sejak 1992): 6 kali (1998/99, 1999/00, 2000/01, 2022/23, 2023/24, 2024/25). Lalu, Era Divisi Utama: 3 kali (1925/26, 1931/32, 1972/73).
Bersama Arteta, 3 kali berturut-turut, sebelum akhirnya jadi juara di tahun ini. Di mata saya, itulah kebanggaan tersendiri, ketika sebuah klub menjadi cermin, menjadi panutan. Bahwa di dalam kehidupan, orang yang berani bangkit untuk berjuang lagi, akan mendapatkan kebahagiaan pada saatnya.
Tahun lalu, Arsenal sampai di semifinal. Tahun ini, bermain di laga puncak. Lawannya sama, PSG yang monster itu. Melihat klub saya berani mencoba lagi, bahkan tahun ini tak terkalahkan selama 90 menit, membuat kekalahan ini terasa seperti reminder saja. Bahwa kalau kamu jatuh, pilihanmu adalah bangkit dan berusaha lagi.
Fans Arsenal yang baik. Dunia akan kejam kepadamu. Seharusnya, kita yang paling mampu menghadapi tekanan itu. Pengalaman, penerimaan, dan mentalitas untuk bangkit lagi, kita yang punya.
Malam ini, bersedih kita bersama. Melepaskan semua adrenalin dan kegelisahan. Esok pagi, ketika dunia semakin kejam, kita bisa bilang ke diri sendiri: "We go again. Over land and sea."
Be proud. COYG
Incredibly proud of every single player and member of the staff.
Head up Eze, head up Gabriel. You both are legends at this football club. We win and lose together.
Thanks for making us believe โค๏ธ
Ngga bisa dipungkiri kalau saya kecewa kita gagal lagi di Final ke dua ini.
Tapi, tetap bangga sama Arteta dan para pemain. Progress terus tiap musimnya, dari yang bisa balik main di UCL, tembus 8 besar, semi-final, sampai akhirnya bisa ke Final. Chin up, Eze, chin up, Gabi, chin up semua pemain Arsenal dan Arteta! Kalian sudah buat saya pribadi bangga banget sama pencapaian kalian di musim ini. We go again next year! OFC! Up the Arsenal!
Chin up, kalian semua! Jangan patas semangat!
fans Arsenal yang waras tidak akan menyerang Gabriel Magalhaes. kita sadar kok, tanpa Gabriel, Arsenal nggak akan juara Liga Inggris dan melangkah jauh sampai final. Bahkan dia main bagus sepanjang 120 menit.
Bagi kami, Gabriel sudah cukup berkorban dan memberi. We all love Big Gabi.