Lo baru sadar HPnya ilang, langsung buka Find My Device lewat laptop.
Last seen 5 jam lalu di Stasiun Gambir. Abis itu? Udah.
Nggak gerak lagi. Langsung offline.
Si maling langsung matiin internet biar ga ke trace. Itu cara jadul.
Dulu sampe situ doang.
Sekarang? Nggak lagi.
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
@wiyokooo@tanyarlfes Postingan gen z ini ntah apa2lah.
Segala habibi dibilang presiden terbaik.
Timorleste ekonomi lebih baik. Skrg bilang sumatera kalo merdeka lebih maju. Hadehh..
Orang-orang yang bersama Nabi Saw, engkau akan melihat mereka rukuk dan sujud demi mendapatkan ridha Allah Ta'ala.
Shalat adalah kuncinya. Sebenar-benarnya kunci.
Iblis Aja Konsisten, Masak Kita Tidak?
Di suatu alam yang tidak tampak, iblis sedang duduk di kursi goyang, sambil minum kopi hitam tanpa gula (karena dia suka yang pahit-pahit). Di depannya, ada whiteboard besar bertuliskan:
Target godaan bulan ini:
✅ Manusia A: sudah kufur ni'mat
✅ Manusia B: sudah unfollow ustadz.
⏳ Manusia C: masih istiqamah, kerja keras dikit lagi.
Sambil menyeruput kopi, dia tersenyum tipis, "Hmm… satu lagi sebelum dzuhur."
Iya. Iblis itu kerja keras.
Gak ada kata malas. Gak ada rebahan sambil nonton drakor terus bilang, "Nanti sajalah godanya, mood-nya belum dapet."
Nggak. Dia profesional. Full-time tempter. Konsisten banget. Gak pernah cuti, gak pernah resign. Bahkan gak nunggu tahun baru buat bikin resolusi. Iblis dari dulu ya gitu-gitu aja... tapi istiqamah.
* * *
Sekarang mari kita balik kamera ke manusia.
Scene: Seorang pemuda baru hijrah 3 hari.
Hari pertama: Baca Qur'an 1 juz.
Hari kedua: Setengah juz.
Hari ketiga: "Lagi pengen nyendiri dulu, muhasabah diri lewat story IG."
Hari keempat: upload reels dengan caption,
"Hidup tak selamanya tentang istiqamah. Kadang kita juga perlu healing."
Lah? Healing dari istiqamah?
Sementara itu, iblis hanya mengangkat alis:
"Hmm, mudah juga ya. Baru gue lirikin dikit, udah goyah."
Bayangkan, lawan kita itu iblis, makhluk yang kalah debat sama Allah tapi tetap ngotot sama pilihannya. Dia sudah dideklarasikan sebagai penghuni neraka, tapi... masih gas terus!
Kita? Baru dikatain "sok alim" di grup keluarga, langsung down iman seminggu.
Iblis sudah tahu bakal dibakar, tapi tetap rajin kerja lembur.
Kita sudah tahu surga itu nikmat luar biasa, tapi tetap milih skip subuh demi kelonin alarm.
Jadi…
Kalau suatu hari anda lagi males ngaji, males shalat, males taat, coba duduk sejenak dan bayangkan iblis sedang menertawai kamu sambil bilang, masa Lo kalah sama aku sih? Aku aja istiqamah, lo kok enggak?
Akhir kata: Jangan sampai nanti di akhirat, iblis bangga bilang ke Allah:
"Tuh kan, yang istiqamah cuma aku. Yang lain ngikut aku semua."
Padahal kamu sempat ikut pengajian. Sempat beli gamis. Sempat upload quote-quote ustadz.
Tapi semua itu tak berlanjut karena... kamu tidak seteguh iblis.
Yuk, istiqamah. Tapi yang bener. Yang menuju Allah. Biar iblis kecele.
-jOe
sepakat yik, beberapa tahun terakhir setelah PPS, mulai tertib pajak baik pribadi maupun untuk usaha, ya ternyata kalo dihitung bener dan dengan perhitungan sesuai aturan dan dibayarkan rutin ya menurutku pribadi “ga berat”.
yang sering jadi masalah itu kalo ga tertib, usaha uda membesar dan nilai perputarannya besar, otomatis pajaknya pun besar dan memberatkan karena kemungkinan perhitungannya ya generalisasi dari posisi omzet usaha terakhir ditarik mundur selama kwajiban pajaknya belum dibayarkan. dan diakumulasikan.
Kalo soal merasa “didzolimi” dalam hal pajak ini ya bukan rahasia lagi kalo dalam pelaksanaan dan perkembangan usahanya, beberapa fasilitas yang seharusnya bisa dinikmati wajib pajak itu tidak bisa dinikmati, contohnya proses perijinan, perlindungan usaha, dan beberapa lainnya yang lebih tampak mata daripada fasilitas2 yang sudah ada dan jadi penunjang berjalannya usaha yang yik Stakof tulis diatas.
Kenapa petugas pajak hanya datang ketika sukses? Padahal usaha sendiri, modal sendiri, kerja sendiri, tapi kenapa dipajaki ketika berhasil?
Mungkin ini opini gak populer, tapi petugas pajak memang harus datang ke pengusaha sukses.
Kenapa?
Kalau belum sukses, ya, gak kena pajak. Gak sukses itu kalau labanya nihil, atau bahkan merugi, jelas gak kena pajak, dong.
Perusahaan pribadi, jika omzetnya di bawah 500juta selama setahun, ya, gak kena pajak.
Jomblo, atau sudah menikah, sudah punya anak atau belum, jika penghasilannga tahunannya di bawah ketentuan, ya gak kena pajak.
PTKP, namanya.
Saya kurang tahu pekerjaan Ibu Anik ini apa, tapi dari ceritanya seperti punya bisnis katering atau warung makan (karena ada kata "cuci sendiri").
Di tengah Bu Anik merintis perusahaannya, para pelanggannya itu mungkin naik motor atau sepeda lewat jalan beraspal.
Pajak membantu pelanggan untjk sampai ke warung Bu Anik.
Warungnya buka malam hari, dan jalannya terang sehingga pelanggan bisa sampai warung.
Penerangan jalan yang membantu pelanggan sampai ke warung itupun dari pajak.
Pelanggan naik motor dengan BBM Pertalite, misalnya. Subsidinya juga pakai pajak.
Pelanggan datang melewati jembatan? Jembatan itu juga dibuat dari pajak.
Bahan-bahan warung Bu Anik, dari beras, minyak, gula, dan lainnya bisa stabil juga karena pajak dipakai membuat infrastruktur logistiknya.
Membuka warung dengan rasa aman, karena ada polisi dan TNI, nah, gaji mereka juga dari pajak.
Sebenarnya pajak itu berguna bagi bisnis Bu Anik. Dan kalau bisnisnya sukses, ya, memang harus bayar pajak.
Kecuali memang PTKP, ya, gak bayar.
Begitu, Mas @prastow?
😬
Kalau kalian beli kambing untuk kurban Iduladha, lalu spontan ngomong "ini kurban saya", maka kalian baru saja mengubah hukumnya.
Dari sunnah, jadi wajib.
Konsekuensinya: haram bagi kalian dan keluarga inti memakan satu suap pun dagingnya.
[UTAS] ⤵️
https://t.co/DpM3VODAxE
Halo.
Saya sering memakai kereta api untuk perjalanan rutin Semarang-Jakarta, dan sebaliknya. Di kereta, saya sering mendapati contoh seperti ini.
Dan salat seperti ini: tidak sah (jika yang dikerjakan adalah salat fardu).
Pertama, semangat shalatnya patut diapresiasi. Tapi harus diketahui bahwa salat itu ada fikihnya, dan contoh di bawah ini bisa jadi melewatkannya.
Berdiri (qiyam) adalah rukun salat fardu. Kecuali si Mas salat sunnah, maka tidak perlu berdiri (meski bukan di kereta, salat sunnah dengan duduk diperbolehkan).
Maka berdiri, meskipun sedang di kendaraan apapun (termasuk kereta), masih menjadi wajib bagi orang salat. Fikih menjelaskan: jika kalian mampu berdiri, ya wajib berdiri.
Ada pengecualian, tapi sempit:
1. Kalau kendaraannya terlalu bergoyan sehingga berdiri benar-benar membahayakan kalian,
2. Tidak ada ruang sama sekali untuk berdiri, atau
3. Khawatir waktu salatnya habis sementara turun tidak mungkin.
Sebagai pengguna setia KAI, saya cukup tahu betul umumnya sudah ada musala yang bersih di gerbong dekat restoran.
Kalau ada musala, dan fisiknya si Mas mampu berdiri, maka salat di kursi penumpang seperti ini: belum sah menurut kebanyakan ulama (jumhur).
Sekali lagi, niat si Mas sudah benar, dan harus diapresiasi.
Tinggal mengubah caranya saja.
🙏
Selesai sholat maghrib, tiba-tiba teringat kucing liar kurus yg datang ke penginapan di Probolinggo.
Dia datang hari ke-2, pagi dan malam. Kuberi topping ayam yg ada di nasi bakar dan daging.
Hari ke-3, kuberi daging.
Sedih kalo seandainya dia kurang makan lagi 😭.
Tapi tiba2 aku teringat: Bukan aku yg bisa memberinya makan, tapi Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.
Alhamdulillah tenang.
Hari ini gw hampir kena scam kartu kredit UOB senilai Rp 3 juta. Tapi gw malah balik ngerjain mereka, sampe mereka yang ngamuk ke gw 😂
ini pengguna-an vibe coding ga baik
Ini kronologi lengkapnya + bukti teknisnya. Baca sampe abis, bisa selamatin kamu atau orang terdekat. 🧵
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat.
Kartini dipermasalahkan karena Jawa.
Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda.
Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes.
Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka?
Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya.
Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan.
Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau?
Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu?
Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara.
Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan.
Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi.
“Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus.
Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!”
Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus.
---
Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan.
Selamat Hari Kartini
21 April 1879–17 September 1904
Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
@SebatYuks@sefkelik Mendirikan sekolah wanita Bumiputera pertama yang kemudian dikelola yayasan Kartini, meminta Al Quran diterjemahkan ke bahasa Jawa untuk pertama kali, mengkritik budaya patriarki dan meningkatkan emansipasi wanita, secata tidak langsung mendorong program politik etis
@Dennaaja_ Salah satu agenda paham radikal terorisme adalah mengaburkan sejarah dan menistakan pahlawan agar nasionalisme pudar. Kebohongan apapun itu jika dilakukan secara berulang kaya yg kamu lakuin skrg ini akan dipercaya juga akhirnya. Untunglah semua yg komen sdh pinter2. 😆
@Dennaaja_@gr8diazm Lu yang kaga paham bego Kartini mana mau kalo cuma dijadiin gundik orang dia pahlawan wanita yang mendidik wanita agar cerdas kok dia yang mau jadi gundik belajar dulu dek Yang bener buka buku IPS lu atau sejarah lu dulu minimal nonton filmnya aja dulu
@wiratamiang@sefkelik Ya ada. Tpi kan bisa dgn cara lain, bikin thread atau posting ttg beliau2 itu, saya jg senang bc kisah2 gt. Saya jg kagum pd Christina Martha T, Tjoet Nja Dhien. Mrk berjuang dgn cr masing2 sesuai dgn lingkungn mrk berada. Ga usah pke ngatain "gundik" yg trnyt ga bener jg.
@sefkelik Dari sekian pahlawan nasional, sptnya Sukarno & Kartini yg selalu rame dibahas flaw-nya, dikecilkan jasanya, seolah org2 lain jg bs melakukan, sering deh postingan2 berkedok unpopular opinion gni. Apakah mmg ada tujuan mendegradasi pahlawan2 nasional yg berasal dr Jawa?
Jadi ceritanya bbrp hari lalu tiba2 ibu gw nelpon. Dalam kondisi agak panik, katanya ga sengaja ngeklik undangan digital yg formatnya APK.
Langsung lah gw minta forward APKnya ke gw. Lalu gw coba bongkar untuk caritau apa yg dilakukan sama app tersebut.